Rahasia Kutukan Sang Miliarder

Rahasia Kutukan Sang Miliarder
Will you marry me?


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Frans hari itu, Kara tidak bisa berhenti memikirkan tentang pria tersebut. Terutama saat Frans tadi dengan santainya meraih pinggangnya. Kara seolah merasa aman dalam dekapan Frans. Semenjak hari itu, Kara jadi semakin yakin kalau dia mulai menyukai Frans.


Seperti gadis pada umumnya, saat menyukai seseorang Kara tentunya akan mencari tahu tentang orang yang dia sukai. Malam itu, Kara mencoba untuk mencari tahu tentang siapa Frans melalui internet.


“Sepertinya dia tidak memiliki sosial media,” gumam Kara sebab dia tidak menemukan akun sosial media Frans meskipun Kara sudah berselancar di seluruh platform yang ada di internet.


Kara mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Berpikir mengenai cara supaya dia bisa tahu tentang siapa Frans sebenarnya dan apakah pria itu sudah memiliki kekasih. Kara tentu tidak mau kalau dia menjadi wanita perebut pasangan orang lain.


“Hm, sepertinya aku harus mencari namanya saja di internet. Siapa tahu ada biodata mengenai Frans. Sepertinya juga dia bukan orang sembarangan,” ucapnya lagi.


Gadis itu pun mengetikkan nama Frans Nielsen ke dalam kolom pencarian. Mulut Kara menganga saat dia membaca artikel-artikel tentang Frans. Meski tidak memiliki sosial media, di internet ada sedikit informasi mengenai Frans. Di sana menyebutkan kalau Frans adalah pengusaha muda yang sangat sukses dan berasal dari keluarga terpandang.


Membaca hal tersebut jujur saja membuat Kara merasa rendah diri. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.


“Sepertinya aku harus mengubur perasaanku dalam-dalam karena pria seperti dia pasti tidak akan tertarik dengan gadis seperti aku,” ucap Kara kemudian menutup laptopnya dengan kecewa.


Beberapa hari pun berlalu. Kara mulai memaksakan diri untuk melupakan perasaannya kepada Frans. Gadis itu mulai mendistraksi pikirannya dengan kesibukan supaya dia tidak teringat dengan Frans.

__ADS_1


“Hai, Kara.”


Panggilan tersebut membuat Kara terlonjak kaget. Gadis itu lantas menoleh dan mendapati Aren sudah berdiri di depan meja kasir kafenya.


“Hai,” balas Kara. “Apakah kau ingin memesan sesuatu?”


Aren menggeleng. “Tidak. Tapi, aku butuh bantuanmu.”


“Bantuan?”


“Aku ingin melamar Clara di hari ulang tahunnya. Aku ingin membuat semacam kejutan dan aku butuh bantuanmu untuk mengajak Clara pergi ke tempat yang akan menjadi lokasi aku melamar Clara. Bagaimana? Apakah kau mau?” tanya Aren penuh harap.


Hari yang telah ditentukan oleh Aren pun tiba. Kara sudah menghubungi Clara dan meminta Clara untuk menemaninya pergi ke sebuah pesta. Kara meminta untuk janjian di tempat saja supaya Clara tidak perlu repot-repot untuk menjemput Kara.


Saat sampai di lokasi pesta—yaitu di sebuah taman yang sudah dihias oleh lampu dan bunga-bunga—Kara mengerutkan dahinya tatkala mendapati Clara tampak sedih.


“Clara, kenapa wajahmu masam seperti ini?” tanya Kara.

__ADS_1


“Dua hari ini Aren tidak bisa dihubungi, Kara. Aku tidak tahu apa salahku dan kenapa dia mengabaikanku,” ucap Clara seraya menghela napas berat.


Kara menahan diri supaya tidak tertawa. Dia harus berusaha semaksimal mungkin supaya Clara tidak curiga kalau Kara sudah tahu tentang rencana Aren. 


“Apakah kau sudah coba bertanya kepada Frans?”


Clara menggeleng. “Tidak. Teleponku tidak diangkat oleh Frans. Sepertinya dia sedang sibuk,” jawab Clara.


“Hm, mungkin saja mereka sedang ada bisnis di luar kota berdua dan sama-sama sibuk sehingga Aren tidak sempat untuk mengabari dirimu,” ujar Kara, berusaha untuk menghibur Clara.


“Ya, mungkin saja,” balas Clara singkat.


“Sudah, jangan bersedih lagi. Kau ke sini untuk menemaniku ke pesta, ‘kan? Aku tidak mau kalau orang-orang berpikir aku memaksamu datang ke sini karena mereka melihat wajah cemberutmu itu,” tegur Kara.


Clara terkekeh. “Baiklah, baiklah. Ayo, kita masuk,” ucapnya.


Clara dan Kara lantas masuk ke area taman. Di sana banyak terdapat lampu kelap-kelip dan bunga yang ditata sedemikian rapinya. Benar-benar menciptakan suasana yang begitu romantis.

__ADS_1


Jantung Clara berhenti berdetak saat dia melihat tulisan dari kelopak mawar yang berbunyi ‘I love you, Clara. Will you marry me?’


Gadis itu menahan napasnya, merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya.


__ADS_2