
Di kediaman keluarga Nielsen, Lulla tak berhenti mendesak Clara untuk segera memiliki momongan. Lulla bahkan memberikan berbagai saran sampai mengusulkan Clara untuk berkonsultasi dengan dokter terbaik di Kopenhagen supaya bisa segera hamil. Wanita paruh baya tersebut bahkan dengan penuh semangat menemani Clara untuk pergi berkonsultasi padahal dulu dia sangat tidak menyetujui hubungan Clara dan Aren.
Sementara Clara yang terpaksa mengikuti segala perintah dari Lulla pada akhirnya merasa lelah dengan tekanan-tekanan yang Lulla berikan. Clara memang awalnya memilih diam dan mencoba untuk tetap bersikap baik kepada Lulla, sampai akhirnya dia tidak kuat lagi. Malam itu, Clara pun menceritakan tentang semuanya kepada suaminya.
“Sayang, aku benar-benar lelah mendengar semua tekanan dari ibumu.” Clara mendaratkan pantatnya di tepi ranjang, lalu ikut berbaring di samping sang suami yang saat ini tengah berbaring menyamping, menghadap ke arah Clara.
“Sudah, jangan dipikirkan,” ucap Aren sambil menyingkirkan anak rambut Clara ke belakang telinga gadis itu.
“Bagaimana aku tidak kepikiran? Ibumu terus saja mengatakan hal yang sama setiap kali melihatku. Aku sampai malas keluar dari kamar kalau begini caranya,” keluh Clara sambil mendesah pelan.
Aren terkekeh pelan. “Apakah kau ingat tentang kutukan Frans yang pernah aku ceritakan? Aku rasa ibuku takut kalau aku juga mendapatkan kutukan yang sama,” ujar Aren, menerka-nerka jalan pikiran ibunya.
Clara menghela napas panjang. “Jika yang mendapatkan kutukan adalah Frans, untuk apa dia juga buru-buru menyuruhku untuk hamil? Lagi pula kita juga baru satu bulan menikah. Tidak mungkin aku langsung hamil begitu saja,” gerutu gadis itu.
Aren membelai pipi Clara. “Sudah, kau istirahat saja. Aku tidak mau kalau kau sampai stress karena memikirkan ibuku,” ucapnya yang dihadiahi oleh Clara dengan anggukan kepala.
Setelah Clara terlelap, Aren langsung menghubungi Frans untuk menceritakan tentang apa yang terjadi di kediaman Nielsen akhir-akhir ini.
__ADS_1
*****
Frans yang baru saja bangun tidur mengerutkan dahinya ketika mendapati Aren meneleponnya dini hari. Antara Kopenhagen dan Fiji memiliki perbedaan waktu yang cukup banyak sehingga Frans sedikit mengomel saat mengangkat panggilan tersebut.
“Apakah kau harus meneleponku di pagi buta seperti ini?” omel Frans begitu dia mengangkat panggilan tersebut.
Aren terkekeh. “Maaf, Frans. Aku lupa kalau kau saat ini sedang bulan madu di pulau tropis,” balasnya.
Frans mengucek matanya, kemudian bangkit duduk. “Ada apa, Aren?”
“Clara benar-benar kesal dengan ibuku,” celetuk Aren. “Belakangan ini dia selalu mendesak Clara untuk segera hamil karena ....” Aren menghentikan ucapannya, takut kalau menyinggung perasaan Frans.
“Iya, Frans.”
“Katakan saja pada ibumu kalau kutukan itu menempel di tubuhku dan tidak akan menular kepadamu, jadi dia tidak perlu khawatir,” ucap Frans.
Percakapan Frans dan Aren rupanya didengar oleh Kara. Begitu dia melihat Frans meletakkan ponselnya di nakas, dia membuka suara.
__ADS_1
“Di dunia ini tidak ada yang namanya kutukan, Frans,” ucap Kara.
Frans sontak menoleh. “Apa maksudmu?”
“Kutukan itu tidak ada. Apa yang terjadi pada dirimu dan wanita di masa lalumu bukanlah sebuah kutukan, aku yakin sekali,” ucap Kara. Gadis itu sangat yakin kalau Frans tidak terkena kutukan apa pun.
“Kau tidak tahu apa-apa mengenai apa yang sudah terjadi padaku, Kara. Apa yang terjadi padaku pastinya memang bagian dari kutukan itu.”
Frans dan Kara pun berdebat. Dua-duanya sama-sama ingin mempertahankan kepercayaan mereka. Kara yang tidak percaya dengan hal-hal takhayul semacam kutukan bersikukuh kalau apa yang terjadi dengan Frans hanyalah kebetulan saja. Sementara Frans yang mengalami itu semua dan sudah tersugesti dengan ucapan Lulla tidak mau percaya dengan ucapan Kara.
Mereka terus berdebat, beradu argumen tanpa henti. Hingga sebuah kalimat yang keluar dari bibir Frans membuat Kara menangis tersedu-sedu.
“Sudah kubilang dari awal kalau kita tidak akan pernah punya anak!” sentak Frans, membuat air mata yang membendung di kelopak mata Kara akhirnya luruh.
“Frans, seharusnya kau tidak pesimis dengan hal ini,” ucap Kara di antara isak tangisnya.
Frans yang melihat Kara menangis langsung merasa bersalah. Pria itu menggenggam tangan Kara dan menciuminya.
__ADS_1
“Maaf, Kara. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya tidak ingin kau berharap memiliki keturunan denganku karena aku tahu kutukan itu akan membuatku tak bisa melakukannya,” ucap Frans sambil menundukkan kepalanya, menyesal.