
Sopir Frans melirik dari kaca spion dan merasa agak heran sebab Frans membiarkan gadis asing menyentuhnya. Oh, bahkan memeluk lengannya. Selama dia bekerja dengan Frans, tak pernah sekali pun Frans membiarkan gadis menyentuhnya tanpa izin. Jangankan gadis asing yang baru dia temui beberapa menit lalu, untuk teman tidur saja Frans sangat pemilih. Sopir pribadi Frans jadi heran kenapa bosnya tiba-tiba bersikap berbeda dengan gadis yang mencegat mereka tadi.
“Maaf, Pak. Ke mana kita akan pergi sekarang? Apakah aku harus mengantar Anda pulang dulu baru mengantar Nona ini atau bagaimana?” tanya sang sopir.
Pertanyaan itu menyadarkan Frans dan gadis itu dari posisi mereka. Secara refleks gadis itu melepaskan pelukannya dan menggeser tubuhnya agar duduk agak menjauh dari Frans meskipun tanpa dia sadari Frans dari tadi menatap ke arahnya.
Gadis itu menatap Frans sekilas sambil berkata, “Terima kasih atas bantuanmu,” ucapnya, lalu kembali menatap lurus ke depan.
Frans merasa heran sebab gadis itu hanya menatapnya sekilas karena gadis-gadis di luar sana biasanya akan menatap Frans seperti orang bodoh saat berpapasan dengannya. Mungkin terdengar berlebihan, tapi memang seperti itulah yang terjadi. Ketampanan yang dimiliki Frans memang selalu berhasil membuat gadis dari berbagai usia dan kalangan terpesona dengannya. Berulang kali bahkan gadis-gadis berusaha mendekatinya setelah perceraiannya dengan Carlynda, tapi Frans tak sedikit pun berminat untuk mendekatkan diri pada salah satu di antara gadis-gadis tersebut.
Tapi, gadis misterius ini berbeda. Ya, Frans akan menyebutnya sebagai gadis misterius karena sampai detik ini, dia masih belum tahu siapa nama gadis itu dan kenapa gadis itu terlihat sangat ketakutan saat meminta tolong padanya tadi. Gadis itu bahkan tampak seperti tidak tertarik dengan Frans dan hanya menganggap Frans sebagai pria yang sudah menolongnya saja. Padahal saat tadi gadis itu menyentuhnya, Frans pikir dia sedang berusaha menggoda Frans.
“Ke mana kami harus mengantarmu, Nona?” tanya Frans pada gadis yang duduk agak jauh darinya.
Gadis itu menoleh. “Turunkan aku jika kalian melihat taksi saja. Aku akan pulang naik taksi,” jawabnya sambil tersenyum tipis.
“Kami bisa mengantarmu ke rumah kalau kau mau,” ucap Frans lagi. Entah kenapa, Frans rasanya seperti ingin memastikan gadis itu sampai rumah dalam keadaan baik-baik saja.
Gadis tersebut menggeleng. “Tidak perlu. Kau mengizinkanku masuk ke dalam mobilmu dan membawaku pergi dari sana saja sudah lebih dari cukup untukku. Aku benar-benar berterima kasih dan aku tidak ingin merepotkan kalian lagi,” terang gadis tersebut.
“Kami tidak merasa direpotkan sama sekali,” balas Frans, membuat gadis itu terkekeh kecil.
__ADS_1
Dia kembali menatap ke depan. Saat melihat ada sebuah taksi yang terparkir tidak jauh dari mereka. Dia meminta sopir untuk menepikan mobilnya. “Itu ada taksi. Aku akan turun di sini saja,” ucapnya.
Sopir Frans pun menghentikan mobilnya di tepi jalan, lebih tepatnya di belakang taksi. Namun, saat hendak turun dari mobil Frans, gadis itu menyadari kalau dia saat ini tidak membawa tas atau pun dompet. Ia memukul dahinya pelan dan merutuki kebodohannya.
‘Bagaimana aku akan naik taksi kalau aku tidak membawa uang?’ gerutu gadis itu dalam hati.
“Ada apa, Nona? Apakah Anda tidak jadi turun?” tanya sopir Frans.
Gadis tersebut meringis lalu berkata kepada sopir. “Bisakah aku meminjam uang 200 krona? Aku baru sadar kalau aku tidak membawa dompet dan tas,” ucapnya seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya dia tidak enak hati karena tidak hanya merepotkan saat meminta tumpangan, tapi juga harus merepotkan lagi karena meminjam uang.
Frans dan sopirnya terkejut mendengar hal tersebut. Frans tertawa kecil kemudian mengambil dompetnya dan mengambil uang 500 krona. Dia kemudian memberikan uang tersebut kepada gadis yang duduk di sampingnya.
“Aku hanya ingin meminjam 200 krona saja,” balas gadis manis itu.
“Tidak masalah. Bawa saja semuanya,” ucap Frans, membuat gadis itu mengangguk dan mengambil uangnya.
“Aku benar-benar berterima kasih karena kalian sudah membantuku dan meminjamkan uang untukku. Datanglah ke family cafe, aku akan mengganti uang kalian. Sekali lagi terima kasih,” ucapnya lalu keluar dari mobil dan naik ke taksi.
Lagi-lagi Frans tertawa, sesuatu yang jarang sekali terjadi menurut sopirnya. Selama ini, setelah perceraian terakhirnya, Frans memang menjadi pribadi yang lebih dingin dari biasanya. Pria itu bahkan hampir tidak pernah terlihat tertawa dan tersenyum di depan orang lain. Tapi, malam ini, Frans berbeda. Gadis misterius yang dia temui tampaknya berhasil membuat Frans tersenyum dan tertawa.
“Apakah kita akan pulang sekarang, Pak?” tanya sopir Frans.
__ADS_1
“Tunggu dulu. Kita tunggu sampai taksi itu melaju baru kita pulang,” perintah Frans kepada sang sopir.
“Baik, Pak,” jawab sang sopir.
Tak perlu menunggu terlalu lama, taksi yang membawa gadis tadi melaju. Barulah saat itu sopir Frans melajukan mobil menuju ke kediaman Frans.
Sepanjang perjalanan, Frans mencoba mengingat-ingat bagaimana ciri-ciri gadis tadi. Gadis tadi memiliki postur tubuh tak terlalu tinggi namun sepatu hak tinggi yang dia kenakan berhasil membuatnya tampak tinggi. Dia memiliki bulu mata lentik, alis tebal, dan bibir ranum. Polesan make-up natural di wajahnya tidak menutupi kecantikannya sama sekali. Justru membuat aura kecantikannya semakin terpancar. Meski mengenakan pakaian seksi, Frans bahkan tak sempat memerhatikan bagian tubuh gadis tadi yang terbuka karena dia sibuk menatap wajahnya.
Frans jadi penasaran siapa gadis tadi dan kenapa dia sangat ketakutan. Frans merasa jika ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya tak bisa berhenti memikirkannya padahal mereka hanya bertemu satu kali.
“Apakah tadi gadis itu sempat menyebutkan namanya?” tanya Frans pada sopirnya.
Sopirnya menggeleng. “Tidak, Pak,” jawabnya singkat.
Frans mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemungkinan dia akan bertemu dengan gadis itu lagi sangat kecil. Jadi, Frans berusaha untuk melupakan bagaimana paras ayu gadis tadi membuatnya tak bisa memalingkan mata dari wajah eloknya.
Lagi-lagi sopir Frans melirik ke arah spion mobil untuk melihat ke arah bosnya. Dia jadi terheran-heran sebab Frans tampak sangat berbeda setelah bertemu gadis tadi. Pertama, Frans mengizinkan gadis tadi memegangnya tanpa izin. Kedua, Frans tersenyum dan tertawa padahal biasanya jarang sekali Frans tampak tertawa.
‘Huh, tidak-tidak. Aku tidak boleh berpikir macam-macam tentang Pak Frans,' gumam sopir Frans dalam hati.
Sementara Frans masih terdiam, tenggelam pada beribu pertanyaan yang menyerbunya tentang gadis tadi. Frans tidak tahu siapa gadis itu dan kenapa dia membutuhkan bantuan Frans. Frans juga tidak yakin dia akan bertemu dengan gadis itu lagi. Tapi, satu hal yang jelas, Frans merasa senang karena sudah membantu gadis itu.
__ADS_1