Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Kenapa Aku Jadi Memikirkan Dia?


__ADS_3

Begitu pintu rumah mewah milik Frans terbuka, sepi langsung menyambut kedatangan pria itu. Frans berjalan masuk ke dalam rumah sambil tersenyum-senyum sendiri sebab mengingat tentang gadis yang tadi dia tolong. Hal tersebut tentu membuat sopirnya bingung tapi sopirnya tidak berani untuk bertanya.


Semenjak hari perpisahannya dengan Carlynda, Frans sudah semakin terbiasa dengan kesendirian. Ia tidak pernah merasa kesepian sama sekali meskipun hanya tinggal di rumah mewah seorang diri. Well, memang betul sopir dan asisten pribadi tinggal bersamanya. Tapi, mereka tidak tinggal di bagian rumah yang sama dengannya sebab Frans menyediakan sayap rumah khusus untuk para pegawainya supaya tidak ada yang mengganggu dirinya.


Melangkahkan kakinya naik ke atas tangga menuju ke kamar utama, Frans terus memikirkan kejadian tadi. Pria itu seolah tidak bisa melupakan bayangan gadis tadi dari ingatannya. Tentang bagaimana ekspresi takut gadis itu hingga bagaimana gadis itu dengan polos meminjam uang kepada sopirnya. Ah, gadis itu bahkan tidak berniat memanfaatkan Frans sedikit pun padahal kalau Frans pikir-pikir, gadis itu pasti tahu kalau kendaraan Frans adalah kendaraan mewah yang hanya dimiliki orang-orang kaya.


“Kenapa aku jadi memikirkan dia?” gumam Frans sambil melepas dasinya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ah, sudahlah. Lagi pula, aku dan dia tidak mungkin bisa bertemu lagi,” ucapnya cuek, berusaha menghapus ingatannya tentang kejadian malam ini.


Sementara itu, di sisi lain Kara baru saja tiba di sebuah gedung tingkat tiga di mana kafe sekaligus tempat tinggalnya bersama sang nenek berada. Di lantai satu adalah di mana kafenya berada sementara di lantai dua dan tiga adalah rumahnya. Kafe yang dimiliki oleh Kara adalah sebuah kafe keluarga yang telah menopang kehidupan Kara dan sang nenek selama ini.


Saat memasuki tempat tinggalnya, Kara mendapati sang nenek sedang duduk santai sambil menonton televisi. Lesyana, nenek Kara, mengerutkan dahi tatkala mendapati cucunya datang dalam keadaan kacau. Rambut Kara tampak sangat berantakan, riasan wajahnya juga telah acak-acakan.


“Kara, apa yang terjadi padamu, Sayang?” tanya Lesyana sambil bangkit berdiri.


Kara menghampiri sang nenek lalu mendaratkan pantatnya di sofa. “Aku baik-baik saja, Nek. Sepertinya aku minum terlalu banyak tadi jadi perutku rasanya sangat tidak nyaman dan aku muntah di jalan,” ucap Kara, berdusta. Gadis itu tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi kepada neneknya karena dia takut neneknya akan menjadi khawatir dan sedih.


“Ya sudah. Nenek akan membuatkan sup untuk menghilangkan mual di perutmu,” ucap Lesyana, tidak curiga sedikit pun sebab dia tahu kalau alkohol memang membuat perut tidak nyaman dan Kara butuh makanan berat untuk menghilangkan rasa mual tersebut.


“Nenek, tidak perlu repot-repot,” ucap Kara, melarang neneknya untuk pergi ke dapur. “Aku akan langsung tidur, pasti besok tidak apa-apa.”

__ADS_1


“Kara, Nenek juga dulu pernah muda. Kalau malam ini kau tidak makan sesuatu, besok pagi kau akan merasa sangat buruk,” balas Lesyana sambil terkekeh geli.


Lesyana lantas pergi ke dapur disusul Kara di belakangnya. Lesyana mengambil beberapa bahan-bahan makanan sementara Kara duduk di kursi tinggi dapur.


Kara tersenyum tipis. Dia merasa tak enak hati karena telah berbohong kepada neneknya. Padahal, tadi saat pergi ke kelab malam bersama temannya, Kara tidak minum sama sekali. Tapi, hanya ini satu-satunya alasan yang dapat dia gunakan supaya neneknya tidak khawatir dengan dirinya yang pulang dalam keadaan kacau.


Kurang dari dua puluh menit, Lesyana sudah selesai memasak. Dia membuatkan salat kentang khas keluarganya, sosis panggang, dan teh herbal untuk Kara. Sambil tersenyum dia menyajikan tiga makanan tersebut di meja dapur lalu duduk di kursi samping Kara.


“Makan dan minumlah selagi masih hangat,” ucap Lesyana. “Dulu setiap kali nenek pulang dari kelab, nenek buyutmu sering membuatkan ini untuk nenek.”


“Benarkah?” tanya Kara sambil menolehkan kepalanya, membuat Lesyana mengangguk. “Baunya lezat sekali. Rasa kantuk yang tadi aku rasakan langsung hilang seketika,” seloroh Kara.


Meskipun hanya tinggal berdua sebab orang tua Kara sudah meninggal, mereka tidak merasa kesepian sama sekali. Mereka justru saling bahu membahu untuk merawat satu sama lain.


“Nenek, pergilah tidur. Nenek tidak perlu menemaniku makan. Ini sudah larut sekali,” ucap Kara kepada neneknya ketika melihat Lesyana menguap lebar.


“Baiklah, Nenek pergi ke kamar dulu. Selamat malam, Kara,” ucap Lesyana.


“Selamat malam juga, Nenek,” balas Kara kemudian menghampiri Lesyana dan mengecup pipinya.

__ADS_1


Setelah Lesyana pergi ke kamarnya, Kara kembali duduk di kursi dan menyantap makanan yang telah dibuatkan oleh Lesyana. Meskipun tidak sedang mabuk, Kara sepertinya memang membutuhkan makanan itu karena dia sedang merasa sangat pusing.


Saat sedang mengingat-ingat apa saja yang terjadi dengannya malam ini, ingatannya tentang pria yang telah menolongnya justru paling kuat di kepalanya.


Bayangan tentang bagaimana pria itu membiarkannya masuk ke dalam mobil dan mengantarnya sampai dia menemukan taksi membuat Kara tidak bisa melupakannya.


Kara tidak kenal siapa pria itu. Tapi, ia masih ingat dengan jelas bagaimana garis wajah pria asing yang tadi menolongnya. Mengingat bagaimana pria itu tadi bingung saat Kara memeluknya, sepertinya pria itu tidak memiliki banyak pengalaman baik dengan wanita. Entahlah, Kara juga tidak tahu.


Malam itu, Kara pergi ke kamarnya dan terlelap sambil terus mengingat kejadian malam itu yang menghantuinya.


Keesokan harinya, seperti biasa Kata akan membantu neneknya untuk menyiapkan segala perlengkapan sebelum membuka Kafe. Pagi-pagi sekali, Kara dan neneknya akan memanggang roti sebab roti adalah makanan utama orang Denmark. Setelah selesai memanggang roti dan menatanya di etalase Kafe, Kara pun menyiapkan berbagai jenis kopi dan teh yang akan diracik hari ini barulah setelahnya Kara membuka Kafe.


Baru saja Kata membuka Kafe, temannya sudah muncul di depan pintu sambil membawa tas Kara yang semalam tertinggal di kelab malam.


“Kara, tadi malam kau dari mana saja? Kenapa kau pulang tanpa mengatakan apa-apa kepadaku?” tanya Melina, teman Kara, sambil melipat tangan di depan dada. Gadis itu merasa kesal sebab tadi malam dia mencari Kara ke sana dan ke mari tapi tidak menemukan apa-apa.


“Kita bicara di luar saja,” bisik Kara kemudian menarik tangan Melina supaya ikut dengannya ke luar Kafe. Kara tidak mau neneknya mendengar percakapan mereka nanti.


“Kara, ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi tadi malam?” tanya Melina kebingungan. Melina jadi khawatir kalau hal buruk telah terjadi kepada Kara tapi dia tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2