Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Mengenalkan Pada Teman


__ADS_3

Sejak kejadian tempo hari di acara lamaran Aren, Frans dan Kara resmi berpacaran. Kara yang awalnya ragu dengan hubungan mereka mengingat jenjang status yang sangat berbeda di antara mereka, perlahan mulai melihat kalau Frans bukan tipe pria yang suka memandang seseorang dari jumlah uang yang dimiliki. Pria itu bahkan sering kali berkunjung di kafe Kara dan menyapa neneknya.


Seperti hari ini. Frans mengajak teman-temannya berkunjung ke kafe Kara. Dia sangat bersemangat untuk memperkenalkan Kara kepada Sean dan Peter. Hal itu tentu tidak pernah terjadi sebelumnya sebab dulu, Frans tidak pernah mengenalkan mantan-mantan istrinya kepada dua temannya. Frans bahkan sering mendapat semburan Sean dan Peter karena hal tersebut.


“Kalian ... sudah lama kenal? Di mana kalian bertemu?” tanya Peter, penasaran dengan bagaimana awal kejadian Kara dan Frans bisa kenal dengan satu sama lain.


“Aku dan Frans pertama kali bertemu sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Dia menolongku saat aku sedang dikejar pria gila di sebuah kelab malam,” jawab Kara, menjelaskan tentang awal pertemuan mereka.


“Kau dengar itu, Peter? Menolong seseorang bisa mengantarmu kepada calon pacar. Lebih baik kau sekarang mulai berbuat baik supaya yang mengelilingimu bukan perempuan-perempuan sewaan lagi!” gurau Sean, membuat Kara dan Frans tertawa sementara Peter menggerutu kesal.


“Ah, kau ini! Aku bukan Frans yang bisa berkomitmen dengan wanita. Saat ini aku masih ingin bersenang-senang dan menikmati masa mudaku,” kilah Peter.


“Hati-hati saja kalau kau tertular penyakit kelamin,” tegur Frans, membuat Peter semakin kesal.


“Tidak akan!” Peter berdecap. “Kenapa kalian malah membicarakan aku? Bukankah kita seharusnya sekarang ini merayakan karena Frans akhirnya mau mengenalkan kekasihnya kepada kita berdua?”

__ADS_1


“Memangnya Frans tidak pernah mengenalkan mantannya kepada kalian?” tanya Kara, penasaran.


“Jangankan mengenalkan mantan pacarnya. Kami saja baru tahu dia memiliki kekasih setelah ada pemberitaan pertunangannya dengan mantan-mantannya,” jawab Sean sambil melirik sinis ke arah Frans.


“Well, what can I say? Kalian juga terlalu sibuk untuk mengenal mantan-mantanku, bukan?” balas Frans.


“Alasan saja kau, Frans!” umpat Peter sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah mengobrol dan menghabiskan makan siang di sana, Peter dan Sean pun berpamitan untuk kembali ke kantor. Dua sahabat itu semakin yakin kalau Frans benar-benar jatuh cinta kali ini sebab Frans tadi terlihat sepeti orang yang kasmaran. Berbeda sekali saat dia sedang bersama mantan-mantan istrinya.


“Aku pulang dulu, ya?” ucap Frans kepada Kara lalu mencium bibir Kara sejenak sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.


Sepanjang perjalanan Frans tidak henti-hentinya tersenyum. Pria itu merasa sangat bahagia setelah dia akhirnya berpacaran dengan Kara. Apalagi, Kara mampu membuat hatinya yang beku menjadi luluh setiap kali dia melihat senyuman Kara.


Akan tetapi, kebahagiaan Frans rupanya membuat seseorang merasa sangat jengkel. Lulla yang mengetahui kebahagiaan Frans dari cerita Aren pun merasa sangat kesal. Dia tidak suka melihat Frans bahagia. Ditambah lagi, Frans juga dengan lancangnya mewakili dirinya untuk merestui hubungan Aren dan kekasihnya. Hal itu semakin membuat Lulla membenci Frans.

__ADS_1


Bibir Frans yang awalnya melengkung karena tersenyum langsung membentuk satu garis lurus saat dia melihat Lulla duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruang kerjanya.


“Frans, bisakah kita bicara?” Lulla buru-buru berdiri dan bertanya seperti itu kepada Frans.


“Mau bicara apa?” tanya Frans tanpa basa-basi. Pria itu bahkan tidak mengizinkan Lulla untuk masuk ke dalam ruang kerjanya terlebih dahulu. “Kenapa kau ke sini?”


“Aku tidak suka dengan sikapmu yang melangkahi keputusanku dan Jorgie.”


Frans menaikkan sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”


“Kau pikir aku tidak tahu kalau kau telah mendukung Aren untuk melamar gadis itu?”


Lulla melipat tangannya di depan dada sambil menatap tajam ke arah Frans. Frans yang ditegur seperti itu juga tidak takut. Dia malah tertawa meremehkan Lulla.


“Jadi, kau datang ke sini karena hal itu?” Frans kini menatap Lulla dengan sangat serius. “Dengar, Lulla. Selagi Aren meminta bantuan dan perlindungan dariku, aku akan terus berada di sisinya meskipun hal itu bertentangan denganmu atau ayahku. Sekarang lebih baik kau pergi dari sini karena pekerjaanku masih banyak.”

__ADS_1


Setelah mengatakan hal tersebut, Frans melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa memedulikan Lulla sedikit pun.


__ADS_2