Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Tidak Percaya Kutukan


__ADS_3

Setelah beristirahat akibat jet lag, Frans mengajak Kara untuk makan malam di luar. Pria itu sudah menyiapkan sebuah makan malam yang romantis untuk Kara. Sambil menggenggam tangan Kara, Frans melangkahkan kakinya menuju ke arah pantai. Mereka berdua berjalan ke sana sambil bercanda dan tertawa.


Menyadari jika Kara dari tadi memeluk tubuhnya yang kedinginan karena angin malam di pantai, Frans lantas menarik gadis itu ke dalam dekapannya sambil menciumi puncak kepala Kara.


“Frans, apakah tempatnya masih jauh?” tanya Kara, bingung karena dari tadi mereka tidak kunjung sampai di tempat makan malam mereka.


“Sebentar lagi kita sampai,” jawab Frans dengan tenang.


Setelah berjalan paling tidak sepuluh meter, mereka akhirnya tiba. Kara terkesiap dan menahan napasnya saat melihat di depan sana sudah ada api unggun dan lilin-lilin yang mengitari sebuah tikar di mana berbagai jenis makanan sudah disiapkan. Tak hanya itu saja, sinar rembulan yang memantul di permukaan laut seolah ikut menambah suasana romantis yang telah diciptakan oleh Frans.


“Ayo, duduk. Katamu kau sudah lapar, bukan?” ajak Frans.


Frans dan Kara duduk di tikar secara berhadap-hadapan. Kara yang tidak pernah diperlakukan secara manis oleh laki-laki merasa terharu atas apa yang dilakukan oleh Frans. Mata gadis itu bahkan sampai berbinar-binar karenanya.

__ADS_1


Acara makan malam itu disambung dengan mereka kembali ke rumah dan berdansa di ruang keluarga. Kara melingkarkan tangannya pada leher Frans sementara Frans terus menarik Kara ke dalam pelukannya. Mereka berdua menari sambil mengikuti ritme dari lagu yang diputar oleh Frans.


Frans menatap Kara, menyelam jauh ke dalam keindahan iris cokelat terang gadis itu. Dia memerhatikan lekuk wajah Kara yang tegas, hingga matanya jatuh pada bibir ranum Kara. Bibir Kara yang mungil nan tipis itu membuat Frans tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium gadis itu.


Frans mengangkat dagu Kara, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Kara. Kara yang terhanyut dalam suasana pun membalas ciuman dari Frans. Dua sejoli itu terus berciuman hingga lama-kelamaan, ciuman lembut mereka berubah menjadi ciuman yang menggairahkan.


Pria itu mengangkat tubuh istrinya. Tanpa melepas pagutan bibir mereka, Frans membawa Kara ke kamar pengantin yang sudah dihiasi dengan lilin-lilin dan bunga mawar.


Frans perlahan meletakkan tubuh Kara di atas ranjang, lalu mengungkung tubuh Kara dengan tubuhnya. Tangan jahil pria itu tidak diam saja, dia mulai menggoda titik-titik sensitif Kara hingga membuat gadis itu meliuk-liukkan tubuhnya dan mendesah, menahan rasa nikmat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


Malam itu, ditemani riak gelombang dan cahaya rembulan, sepasang suami istri itu memadu kasih. Mereka berusaha untuk memuaskan gelora yang menggebu di dada mereka, hingga akhirnya mereka terbaring tak berdaya akibat ledakan percintaan yang luar biasa.


 Dengan napas yang masih menderu, Frans tidur dengan posisi menyamping, menghadap ke arah Kara.

__ADS_1


“Kara, jangan lupa minum pil pencegah kehamilan,” ucap Frans, mengingatkan Kara jika Kara tidak boleh hamil karena Frans takut kalau dia akan kehilangan Kara nantinya.


“Ah, aku lupa membawanya,” ucap Kara, pura-pura.


“Aku sudah menyiapkannya.” Frans meraih sebotol obat dari nakas, lalu memberikan satu butir kepada Kara. “Minumlah.”


Sejujurnya, Kara merasa sedih dengan apa yang Frans lakukan. Tapi, dia tetap mengiyakannya. Kara pun menerima pil tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.


“Frans, aku mau membersihkan diri dulu,” ucapnya lalu bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Kara melepeh pil yang tadi pura-pura dia minum dan membuangnya di saluran pembuangan wastafel.


Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin seiring dengan satu tetes air mata yang jatuh di pipinya. Dia tahu kalau Frans ketakutan dengan kutukan itu, tapi dia juga kecewa karena itu artinya dia dan Frans tidak akan pernah bisa memiliki keturunan jika Frans terus memaksanya untuk meminum pil pencegah kehamilan.

__ADS_1


‘Aku tidak percaya dengan kutukan itu dan aku akan membuktikan jika kutukan itu tidak benar,’ ujar Kara dalam hati, penuh keyakinan.


__ADS_2