Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Kenapa Kau Tega Mengkhianatiku?


__ADS_3

Hari demi hari Kara lalui dengan rasa ketakutan yang terus bertambah dikarenakan sikap Frans yang kian defensif dengan topik kehamilan yang selalu coba dia bawa dalam perbincangan mereka, baik untuk menguji sikap suaminya tersebut maupun berusaha untuk meluluhkan sikap keras kepala yang dimilikinya. Sayang sekali, Kara merasa seolah semua usahanya sia-sia. 


“Janin dan ibunya sehat. Jangan lupa mengonsumsi daftar makanan yang dianjurkan dan menghindari makanan yang dilarang, ya, Bu,” kata dokter kandungan yang sudah beberapa kali Kara temui secara diam-diam untuk melakukan konsultasi kehamilan.


“Baik, Dok. Terima kasih banyak,” balas Kara sambil mengelus perutnya yang masih rata dengan kebahagiaan yang membuncah di dadanya. Dia melihat potret USG dengan mata berbinar. Meskipun anak di dalam kandungannya belum benar-benar berbentuk seperti bayi, mengetahui bahwa gumpalan tersebut adalah buah hasil cintanya dengan Frans, dia merasa seolah orang paling bahagia di bumi saat ini.


Keluar dari ruangan dokter, Kara melihat para ibu hamil yang menunggu antrian sambil ditemani oleh suami-suami mereka. Dia segera mengalihkan pandangannya. Perasaan sedih pasti ada. Beberapa kali dia kemari dan dia hanya sendiri. Satu-satunya orang yang tahu keberadaan anak dalam perutnya adalah Nenek, sementara mustahil bagi neneknya untuk menemani kemari. Miris mengingat suaminya sendiri tidak tahu tentang kehamilannya. 


Kara menggelengkan kepalanya, mengenyahkan segala bentuk pikiran negatif tersebut. Meninggalkan rumah sakit, dia pun pergi ke kafe miliknya. Hampir setiap hari dia berkunjung ke kafe. Selain untuk mengontrol, dia juga merasakan perasaan disegarkan dan melupakan masalah-masalah yang tengah dia hadapi ketika sibuk membantu melayani para tamu. Ya, dia suka ikut membantu para pegawainya, dari pada hanya duduk dan menonton saja. 


Sampai di kafenya, Kara tidak mengira akan kedatangan tamu istimewa. Itu adalah Clara, istri dari saudara tiri Frans. Wanita itu mengenakan gaun berwarna krim yang memberinya kesan kecantikan yang lembut. 


“Kakak ipar!” sapa Clara ketika melihat Kara memasuki kafe. Dia sengaja datang ke sini untuk menemui kakak iparnya tersebut. Hubungan keluarganya dengan keluarga Frans selalu baik, terlepas dari permusuhan ibu mertuanya kepada Frans. Apalagi Clara yang sangat menyukai kakak iparnya, Kara, yang murah senyum dan baik hati itu.

__ADS_1


“Kenapa tidak bilang dahulu kalau ingin ke sini?” Kara tak kalah bahagia segera duduk di depan Clara dan menanyainya sedikit sedih. “Kalau tahu kau akan ke sini, tentu aku akan langsung membelikan teh mawar yang kau sukai itu. Saat ini, stoknya sedang habis.”


“Tidak apa-apa, Kak. Aku juga suka menu yang lain. Lihat, aku sudah akan menghabiskan segelas milkshake tanpa sisa.” Clara tertawa sambil menunjukkan segelas milkshake yang hampir menyentuh dasar. 


“Bagus kalau begitu,” balas Kara dengan senyum lega tersungging di bibirnya. “Apa kau mau memesam yang lain?”


“Tidak, Kak. Sebenarnya aku ke sini hanya untuk menenangkan pikiranku. Aku benar-benar stres sekarang,” keluh Clara dengan kedua mata indahnya yang berkaca-kaca. Dia sangat ingin menumpahkan segalanya dan satu-satunya yang terlintas di pikirannya adalah Kara. 


“Ada apa, Clara?” tanya Kara dengan prihatin. 


Kara tidak bisa melakukan apa pun melihat kesedihan yang ditumpahkan oleh adik iparnya. Dia hanya bisa bangkit dan memeluk tubuh gemetar Clara dengan lembut. “Jangan menangis, Clara. Aren mencintaimu dan dia akan selalu ada di sampingmu,” ujarnya mencoba menenangkan tangis adik iparnya tersebut.


Setelah beberapa saat menangis, Clara akhirnya tenang. Kara meminta pegawainya untuk membawakan segelas teh hijau hangat untuk menenangkan emosi Clara yang masih berfluktuasi. Selesai menyeruput teh hijau tersebut, Clara akhirnya mampu menenangkan emosinya. 

__ADS_1


Clara melirik Kara, kakak iparnya, dengan tatapan malu. “Maafkan aku, Kak Kara. Aku jadi merepotkanmu,” katanya sambil berusaha menghapus sisa-sisa air matanya dengan tisu.


Kara menghembuskan napasnya dengan wajah penuh kesedihan. “Tidak apa-apa, Clara. Kau bisa datang ke mari kapan pun kau mau.” Dia menahan perasaan berat yang muncul di hatinya. Bagaimana jadinya kalau semua orang, termasuk Lulla dan Clara mengetahui tentang kehamilannya. Pasti ibu mertuanya itu akan semakin menekan Clara dan mungkin bahkan akan mempersulit hubungan kedua adik iparnya, Clara dan Aren. Dia merasa mungkin merahasiakan kehamilannya adalah pilihan yang tepat, terlepas dari penolakan dari Frans yang masih belum bisa dia ubah hingga sekarang.


Waktu terus berlalu. Frans masih dengan keteguhannya dalam mengingatkannya untuk tidak hamil. Apalagi sejak Kara terus bertanya tentang topik kehamilan, suaminya tersebut berpikir bahwa dia mungkin ingin memiliki anak, sehingga intensitasnya dalam menyebutkan janji mereka serta masalah yang mungkin muncul jika dia hamil semakin meningkat. Ada juga Clara yang semakin sering ke kafe dan menceritakan kekejaman Lulla.


Hal-hal itu tanpa sadar membuat Kara tertekan dan takut dengan konsekuensi yang muncul jika kehamilannya diketahui. Yang lebih menakutkan adalah ketika bayinya mungkin terancam.


Kara akhirnya memutuskan, tepat saat Frans pergi melakukan perjalanan bisnis selama beberapa hari, dia memilih untuk pergi sementara dan menjaga bayi di perutnya, yang dari hari ke hari semakin membuncit. Dia tidak akan bisa merahasiakan kehamilannya cepat atau lambat.


Frans selalu membenci perjalanan bisnis. Kali ini dia kembali lebih awal karena mendapati dia tidak bisa menghubungi orang-orang di rumah. Ketika sampai di rumah dia tidak pernah menduga bahwa dia akan menemukan rumah yang biasanya hangat dalam keadaan kosong tanpa seorang pun. Semua pelayan dan sopir diliburkan oleh Kara. Sementara Kara menghilang bersama barang-barangnya. 


“Kara, kenapa kau tega mengkhianatiku?” Frans menatap fotonya dan Kara dengan mata berkaca-kaca sebelum menggertakkan giginya lalu meremas kertas foto tersebut menjadi bola. Untuk ke sekian kalinya, dia ditinggalkan oleh pasangannya lagi. Tapi, kali ini hatinya terasa amat hancur karena orang yang meninggalkannya adalah orang yang paling dia cintai seumur hidupnya. Perasaan dikhianati olehnya membuat Frans terasa ditusuk tepat di dada berkali-kali.

__ADS_1


Lulla segera mendengar kabar buruk yang datang dari rumah Frans. Dia tertawa bahagia hampir histeris ketika mendengarnya. Harus dia katakana kalau beberapa waktu lalu melihat keharmonisan rumah tangga Frans, dia merasa amat khawatir. Bagaimana jika kutukan itu ternyata salah dan mereka akan segera mendapat momongan? Tapi, siapa yang tahu kekhawatirannya akan segera diselesaikan dengan berita Kara meninggalkan Frans. Lagi pula tidak akan ada wanita yang mau hidup selamanya dengan seorang pria yang dikutuk.


__ADS_2