
Lulla dengan cepat mendapat berita tentang apa yang terjadi di antara Frans dan Kara. Ekspresi wajahnya berubah cemas. Dia yakin dengan pasti kalau anak kembar tersebut adalah anak kandung Frans. Sial, batinnya. Harusnya dia mengawasi Kara lebih ketat dulu. Dia pikir Kara pergi karena sudah tidak betah dengan kutukan Frans. Siapa yang tahu kalau ternyata dia pergi untuk membesarkan anak mereka berdua.
Untungnya, Frans yang bodoh itu justru meragukan Kara. Jika semua berjalan dengan baik sesuai apa pun rencana Kara, bisa-bisa posisi Aren sebagai penerus terancam. Harus dia akui, putranya tidak semampu Frans. Dan apabila masalah Frans mengenai keturunan sudah terpecahkan, tidak aka nada yang peduli dengannya dan Aren. Oleh karena itu, dia tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Dia harus mencegah semua orang tahu kalau anak kembar tersebut benar-benar anak milik Frans.
Saat makan malam bersama di rumah Nielsen, Lulla menatap suaminya, Jorgie, yang duduk di kursi yang berada di kepala meja. “Sayang, apa kau tahu berita tentang Kara yang tiba-tiba muncul lagi mendatangi Frans setelah pergi begitu saja dua tahun lalu?” tanyanya.
Jorgie menghentikan gerakannya yang sedang makan. “Aku tahu,” jawabnya dengan singkat. “Dia juga membawa dua anak kembar.”
“Apa kau percaya kalau itu anak Frans?” Lulla tertawa merendahkan. “Wanita itu dengan percaya diri meninggalkan Frans bersama orang lain lalu memiliki anak. Saat kehidupan tidak berjalan seperti keinginannya, dia kembali kepada Frans dan mengaku memiliki anaknya. Meskipun aku ibu tiri Frans, aku tidak terima jika Frans diperlakukan seperti itu,” tambahnya dengan nada suara yang meninggi.
“Ma, Kara bukan orang yang seperti itu,” bantah Aren. Dia memang tidak terlalu dekat dengan kakak iparnya, tapi, apa yang dikatakan mamanya terasa mustahil dilakukan oleh Kara yang baik hati. Dia lebih suka percaya kalau anak kembar tersebut adalah anak kakaknya, Frans.
Begitu pula Clara. Dia sangat mengenal Kara dan dia tahu betapa wanita tersebut mencintai Frans. Itu sangat tidak mungkin baginya untuk memiliki anak bersama orang lain selain Frans. Tapi, dia tidak bernani mengangkat suara saat ini. Ibu mertuanya terlalu kejam. Jika dia berkata, dia tidak tahu apa yang akan Lulla lakukan kepadanya setelah ini.
__ADS_1
“Kalau tidak, kenapa dia harus pergi diam-diam dua tahun lalu? Kau lihat kan karena kepergianya, bagaimana Frans sekarang hidup dengan suram dan menyedihkan?” Lulla memelototi putranya. Benci karena Aren sangat tidak memahami keadaannya sendiri.
“Benar,” ucap Jorgie tiba-tiba. “Wanita itu benar-benar kurang ajar. Berani-beraninya menganggap keluarga Nielsen mudah dibodohi.”
“Lebih baik kita melakukan tes DNA,” sela Aren yang melihat mamanya akan kembali mengatakan sesuatu.
“Ya, lakukan tes DNA!” Lulla menyetujuinya dengan senang hari. Bibirnya tersenyum ringan. Bagus, pujinya pada Aren. Dia sudah merencanakan semuanya. Dia akan menyuap semua rumah sakit yang digunakan untuk melakukan tes DNA.
Tes DNA benar-benar dilaksanakan. Frans mungkin tidak peduli, tapi, Jorgie peduli. Tapi, beberapa kali tes DNA dilakukan, hasilnya benar-benar selalu negatif, yang membuat Kara terkejut dan segera menyadari ada orang yang membingkainya di belakang layer.
Frans menatap wajah Kara yang penuh air mata dan hanya bisa mengalihkan pandangan. Dia tidak bisa melihatnya menangis, tapi, dia juga selalu percaya jika anak tersebut bukan anaknya. Sejujurnya, ada beberapa harapan kecil beberapa waktu lalu, sekarang harapan tersebut padam. Dia merasa sedikit kecewa juga sedih karena terbukti sekarang Kara mengkhianatinya dengan pria lain.
“Apa lagi yang kau mau? Ini sudah yang ke beberapa kali dan hasilnya tetap sama. Tidak perlu menyangkal kalau kau memang mengkhianati Frans dengan lelaki lain,” ujar Lulla dengan merendahkan.
__ADS_1
Kara tahu tidak ada lagi yang dapat dia lakukan. Frans tidak mempercayainya, semua orang menatapnya seperti orang yang berdosa saat ini. Dia menghapus air mata di pipinya lalu berbalik pergi bersama kedua anaknya. Dia sangat kecewa, terutama pada Frans yang tidak mempercayainya. Dia memutuskan untuk berhenti dan menjalani kehidupannya dengan anak-anak dan neneknya.
Setelah hari itu, Kara benar-benar menjalani hidupnya sebagaimana dia sebelum mengenal Frans. Sejujurnya ada tambahan dua malaikat yang selalu menemani hari-harinya. Kara pergi setiap hari ke kafe bersama kedua anaknya. Dia membantu mengerjakan beberapa hal, seperti dulu. Meskipun kehadirannya tidak selalu diperlukan, tapi, dia lebih suka menyibukkan diri di kafe dan melupakan semuanya. Kedua anaknya juga senang bermain di kafe bersama pegawai-pegawainya yang terus memuji keduanya sangat menggemaskan serta berperilaku baik.
Frans bisa melihat wanita tersebut menyapa pelanggan kafe dengan senyum merekah di bibir merahnya, senyum yang selalu dia rindukan. Jujur saja, dia tahu dia mungkin bodoh. Kara mengkhianatinya, tapi, dia tidak pernah berhenti mencintai wanita tersebut. Tanpa sadar dia selalu memerintahkan sopir untuk datang ke kafenya dan hanya menatapnya sekilas. Beberapa minggu berlalu dan dia akhirnya sadar kalau dia mungkin tidak bisa hidup tanpa Kara.
Menjelang malam, kafe tutup lebih awal. Kara sengaja melakukannya karena akhir-akhir ini kafe selalu ramai sehingga pegawainya kewalahan. Jadi, dia ingin mereka beristirahat. Setelah semua pegawainya pergi, Kara bersama kedua anaknya juga Bersiap pergi dengan mobilnya ketika sosok akrab tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kara dengan dingin setelah keterkejutannya pulih.
“Kara, aku, aku ingin bertemu denganmu,” balas Frans dengan suara lirih. Hatinya sakit ketika Kara menatapnya dengan kewaspadaan dan sorot tidak peduli di saat bersamaan.
Kara tertawa pelan. “Tuan Frans, aku rasa kita tidak seharusnya bertemu. Tolong menjauh dariku,” peringatannya dengan kejam. Dia tidak peduli dengan tanggapan Frans dan langsung pergi bersama kedua anaknya.
__ADS_1
Bahu Frans turun karena kesedihan yang mendalam. Dia tahu Kara mungkin tidak ingin melihatnya setelah apa yang terjadi. Sejujurnya saat ini dia tidak peduli tentang anak siapa itu, dia hanya ingin bersama Kara. Dia menyesal sudah memperlakukannya dengan buruk saat itu. Jika saja dia menutup mata dan kembali memeluk Kara, mereka mungkin sudah kembali seperti dulu. Saat ini dia sadar betapa Kara sangat penting dalam hidupnya, bahkan jika wanita itu sudah mengkhianatinya. Frans tetap ingin kembali bersamanya.
Kara memegang setir mobilnya dengan erat. Pandangannya berubah kabur saat air mata di pelupuk matanya menumpuk. Hatinya sangat sakit. Kenapa perjalanan cintanya dan Frans harus serumit ini? Dia benci, tapi, tidak bisa mengingkari kalau dia selalu mencintai pria itu di dalam hatinya.