
Seorang pria baru saja melangkahkan kakinya turun dari sebuah pesawat pribadi. Di bawah sana, sopirnya sudah menunggunya. Melihat kedatangan Frans, sopir Frans dengan sigap mengambil alih koper Frans dan membawanya menuju ke arah mobil Frans.
Beberapa hari terakhir, Frans tengah disibukkan dengan pergi ke luar kota untuk menangani beberapa pekerjaan. Pria itu bahkan belum sempat menceritakan tentang pertemuannya dengan sang ayah kepada Aren. Aktivitas yang terlalu padat membuat Frans tak sempat untuk menghubungi Aren.
Begitu masuk ke dalam mobil barulah Frans mengambil ponselnya untuk menghubungi Aren. Pria itu tahu kalau adik tirinya pasti saat ini sedang menunggu kabar darinya sebab dia telah berjanji akan membicarakan tentang niat Aren untuk menikah kepada Jorgie.
“Halo, Frans! Akhirnya kau meneleponku. Aku sangat gugup dan gelisah akhir-akhir ini karena kau belum juga memberikan kabar,” ucap Aren begitu sambungan telepon mereka terhubung.
Frans terkekeh. “Maaf, Aren. Aku akhir-akhir ini sedang bolak-balik ke luar kota. Ini saja aku baru pulang dari Randers,” jelas Frans.
“Ah, iya. Aku tahu kalau kau belum mengabariku pasti kau sedang sangat sibuk,” jawab Aren tanpa rasa kesal sedikit pun. Dia tahu bagaimana sibuknya pekerjaan Frans. Menjadi pemimpin sebuah perusahaan yang sangat sukses tentunya menyita sangat banyak waktu dan tenaga.
“Ngomong-ngomong, aku sudah menemui Aya, “ ucap Frans.
“Benarkah? Bagaimana tanggapan Ayah?” tanya Aren. Dari nada bicaranya, Frans bisa menebak kalau Aren tengah bersemangat. Aren pasti sudah tidak sabar ingin mendengar cerita dari Frans.
“Kau tahu ... Ayah bukanlah pria yang mudah memberikan restu,” ucap Frans hati-hati. Dia takut kalau Aren merasa kecewa sebab jawaban Jorgie pastinya bukan jawaban yang Aren inginkan. “Dia sempat bertanya mengenai gadis yang sedang kau kencani.”
__ADS_1
Terdengar helaan napas dari seberang telepon, tanda kalau Aren tengah menghembuskan napasnya dengan lemah.
“Aku tahu bagaimana ayah. Dia pasti tidak akan mau merestui hubunganku dengan Clara karena Clara bukan anak konglomerat.”
Mendengar kalimat tersebut, Frans jadi iba dengan Aren. Perasaan yang dimiliki Aren kepada sang kekasih sangatlah tulus. Aren bahkan tidak peduli dengan latar belakang gadis itu sebab dia tidak pernah memandang seseorang dari kekayaannya semata. Namun, berbeda dengan Aren, ayah mereka adalah pria yang suka meremehkan orang-orang yang dia anggap tidak setara dengan mereka.
“Ayah saja tidak mau menyetujui hubungan kami. Bagaimana dengan ibu? Kau tahu sendiri, ‘kan, kalau ibu jauh lebih rewel dari ayah,” keluh Aren.
“Aren, meskipun ayah tidak akan mudah setuju dengan hubunganmu, aku akan tetap mendukungmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Lama-kelamaan ayah pasti akan berubah pikiran,” jelas Frans, meyakinkan Aren jika segalanya akan baik-baik saja.
“Tentu saja. Aku juga penasaran dengan gadis yang membuatmu tergila-gila,” gurau Frans.
Aren tertawa renyah. “Nanti kau akan tahu kenapa aku mencintainya.”
Setelah beristirahat, malam harinya Frans pergi menuju ke alamat yang Aren berikan di mana nanti Frans akan dikenalkan dengan kekasih Aren. Namun, saat sampai di alamat yang diberikan oleh Aren, Frans terkejut karena ternyata mereka akan bertemu di kafe milik Kara.
“Apakah kau yakin alamatnya di sini?” tanya Frans kepada sopirnya.
__ADS_1
“Saya yakin, Pak. Ini sudah sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Pak Aren.”
Frans mengangguk lalu keluar dari mobil. Pria itu lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe tersebut. Matanya menyisir ke sekelilingnya selama beberapa saat sebelum dia menangkap sosok Aren sedang duduk bersama seorang wanita di salah satu sudut ruangan. Frans lantas menghampiri mereka dan duduk di meja yang sama dengan mereka.
“Frans, perkenalkan, dia adalah Clara,” ucap Aren sambil tersenyum bangga. “kekasihku.”
Clara dan Frans berjabat tangan sejenak.
“Clara.”
“Frans, saudara Aren. Apakah kalian sudah lama menungguku?” tanyanya. Frans mencoba bersikap ramah meskipun sebetulnya sangat sulit baginya untuk berinteraksi dengan orang baru.
Entah kenapa, sejak menginjakkan kaki di kafe tersebut, perasaan Frans jadi berdebar-debar tak menentu. Jantung pria tersebut bahkan berdetak dua kali lipat lebih kencang dari biasanya.
Seolah dewi keberuntungan enggan berpihak kepadanya, Frans kini justru melihat Kara tersenyum dan berjalan ke arah meja mereka.
‘Sial. Kenapa aku jadi berdebar seperti ini?’ tanya Frans dalam hati.
__ADS_1