
...Bab 27. Kasus penjualan DNA bagian 1....
Seminggu kemudian, polisi pun datang dengan bukti dari kamera, situs, dan beberapa dokumen dari flashdisk yang di kirimkan oleh Rain secara anonim untuk menangkap Andre beserta siswa lainnya yang terlibat dalam bukti tersebut. Kepala sekolah dan seluruh staf pengajar beserta karyawan sekolah itu diberhentikan.
Selain itu, Presiden Indonesia, Presiden Jowy memutuskan untuk menutup sekolah tersebut karena merusak citra bangsa Indonesia dan masa depan anak-anak bangsa.
Setelah kejadian itu, Irina masuk rumah sakit untuk merawat mental dan fisiknya semua itu dibiayai oleh pemerintah dengan kelas VIP.
Disana, Irina dikunjungi oleh paman dan bibinya.
“Bibi, Paman Katsuo!” ucap senang Irina.
“Irina, keponakan ku,” ucap bibinya Irina yang berlari memeluk Irina yang sedang duduk diatas kasur.
“Haha. Iya!” jawab Irina yang tersepu malu.
Paman Katsuo pun menghampiri Irina dengan membawa banyak buah di katung belanjanya.
“Irina, kamu ingin buah,” ucap Paman Katsuo yang memamerkan kantong yang dibawanya.
“Hmm, terima kasih Paman Katsuo,” ucap Irina dengan senyum senangnya dan menganggukan kepalanya.
Setelah itu, Paman Katsou menaruh plastik itu keatas meja.
Dan, tidak lama kemudian suara ponsel Paman Katsuo berbunyi.
“Maaf, paman keluar dulu,” pamit Paman Katsuo.
Irina menjawabnya hanya menganggukan kepalanya.
“Lalu, bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Bibinya Irina dan mereka pun mulai berbincang-bincang.
Paman Katsuo yang menerima telepon meninggalkan mereka dan pergi halaman untuk menerima telepon.
“Lipan 1, terima!” jawab telepon Paman Katsuo.
“Maaf, Pak. Saya tidak dapat menemukan kecurigaan data Surya Cahyadi. Kemampuan bela dirinya didapat dari tempat pelatihan dan ayahnya yang bekerja sebagai Stuntman,” penjelasan dari penelepon.
“Begitu, aku mengerti! Kerja bagus dan Kembali bertugas!” seru Paman Katsuo.
“Siap, pak!” jawab dari penelepon.
Katsuo pun menutup teleponnya dan dia mengelus-ngelus dagunya.
“Siapa sebenarnya dia? Bahkan Database dari Badan Intelijen Negara pun tidak ditemukan,” batin Katsuo.
Di Negara Bangkok, Thailand, ada sebuah gedung berlantai empat yang sangat tertutup. Salah satu ruangannya terdapat laboratorium tertutup dengan peralatan laboratorium yang lengkap digunakan oleh seorang pria paruh baya dengan mengenakan pakaian ilmuan.
“Aduhh … sakit sekali …” ucap bahasa thailand seseorang wanita yang berada di kasur kecil pasien.
Wanita itu dihubungkan ke sebuah selang yang menempel pada tulang ekornya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisinya yang sangat lemah. Dari tulang ekor itu, sebuah cairan kromosom di transfusikan ke sebuah tabung kaca yang berada diatas wanita tersebut.
Disaat penuh, pria paruh baya itu mengambilnya dengan sebuah alat khusus.
“Sempurna! Laporkan kepada Lee,” ucap ilmuan kepada penjaga yang berada di dekat pintu.
Disaat mendengarkan itu, penjaga menganggukan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan.
Dua minggu pun berlalu setelah penutupan sekolah, Irina yang dirumah sakit baru saja pulang dengan diantar oleh Ibunya serta pamannya.
“Yaaa … Akhirnya, kita sampai,” ucap Katsuo yang berhenti tepat dirumah Irina.
Paman Katsuo pun turun dan membuka pintu Irina.
“Silahkan tuan putri!” ucap Paman Katsuo
“Paman, Bisa aja!” ucap malu Irina yang turun dari mobil.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun masuk ke rumah dan Irina pergi ke kamarnya.
Setibanya dikamar, Irina melemaskan bahunya serta menghela nafas panjang.
“Ahh, akhirnya aku bisa pulang,” ucap Irina sembari menaruh barang-barangnya.
Setelah itu Irina membuka jendelanya dan bersandar dengan melihat pemandangan rumahnya.
“Irinaaa! Lu udah pulang!” teriak teman rumahnya dari bawah jendela.
Terlihat seorang pria seumurannya melambaikan tangan.
“Iya, Guaa udah pulang!” jawab Irina yang melambaikan tangannya juga.
“Irina, nanti malam aku jemput ya. Yang lainnya juga nanti ngumpul di tempat biasa,” teriak ajakan temannya tersebut.
“Iyaa, nanti gua kesana!” sahut jawab Irina.
Setelah mengatakan itu temannya melambaikan tangannya dan pergi.
Malam pun tiba, Irina diajak teman-temannya untuk nongkrong bareng di pelabuhan tapi berbeda dari malam-malam sebelumnya. Irina bersama dengan teman-temannya merayakan kesembuhan Irina dengan kembang api dan petasan serta ada yang membawa kue dengan suka ria mereka merayakannya.
Disaat mereka sudah bermain-main dan berbincang. Salah satu temannya Irina melihat orang-orang Thailand sedang membawa barang ke sebuah mobil.
Beberapa orang itu ada yang menyadari tatapan temannya Irina tersebut. Saat mereka saling menatap hingga teman irina pun kesal dan menghampiri orang Thailand tersebut.
“Nyolot benget ini orang!” ucap kesal teman Irina kearah orang-orang tersebut.
“Oi, Suryo, gak usah diladenin,” ucap Irina yang menahan temannya tersebut namun, Irina tidak dihiraukannya.
Suryo pun pergi dan teman Irina lainnya saling menatap dan memutuskan untuk mengikutinya.
“Hei, bule item. Ngapain lu liat-liat gua aah?!” ucap Suryo yang mendorong orang Thailand tersebut.
Orang Thailand itu hanya terdiam namun, matanya semakin tajam saat Suryo menarik baju dari orang Thailand.
Lalu, Suryo pun melesatkan pukulan akan tetapi tusukan pisau besar meluncur ke tangan Suryo yang membuat tangannya terputus.
“Ahhhhhhh!!!!” teriak kesakitan Suryo dan dia mundur beberapa langkah seraya memegang tangan yang terluka tersebut.
“Sialan!” umpat kesal temannya yang menghajar orang Thailand lainnya.
Dan perkelahian pun terjadi, Irina yang tidak bisa bertarung dia hanya mundur dan mengamati. Disisi lain, Irina masih trauma akan kejadian di gudang yang membuatnya ketakutan meski begitu, dia teringat akan keberanian Rain lalu, Irina pun memberanikan diri untuk menghentikan mereka.
“Semuuaaaaa, Hentikannnn!!” teriak Irina yang berdiri jauh dari perkelahian.
Tidak lama kemudian, dari sisi belakang mereka ada mobil sedan berhenti dan sosok pria berjas dan berkacamata hitam berjalan dengan tangan kanan pistol dan tangan kirinya koper kecil.
Ciung!!
Ciung!!
Tembakan tanpa suara menembaki perkelahian mereka dari orang-orang Thailand juga teman-temannya Irina. Irina yang berada dibelakang dengan cepat bersembunyi.
Irina yang melihat teman-temannya yang mati, dia tidak tahan mengeluarkan air matanya dan dia pun menangis dengan mulut yang ditutupnya.
Pria berjas hitam itu berajak ke sebuah kotak panjang disana dan mengambil tabung yang berisikan cairan lalu, dimasukannya ke dalam koper.
Suryo yang masih hidup dan sedang menahan rasa sakitnya, dia pun melompat kearah pria berjas hitam itu dan membuat pria itu terjatuh dijalan.
Saat pria berjas hitam itu terjatuh, tabung yang diambil juga jatuh dan tepat di samping Irina. Dia yang ingin membantu temannya itu, dia bergegas mengambil tabung itu dan memukulkan kepala pria berjas hitam tersebut.
“Suryooo! Ayo kita pergi!” seru Irina yang mengangkat Suryo untuk bangun dan mereka pun berlari cepat meninggalkan lokasi tersebut.
Disaat mereka berhasil bersembunyi di sebuah gang kecil, mereka mengambil nafas dan menenangkan diri.
“Mati … Semua mati … mati gua,” gumam sendiri Suryo.
__ADS_1
Irina yang mendengar gumam Suryo, dia menamparnya.
“Suryo, tenanglah!” ucap Irina dengan nafas yang terengah-engan karena kelelahan.
Suryo menjadi sedikit tenang lantaran tamparan Irina meski begitu, dia tetap menangis dengan mulut yang ditahannya. Rasa sakit ditangannya tidak lebih dari rasa sakit dia yang menghadapi pembunuh didepannya.
Sedangkan, Irina mengambil ponselnya dan dia menelepon seseorang yang bisa diandalkannya yaitu paman Katsuo namun, telepon tidak kunjung diangkat.
Setelah itu, Irina mencoba menghubungi Rain.
“Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif. Harap hubungi beberapa saat lagi!” jawab operator yang tidak terhubung.
“Surya, aku mohon angkatlah!” seru Irina seraya terus menelepon.
Irina terus menelponnya tapi tetap tidak dianggat.
“Irina, gua ngantuk banget!” ucap Suryo yang duduk didepan Irina.
Irina pun yang mendengar ucapan Suryo dan dia menyamakan ketinggian dihadapan Suryo.
“Suryoo! Jangan tidur!” seru Irina seraya memegang kedua bahu Suryo.
Suryo yang mendengar teriakan Irina membuat semangat membuka mata dirinya yang sudah tidak kuat.
“Irina, ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ucap pelan dan terbata-bata Suryo.
“Suryo, aku mohon bertahanlah!” seru Irina yang memegang tangan kiri Suryo.
Suryo yang terluka parah memaksakan dirinya untuk bicara.
“Sebenarnya, aku sudah lama menyukaimu,” ucap pelan Suryo dan dia memaksakan untuk memegang pipi Irina.
“Aku tahu!!” jawab Irina yang memegang tangan Suryo di pipinya.
“Apa kamu menerimaku?” tanya Suryo yang nadanya sudah semakin lemah.
“Hmm,” jawab Irina dengan anggukan kepala.
“Syukur-“ sebelum Suryo menyelesaikan kalimatnya, dia melemas dan menutup matanya.
“Oii … Suryoo! Bangun!” ucap dengan tangisan serta Irina yang berusaha membangun Suryo dengan menampar pipi Suryo tapi tidak ada reaksi.
Ngung … Ngung.
Irina yang mendengar suara getaran dari ponselnya. Dia bergegas mengangkat telepon itu karena didalam pikirannya Surya yang meneleponnya.
“Surya! Tolong saya!” ucap panik Irina di telepon.
“Haha … maaf, gua bukan dia. Serahkan formula itu atau bibi lu gua bunuh!” ancam orang asing.
“Iya, tolong tunggu sebentar! Gua akan kasih!” jawab Irina yang panik dan langsung menutup teleponnya.
Setelah itu Irina berdiri dan memeriksa saku jaketnya yang masih tersimpan tabung formula itu dan dia membulatkan tekad untuk pergi menghadapi mereka meski taruhannya itu nyawa.
“Suryo, Maaf! Semoga kamu damai di sana!” doa Irina ke hadapan Suryo.
Setelah Irina memanjatkan doa, dia pun meninggalkan jasad Suryo dan pergi menuju rumahnya.
Di Kantor Polisi yang besar, ada seseorang yang terkurung serta menjadi tahanan di ruangan besi yang kecil hanya ada karpet tipis didalamnya. Tapi tidak menjadi masalah kepada orang tersebut. Dia hanya menyilakan kaki serta menutup mata dan bermeditasi dalam ruangan tersebut. Orang itu tidak lain adalah Rain yang ditangkap lantaran terlibat perkelahian dan percobaan pembunuhan saat menyelamatkan Irina.
Irina sudah menjelaskan semua kejadian yang menimpah dirinya namun, Paman Katsuo tidak percaya lantaran kemampuan Surya yang diatas rata-rata bahkan Surya mampu menghindari tembakan pistol dan melumpuhkan nya.
Grubrak!! Krekkk!!
“Surya Cahyadi, anda bebas dan ada yang ingin bertemu dengan anda!” ucap seseorang yang mengenakan seragam polisi.
“Iya aku mengerti,” jawab Rain yang membuka matanya dan keluar dari tahanan.
__ADS_1
... #Rain: The King Underground #...