
...Bab 38. Ujian sekolah Kepolisian...
Kring … Kring.
Suara alarm dari ponsel pintar berbunyi, disana Irina yang sedang tertidur pulas berlahan bangun dan dia meraba-raba ponselnya untuk mematikan alarm tersebut.
Lalu, dia pun berhasil mematikan alarm itu dan menarik selimutnya lagi.
“Irina!! Bangun!” teriak Indah yang masuk kedalam kamar Irina dan dia mendorong-dorong Irina.
“Sebentar dulu, Bi!” bantah Irina yang memperkuat selimutnya.
“Nanti, kamu terlambat lho! Hari ini kan ujian masuk sekolah kepolisian,” ucap Indah dengan ledek Irina karena sekolah itu adalah mimpi Irina.
Saat mendengar ucapan Bibinya itu, Irina langsung bangun dan bergegas pergi ke kamar mandi. Indah yang masih duduk di kasur tertawa kecil melihat kelakuan keponakan nya tersebut.
“Irina, Bibi sudah siapkan makanan ya dibawah!” ucap Indah yang juga berjalan keluar kamar.
“Iya, Bi!!” jawab Irina yang sudah dikamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, Irina berlari kebawah dan bergabung sarapan bersama dengan Bibinya.
“Irina, makan yang banyak agar bisa berkonsentrasi!” seru Indah yang sedang menyajikan sarapannya.
“Iya, Bi!” jawab paksa Irina yang sedang makan.
Tidak lama kemudian, Katsuo datang mengenakan seragam kepolisian lengkap dengan lencana-lencana nya datang kerumah Irina.
“Irina, Sudah siap?” tanya Katsuo yang menunggu di pintu masuk.
“Iya, paman!” gumam Irina yang mulutnya masih penuh dengan makanan. Dia pun berdiri dan memeluk Bibinya untuk berpamitan.
“Bi, aku berangkat!” sambung ucap Irina yang memeluk ibunya.
“Sukses ya dan jangan lupa untuk berdoa,” nasihat Ibunya.
“Oke, Bi! Bye bye!” ucap Irina yang keluar dari rumahnya.
Katsuo pun juga berpamitan dengan Indah. Setelah itu, Katsuo mengantarkan Irina ke sekolah kepolisian untuk melaksanakan ujian masuk.
“Sekali lagi, Irina. Paman ingin bertanya apa kamu yakin ingin menjadi polisi kriminal?” tanya Katsuo yang sedang mengendarai mobilnya.
“Aku sangat yakin Paman,” ucap Irina yang melihat kedepan dan menganggukan kepalanya.
“Bukan hanya ingin menemui Surya kan?!” tanya Katsuo lagi.
__ADS_1
“Jika aku katakan tidak itu bohong. Tapi, hal pertama aku ingin melindungi orang-orang yang ku kasihi dan orang-orang lemah yang tidak bisa melawan,” jawab Irina tegas dengan tersenyum kepada pamannya.
“Aku mengerti, Irina, aku tunggu kita bisa satu tim,” jawab Katsuo.
“Iya, paman. Aku juga mengharapkan yang sama,” ucap Irina dengan senang.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba dan Irina turun terlebih dahulu di gerbang sekolah kepolisian yang disana juga ada Rendy dan Tiara.
Mereka berdua sepakat pada waktu masih sekolah untuk menemani Irina di sekolah kepolisian untuk menjadi polisi juga.
Saat Irina datang, dia menghampiri Randi dan Tiara yang sudah menunggu di gerbang. Lalu, masuk secara bersamaan. Setibanya didalam banyak sekali yang mengikuti ujian, persaingan pun dimulai karena sekolah kepolisian hanya menerima 100 murid baru dari ribuan orang yang mendaftar.
Ujian kepolisian terdiri dari tiga bagian yaitu ujian tertulis, ujian fisik dan wawancara. Pada hari pertama, ribuan peserta melaksanakan ujian tertulis. Irina yang sudah belajar tata Negara, Hukum, dan kepolisian dari dia masih sekolah menengah atas. Tentu Irina dengan mudah mengerjakan soal-soal tersebut.
Tiga hari kemudian, hari pengumuman pun tiba. Dengan penuh ketakutan akan gagal dengan hasil ujiannya, Irina menutup layar komputernya dan berlahan membukanya,
“Iyeeeeee!!!” teriak Irina yang berdiri serta lompat-lompat dikamar nya saat dia melihat bahwa dirinya lulus.
“Ada apa sih, Irina!” ucap kesal Indah yang membuka pintu karena mendengar anak berteriak.
“Bi!! Aku lulus,” teriak Irina yang berlari kearah Indah lalu memeluknya.
“Benarkah?! Selamat ya,” jawab Indah yang mengelus-elus kepala keponakannya tersebut.
Tidak hanya Irina yang masuk ujian tertulis, Rendy beserta Tiara juga lulus dalam ujian pertamanya.
Disaat Irina yang sudah berpakaian seragam taekwondo masuk ke lapangan latih tanding, namun seorang pemuda menghampirinya.
“Maaf, mbak. Kalau tidak salah, anda atlet nasional taekwondo maka, anda secara otomasi lulus ujian ini,” ucap pemuda yang menghampiri.
“Ehh, tapi itu tidak adil buat lainnya. Saya akan tetap ikut ujian!” tegas Irina dengan suara yang keras.
Randi dan Tiara yang sudah berada disana terlebih dahulu menggelengkan kepala dan tersenyum.
Pernyataan itu membuat tertarik salah satu juri disana, dia sosok pria besar berkulit sawo mateng dengan rambut cepak mendatangi Irina dan pria yang berada di dekat Irina.
“Ada apa ini?” tanya pria besar yang melihat mereka berdua.
“Hormat, Dan! dia adalah Irina herlambang pemenang medali emas taekwondo di Asian Games tapi, Dia tetap memaksa ingin ujian fisik,” penjelasan pria yang berada dekat Irina.
“Aku mengerti! Baik, mbak. Ini juga tidak adil bagi para peserta yang kemampuannya dibawah mbak. Tapi, saya menghormati keputusan mbak untuk itu bertanding lah dengan saya. Bagaimana?” ucap pria besar memberikan saran.
“Benarkah?! Suatu kehormatan bisa bertanding dengan juri sendiri,” jawab senang Irina.
“Silahkan!” seru pria besar yang mempersilahkan untuk Irina berada di matras tanding.
__ADS_1
Para peserta disana merasa tertarik dan memberikan ruang kepada Irina untuk bertanding. Pertandingan itu juga membuat kedua juri nya merasa senang.
Setelah melakukan pemanasan dan persiapan lainnya, Irina dan pria besar itu saling berhadapan ditengah peserta lainnya.
“Ingat! Ujian fisik tidak hanya mengunakan satu jenis teknik,” ucap pria besar.
“Saya mengerti, komandan!” tegas Irina.
Sebelum bertanding, mereka pun saling membungkukkan badannya memberi hormat.
“Hiya!” teriak Irina yang memasang kuda-kuda.
Pria besar itu juga mempersiapkan kuda-kuda.
“Mulai!!” ujar wasit.
Pria besar itu melancarkan serangan terlebih dahulu dengan pukulan lurus kedepan. Irina yang mengetahui serangan itu, dia menangkis dengan tangan kirinya lalu, melesatkan tendangan lurus di dada pria besar tapi serangan itu dihalau oleh tangan kiri pria besar. Irina pun tidak menyerah, dia melompat serta memutarkan badannya untuk melancarkan tendangan samping tepat mengenai lehernya hingga membuat pria besar itu mundur beberapa langkah kesamping.
Irina dengan cepat sebelum jatuh ketahan, dia menahan jatuhan itu oleh tangannya dengan pandangan yang siaga kedepan.
“Hoo, keren!”
“Ayo Irina! Aku mendukungmu!” teriak Rendy.
Kedua Juri dan para peserta lain merasa bersemangat disaat Irina yang bisa bersaing dengan polisi senior.
Selain itu, Jenderal Besar Kepolisian Jeremy yang sedang melewati tempat ujian tertarik karena terdengar keramaian didalamnya.
“Siapa wanita itu?” tanya Jeremy yang berdiri di pintu masuk.
“Dia Irina Park, atlet Taekwondo yang baru-baru ini heboh dengan beritanya,” jawab ajudannya yang berada di samping Jeremy.
“Jadi, dia putri dari Raya Herlambang,” gumam Jeremy.
Pertandingan pun masih berlanjut,
“Hit! 1- 0!” ucap wasit.
Pria besar itu meregangkan lehernya dan tersenyum.
“Menarik! Atlet professional memang berbeda,” ujar Pria besar.
“Terima kasih,” jawab Irina yang berdiri kembali.
Pertandingan pun terus berlanjut.
__ADS_1
...# Rain: The King Underground #...