Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Maukah Kau Menikah Denganku?


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu. Persiapan pernikahan Aren dan Clara menyita sebagian besar waktu Frans dan Kara. Aren dan Frans bertugas untuk mencari wedding organizer, makanan katering, dan juga venue pernikahan. Sementara Kara dan Clara bertugas untuk mengurus gaun pernikahan. Meski tugas Clara dan Kara tampak tak begitu sulit, tetap saja hal tersebut menyita banyak waktu sebab mereka memesan gaun custom made dan harus bolak-balik ke butik untuk melakukan fitting.


Dua Minggu pun berlalu, acara pernikahan digelar secara mewah di salah satu aula hotel bintang lima. Tamu undangan yang hadir sebagian besar adalah rekan kerja Aren dan Clara. Dan meskipun Lulla dan Jorgie awalnya menolak keras pernikahan Aren, mereka tetap hadir meskipun Lulla terus-menerus menggerutu sepanjang acara.


“Lihatlah, Pa. Tamu-tamu Clara tidak ada yang berasal dari kalangan konglomerat. Jelas sekali, ‘kan, kalau level gadis itu berbeda dengan kita,” ucap Lulla, mengompori suaminya untuk ikut-ikutan membenci Clara.


“Clara itu bekerja di rumah sakit, Ma. Pasti teman-temannya adalah dokter atau perawat. Karena itulah lingkungan pekerjaannya,” balas Jorgie sambil menghela napasnya. Mendengar gerutuan Lulla sepanjang hari membuat Jorgie merasa lelah juga pada akhirnya.


Lullla menggerakkan kipas yang ada di tangannya. “Ah, Papa ini! Aku mau minum dulu. Gerah sekali di sini,” ucap Lulla. Tentu saja Lulla merasa gerah bukan karena cuaca, tapi karena suasana hatinya yang sedang terbakar.


Di sisi lain, Frans, Kara, Peter, dan Sean sedang mengobrol sembari menikmati pesta pernikahan Aren dan Clara.


“Jadi, kapan kalian akan menyusul?” tanya Peter sembari menaik-turunkan alisnya, menggoda Frans dan Kara.


Kara tersipu-sipu malu kemudian menatap ke arah Frans, seolah meminta Frans saja yang menjawab pertanyaan sahabat Frans yang satu itu.


“Seharusnya kau menanyakan hal tersebut kepada dirimu sendiri, Peter. Kapan kau akan menikah?” timpal Sean sebelum Frans menjawab pertanyaan Peter.

__ADS_1


“Ck, kenapa jadi aku?” gerutu Peter sambil berdecap pelan.


“Frans sudah pernah menikah dua kali. Aku juga sudah memiliki tunangan. Sementara dirimu? Masih asyik bermain wanita tanpa tahu kapan waktunya berhenti,” cibir Sean.


Peter melirik Sean dengan tajam, membuat Kara dan Frans tertawa kecil karenanya. Pria itu menyesap gelas koktailnya sebelum nantinya membalas ucapan Sean.


“Kau tahu sendiri kalau aku belum siap untuk berkomitmen. Pernikahan adalah sesuatu yang belum ada di pikiranku sampai saat ini,” balas Peter.


“Kalau begitu kau harus mencoba untuk berhenti bermain-main dengan wanita dan mencari wanita yang tulus mencintaimu supaya mindset gilamu itu bisa segera berhenti,” celetuk Sean kemudian tertawa terbahak-bahak.


“Doakan saja kita akan segera menikah. Aku juga sudah mendapatkan restu dari nenek Kara untuk menikahi cucunya,” jawab Frans dengan bangga.


Setelah mendengar jawaban Frans, Sean dan Peter tak henti-hentinya menggoda Frans dan Kara. Mereka senang karena Frans akhirnya akan menikah dengan seorang wanita yang benar-benar dia cintai.


“Sepertinya asyik sekali obrolan kalian,” ucap Aren menginterupsi. Aren dan Clara menghampiri Frans dan kawan-kawan setelah lelah menyapa tamu-tamu undangan tanpa henti.


“Ini loh, Frans berkata kalau dia juga akan segera menikahi Kata,” jawab Peter.

__ADS_1


“Kalau masalah itu memang seharusnya tidak ditunda-tunda lagi.” Aren berkata demikian sambil menepuk bahu kakak tirinya dua kali, memberikan semangat. “Kalau kalian akan menikah, jangan lupa aku dan Clara akan membantu kalian seperti kalian membantu persiapan pernikahan kami. Iya, ‘kan, Sayang?”


Clara mengangguk setuju. “Benar. Aku dan Aren pasti akan membantu kalian juga,” jawab Clara.


Setelah mengobrol cukup lama, seorang wedding organizer datang menghampiri Aren dan berkata jika sekarang sudah waktunya untuk melempar bunga pengantin.


Aren dan Clara kini berdiri memunggungi para tamu undangan yang berdiri berjajar untuk berebut bunga pengantin sebab mereka ingin segera menemukan jodoh mereka.


Namun, siapa sangka kalau Clara dan Aren tidak melemparkan bunga itu. Clara justru membalik tubuhnya dan memberikan bunganya kepada Kara. Dan saat Kara masih kebingungan, Frans tiba-tiba saja berlutut di depannya sambil membuka kotak berisi sebuah cincin.


“Kara, maukah kau menikah denganku?” tanya Frans.


Kara menutup mulutnya sambil menganggukkan kepalanya. “Ya, aku mau,” jawabnya dengan haru.


Frans pun berdiri dan mencium bibir Kara sementara orang-orang bersorak kegirangan, ikut bahagia.


Tapi, di sisi lain rupanya ada seseorang yang tidak menyukai hal itu. Karena Lulla yang selalu ingin menghancurkan Frans justru terus menatap penuh kebencian ke arah pria itu.

__ADS_1


__ADS_2