Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Semuanya Terungkap


__ADS_3

Rumah keluarga Nielsen hari itu tiba-tiba kedatangan tamu yang tidak terduga. Frans, yang selalu enggan menginjakkan kaki di rumah itu, mendadak datang dan membawa Kara serta kedua anak kembarnya, yang kemarin telah dites DNA menunjukkan bahwa keduanya bukan anak dari Frans.


“Frans, apa maksudmu membawa wanita ini dan kedua anaknya?” tanya Jorgie dengan marah. Dia sedang memeriksa hal-hal perusahaan di ruang kerjanya ketika Kepala Pelayan datang dan memberitahunya bahwa Frans, Kara, dan kedua anak Kara datang. Dia segera turun dengan perasaan marah. Apakah putranya bodoh? Jelas-jelas Kara sudah mengkhianatinya dengan pria lain. Sekarang apa yang sedang dia lakukan dengan wanita itu dan anak-anaknya? Apakah Frans akan menerimanya lagi?



Lulla mendengar pertanyaan marah Jorgie ketika dia sampai di ruang tamu. Baru saja dia sedang menyiram bunga di halaman belakang ketika seorang pelayan memberitahunya tentang kedatangan mereka. Hatinya menegang. Dia merasa kedatangan Frans adalah hal buruk. Apakah anak tirinya itu sudah tahu bahwa anak kembar Kara adalah anaknya sendiri? Tapi, bagaimana bisa? Dia jelas-jelas mendengar berita dari orang terpercaya bahwa Frans dan Kara akan melakukan perceraian. Kenapa tiba-tiba mereka kembali ke rumah Nielsen bersama? Dia harus segera melakukan sesuatu.



“Ya, apa yang kau lakukan di sini membawa wanita selingkuh dan anak hasil selingkuhannya it uke sini? Apa jangan-jangan kau masih ingin menerima mereka?” Lulla menatap Frans dengan ejekan yang tidak samar. Dia segera mendekati Jorgie. “Sayang, sepertinya Frans sudah dikelabuhi oleh wanita beracun itu. Jangan sampai kau tertipu. Wanita itu mungkin tidak puas dan ingin merebut harta keluarga kita juga. Apa pun yang terjadi, hanya Aren yang pantas untuk mewarisi harta keluarga.” Dia mencoba menghasut suaminya. Lulla tidak bisa membiarkan putranya kehilangan posisi.



Aren dan Clara yang baru turun memiliki ekspresi jelek ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Lulla. Aren ingin menyangkalnya ketika istrinya, Clara, memegang lengannya dan menggelengkan kepala. Clara melihat Frans dan Kara yang bersiap dan tahu ini bukan giliran mereka untuk berbicara. 

__ADS_1



“Aku tidak datang ke sini untuk harta Nielsen. Aku sama sekali tidak membutuhkannya,” balas Frans sambil menatap Lulla dengan dingin. Harta keluarga Nielsen sama sekali tidak bisa masuk di matanya. Sejak dia kehilangan harapannya di masa lalu, dia tidak pernah menginginkannya lagi. Dia bisa mendapatkan yang lebih baik dengan usahanya sendiri. Frans mengalihkan pandangannya pada Jorgie. “Aku ingin pengakuan keluarga pada kedua anakku dan Kara.”



“Apa?” Jorgie bertanya dengan tidak mengerti ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Frans. Anaknya dan Kara? Bukankah tes DNA jelas memberi tahu semua orang jika kedua anak tersebut tidak memiliki darah keluarga Nielsen?


Mendengar apa yang dikatakan Frans, ekspresi Lulla di sebelah Jorgie berubah khawatir. Kenapa Frans bisa tahu? Apakah mereka kembali melakukan tes DNA? Tapi, kenapa dia tidak tahu sama sekali. Lulla mengepalkan tangannya merasakan semua hal berjalan lepas dari kendalinya.


“Diam!” Kara tidak tahan lagi dengan perilaku Lulla yang tidak tahu malu. Wanita itu bahkan berani mengatakan hal-hal kejam pada Frans, padahal Lulla sendiri adalah dalang di balik semua itu. Kara segera melangkah, memberikan sebuah berkas kepada Jorgie, ayah mertuanya. “Bacalah dan kamu akan tahu, Ayah.”


Kara mengalihkan pandangannya pada Lulla. “Ayah akan tahu betapa busuknya wanita yang saat ini berada di sebelah Ayah. Kutukan Frans hanya omong kosong dan dalang yang berada dibalik itu adalah Lulla! Dia membayar orang pintar untuk memberikan hasil ramalan seperti itu dan menyingkirkan Frans sebagai pewaris. Tes DNA yang dilakukan kemarin dipalsukan olehnya, yang membayar rumah sakit tempat melakukan tes. Lulla juga memiliki campur tangan dalam kematian ibu Frans!” Air mata mengalir di kedua matanya dengan sorot yang penuh kesedihan. Dia merasa sangat sakit hati dan sedih untuk semua yang telah dilalui suaminya, Frans, karena Lula, wanita jahat itu.


Jorgie ingin menyangkal semua tuduhan tidak masuk akal Kara, tapi, ketika melihat semua bukti yang berada di tangannya, satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah kemarahan. Dia berbalik dan menampar Lulla, istrinya, dengan sangat keras, membuat pipi putihnya bengkak merah seketika. “Kau wanita iblis!”

__ADS_1


Lulla terjatuh karena kekuatan yang Jorgie kerahkan sangat besar. Dia merasa perih dan hampir mati rasa pada sisi wajahnya yang ditampar oleh suaminya tersebut. Dia tidak bisa menahan tangis ketika semua yang dia lakukan untuk bertahan akhirnya hancur begitu saja.


“Aku akan menyeretmu dan membuatmu membusuk ke dalam penjara!” Jorgie mengarahkan jari telunjuknya pada Lulla dengan wajah marah karena emosi. Dia mencintai istri pertamanya begitu juga Frans. Dia tidak pernah menduga selama ini dia telah dipermainkan oleh wanita iblis di hadapannya.


“Tidak, aku mohon, Jorgie! Ampuni aku!” Lulla segera memeluk kaki Jorgie memohon ampunan. Dia pasti mati jika masuk ke penjara. Tempat penuh orang jahat dan menjijikkan. Dia ketakutan. “Aku, aku adalah ibu Aren, pewaris Nielsen. Apa kau mau semua orang tahu kalau pewaris Nielsen memiliki ibu seorang narapidana? Jorgie, ingat aku sudah menemanimu selama ini. Tidak bisakah kau mengampuniku? Aku mohon, aku tidak ingin pergi ke penjara.” Lulla menangis dengan histeris.


Jorgi mendengus dengan keras. Tanpa sadar dia memikirkan perkataan Lulla. Bahkan setelah Frans memiliki keturunan, dia tahu putranya tersebut tidak akan mau mkembali ke perusahaan keluarga, apalagi dia saat ini telah memiliki kerajaan bisnisnya sendiri. Sehingga harta dan perusahaan keluarga di masa depan memang akan diberikan kepada Aren. Itu adalah cacat jika Aren memiliki ibu yang berada di penjara. Untuk hal sebesar ini dia memang tidak bisa mengambil risiko. Tapi, tetap saja dia tidak ingin membuat wanita iblis ini merasa berharga.


Jorgie menggerakkan kakinya dengan kuat, membuat Lulla berguling ke tanah yang terlihat cukup memalukan. “Baiklah. Aku akan membiarkanmu pergi kali ini karena kasihan. Jangan pernah muncul di hadapan kami, jika tidak, ucapkan halo pada kamar penjara barumu nanti. Kau harus tahu, ini adalah batas kesabaranku.”


“Baiklah. Aku, aku, aku kan pergi.” Lulla yang ketakutan segera bergegas meninggalkan rumah Nielsen. Dia tidak peduli dengan apa pun dan hanya ingin kabur dari kekejaman Jorgie.


Jorgie segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pengacara. “Siapkan perceraianku dengan Lulla dan pastikan untuk tidak membiarkan dia mendapatkan sepeser pun,” perintahnya dengan kemarahan dalam suaranya.


“Baik, Tuan Nielsen,” jawab suara dari seberang telepon. Jorgie menyingkir dengan ponselnya untuk membicarakan detail lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2