
...Bab 37. Setahun kemudian....
Sepulang dari bandara, Irina murung kembali dan hanya berdiam setibanya di rumah. Pada saat itu, Katsuo menceritakan semua pada waktu dibandara. Keesokan hari, Irina yang sedang berjalan-jalan tanpa sengaja dia melihat salah satu cuplikan film tentang mata-mata dan pembunuh bayaran.
Mulai saat itu, dia menonton film itu juga sejenisnya serta mempelajari bahwa ternyata orang yang disayangilah itu adalah salah satu sosok yang di film dia tonton. Irina yang mengetahui tentang itu membuat diri bersemangat kembali dan memutuskan untuk jalan hidupnya.
Katsuo dan Indah melihat Irina yang sudah riang kembali, mereka pun merasa lega.
Pada suatu saat, seusai Irina dan lainnya makan malam. Irina menganggukan kepalanya sendiri dan melihat Katsuo dan Ibunya.
“Bibi … Paman, aku telah memutuskan!” ucap tegas Irina.
“Apa?!” ucap bingung Bibi.
“Ada apa, Irina?” sambung Katsuo.
“Aku ingin menjadi polisi kriminal dan terorisme!” tegas Irina.
Indah menghela nafas panjang saat mendengar pernyataan dari anaknya tersebut.
“Semangat lah, Irina! Paman akan bantu kamu,” ucap Katsuo dengan senyuman serta dia mengelus-elus punggung Indah.
Indah pun menatap Irina dan tersenyum kepada anaknya tersebut.
“Iya, Bibi dukung kamu, Irina!” jawab senang Indah.
Irina yang mendengar persetujuan dari Bibi nya itu membuat dirinya senang dan dia pun berdiri memeluknya tersebut.
“Terima kasih, Bibi!” ucap Irina yang berada di pelukan ibunya.
“Iya … Iya,” jawab Indah.
Beberapa hari kemudian, ditempat berbeda dengan Negara berbeda, ada sebuah perusahaan yang sangat besar dikelola oleh Negara korea selatan dengan bidang bioteknologi. Tidak lain tidak bukan ialah Eternal Farmasi.
Dan, disana sedang diadakan ujian masuk untuk menjadi petugas keamanan dan ada dua pria yang sedang berdiri ditengah pertandingan. Salah satunya peserta nya ialah Rain.
“Hiya!” teriak lawan pria yang didepan Rain. Ia melompat serta meluncurkan tendangan di udara yang mengarahkan tendangan itu kearah kepala Rain.
Namun, Rain dengan mudah menangkis serangan itu dan membalas dengan memukul kakinya.Lalu, menarik kakinya dan menendang dada pria itu hingga membuat dirinya terpental.
“Pemenangnya, Lee Jo Sok,” ucap juri yang menyebut nama samaran Rain dengan mengunakan bahasa Korea.
Rain hanya tersenyum mendengarnya dan seorang wanita yang berpakaian jas hitam juga melipatkan tangannya tersenyum saat melihat aksi dari Rain tersebut.
Tidak lama kemudian, juri pun menghampiri Rain.
“Selamat, Jon Sok! anda sekarang adalah kapten dari Squad 4,” ucap juri kepada Rain.
“Mohon kerja samanya!” seru Rain yang menepuk juri dan dia pun meninggalkan ruangan latihan tersebut.
Disaat Rain melewati sosok wanita berjas hitam itu, dia pun saling bertukar senyum dan Rain pun keluar dari ruangan.
Setahun pun berlalu, pada saat ini di Negara Indonesia sedang berlangsung Asian Games dan salah satu turnamennya ialah pertandingan final Taekwondo. Seorang gadis yang memperkuat kuda-kuda pun bersiap dan lawannya berasal dari korea selatan.
“Irina!”
“Irina!”
Sahutan pendukung Irina perwakilan dari Indonesia terus berkumandang. Irina yang sedang bertanding, dia berkonsentrasi penuh dengan kuda-kuda pada tangan dan kakinya juga nafasnya yang berat.
__ADS_1
“Mulai!” teriak wasit.
“Hiyaaa!!” teriak lawan yang meluncurkan tendangan kombo.
Serangan itu berhasil ditangkis dan mengenai yang tidak begitu vital.
“Hit! 4 -4 !” ucap wasit.
“Horeee!!!” teriak pendukung korea.
“Hhuu!” sahutan pendukung Indonesia.
“Irinaaa!! Semangat!” teriak Tiara dari bangku penonton.
Tiara duduk sejajar dengan Katsuo juga Indah.
“Irina!” sambung teriak Indah.
Irina yang berada di pertandingan, dia menutup mata sejenak dan mengambil nafas dalam untuk menambah konsentrasi. Pada saat itu, dia teringat Rain yang sedang bertarung penuh konsentrasi.
“Aku pasti bisa,” gumam Irina.
“Mulai!” teriak wasit yang memulai pertandingan kembali.
“Hiya!” teriak lawan yang melancarkan tendangan lurus.
Irina pun dengan cepat memiringkan dan membungkukan sedikit badannya lalu, dia dengan melancarkan samping ke arah dada lawan.
“Hit! 5- 4. Win Red!” ucap Wasit menyelesaikan pertandingan.
“Yeeeeee!!!”
Katsuo, Indah, Tiara, dan seluruh pendukung Indonesia berdiri menyerukan kemenangan Irina.
Irina pun menghadap pendukung Indonesia dan meluruskan kedua tangannya ke atas.
Seusai itu, Irina menerima medali emas dan mengharumkan nama bangsanya. Irina yang menerima itu dia penuh dengan suka cita menerimanya juga memamerkan kepada pendukungnya.
Katsuo, Indah dan Tiara menghampiri dan memeluk Irina yang menerima medali tersebut. Tapi, saat dia melihat keatas, Irina melihat sosok Rain yang tersenyum kepadanya lalu, Rain membalikan badan meninggalkan bangku penonton.
“Surya!” gumam Irina yang bergegas lari keluar lapangan.
“Irina!” teriak Bibinya yang bingung dengan kelakuan keponakan nya tersebut.
Irina tidak peduli sekitarnya.
“Maaf! Permisi!” ucap Irina yang mendorong orang-orang yang berada di depannya agar dia bisa lewat.
Pada saat dirinya lewat mata tertuju kepadanya namun, irina tidak peduli. Dia berlari mengejar sosok Rain yang dilihatnya dari kejauhan akan tetapi dihalangi oleh kerumunan orang.
“Surya! Surya!” teriak Irina yang mendorong orang-orang dan dia terus melangkah hingga dia pun tiba diluar.
Pada saat diluar, langkahnya berhenti dan melihat sekitar luar stadion tapi Irina kehilangan jejak Rain.
“Surya, Lagi-lagi aku tidak menemukanmu,” gumam Irina yang jongkok dan menghela nafas panjang.
Sesaat kemudian, Indah dan lainnya menyusul Irina yang sudah diluar.
“Irina, sudah bertemu Surya?” tanya Bibinya dan dia juga melihat sekitarnya yang tidak menemukan sosok Rain.
__ADS_1
Irina pun menoleh kesamping dan melihat Bibinya dengan menggelengkan kepalanya.
“Aduhh! Kasian keponakan ku ini. Sini!” ucap Indah yang membuka tangannya agar Irina memeluk dirinya.
“Bibi!!” ucap Irina yang menerima tangan dan memeluk erat bibinya tersebut.
“Selamat ya! Kamu sudah memenangkan turnamen,” ucap Indah seraya mengelus-ngelus kepala Irina.
“Terima kasih, Bibi!” jawab Irina.
Dari kejauhan, Rain melihat Irina yang berpelukan dengan Bibi nya juga ditemani oleh Katsuo, Tiara dan teman-teman lainnya.
“Maaf, Irina!” gumam Rain.
Gungggg! Gunggg!
Disaat mendengar getaran ponselnya itu, Rain pun mengangkat ponselnya dengan bahasa korea.
“Jo Sok!” ucap Rain.
“Sudah dapatkah?” suara dari wanita dari ponselnya.
“Iya. Aku akan segera kembali,” jawab Rain dengan serius.
“Dimengerti! Pulanglah dengan cepat!” sambung suara wanita.
“Baik,” jawab Rain yang menutup ponselnya dan dia pun pergi dari stadion.
Dimalam harinya, Ibu Irina dan Katsuo merayakan kemenangan Irina dengan makan besar bersama dengan warga lainnya. Berbagai ucapan selamat diterima oleh Irina dari para warga juga beberapa teman sekolahnya datang mengunjunginya.
Setahun yang lalu, semenjak sekolahnya di tutup. Seluruh murid sekolah Ibu pertiwi di pindahkan terpisah di beberapa sekolah lainnya tapi Tiara serta Rendy pindah di sekolah yang sama dan mereka pun menjadi sahabat.
Pada acara itu, Randi dan Tiara pun pasti datang.
“Irina selamat ya! Maaf aku tidak bisa hadir menonton,” ucap Randi
“Apa sih? Kaya yang sama siapa aja, santai aja, Ren!” jawab Randi yang menyenggol Rendy.
“Haha … tetap saja,” jawab Rendy yang malu-malu dan dia mengarukan kepalanya.
“Oiya, Irina. Aku dengar kamu melihat Surya,” tanya Randi pelan.
“Hussst!!” sahut larangan Tiara.
“Aku juga tidak tahu. Apa aku melihatnya atau hanya ilusi saja?” ucap Irina yang menghela nafasnya.
“Iya juga tanpa terasa sudah dua tahun ya semenjak kejadian itu,” ucap Randi dengan menghela nafas panjang juga.
Tiara, Randi, dan Irina pun saling bertukar senyum saat mengatakan demikian.
Sesaat kemudian, Indah menghampiri mereka untuk makan bersama.
...# Rain: The King Underground - Season 1: Selesai #...
Hei, Guys. Terimakasih yang sudah membaca novel ku ini ya meski novel ini tergolong sepi tapi aku tetap bersyukur masih ada yang membaca nya
Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih dan
Rain: The King Underground will back ...
__ADS_1