
...Bab 39. Pekerjaan Eternal ( Case: Pabrik penjualan DNA bagian 1.)...
Ujian kemampuan masih berlangsung, senior polisi yang bertanding dengan Irina bangun kembali serta meregangkan leher serta tangan. Setelah itu, Irina dan pria senior polisi berhadapan kembali.
“Mulai!” ujar wasit yang memulai pertandingan.
Irina mempersiapkan kuda-kudanya kembali untuk bertahan sedangkan, senior polisi itu mempersiapkan kuda-kudanya juga.
Mereka berdua belum ada yang menyerang dan terus berjalan mengitari satu sama lain untuk mencari celah menyerang.
“Hiyat!!” teriak Irina yang menyerang lebih dahulu dengan samping yang tinggi.
Serangan Irina pun dipatahkan oleh seniornya dan dia menangkap kaki Irina.
Lalu, membandingya hingga dia terpental dan jatuh.
“Hit! 1 -1,” ucap wasit yang melerai mereka.
“Sudah aku katakan, bukan! Dalam kepolisian tidak harus dengan satu teknik bela diri,” ucap Senior polisi.
“Iya, aku mengerti, kak!” jawab Irina yang bangkit kembali.
Pertandingan pun dilanjutkan pada ronde selanjutnya.
“Aku kalah sekarang,” ucap Irina yang tersenyum dan memiringkan kepalanya serta kuda-kuda yang sudah siap.
“Mulai!” ucap wasit.
Irina memperkuat kaki dan kepalannya dan dia melancarkan serangan tendangan lurus tapi dengan mudah seniornya menghindar.
Setelah itu, Irina menyerang dada seniornya dengan siku tangan tapi seniornya menangkis dengan kedua tangannya.
Serangan Irina pun terhenti disitu, dia pun menurunkan badannya dan melakukan gerakan tendangan memutar yang menyerang bagian bawah belakang kakinya hingga membuat seniornya itu terjatuh.
“Hit! 2 -1! Irina lolos!” ucap wasit.
“Yeeee!!”
Pok! Pok!
Suara sorak sorai dan tepuk tangan mengisi keberhasilan Irina. Kedua juri yang menilai mereka tersenyum senang juga Jeremy yang berada di pintu tersenyum bangga setelah itu, Jeremy meninggalkan ruangan tersebut.
Irina menghampiri seniornya yang masih tertidur dan tersenyum dengan tiduran.
“Maaf, ya Kak!” ucap Irina yang menjulurkan tangannya untuk membantu seniornya itu berdiri.
“Jangan panggil aku, Kak!” seru senior polisi yang menerima tangan Irina dan dia pun bangun berdiri.
“Lalu, siapa?” tanya Irina.
“Aku Bayu, salam kenal,” jawab Bayu dengan tersenyum lebar dan tangan mereka yang masih berpegangan.
“Iya, Aku Irina. Salam kenal juga!” sahut Irina yang membalas perkenalan mereka.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Irina, Rendy dan Tiara menjalankan ujian terakhirnya yaitu wawancara.
Irina yang diwawancarai oleh Bayu juga beberapa juri lainnya merasa terkesan dengan jawaban-jawabannya.
Dan ujian masuk pun selesai, pada saat Irina dan teman-temannya melihat hasil nilai. Irina terkejut bahwa dirinya peringkat pertama dari seratus orang yang masuk ke sekolah kepolisian.
Dihalaman sekolah, Irina yang duduk sejenak bersama rendy dan Tiara. Mereka dihampiri oleh Bayu.
“Kak Bayu, kenapa ada disini?” ucap Irina yang terkejut.
Rendy dan Tiara saling menatap dengan meledek Irina.
“Saya hanya mampir dan ini! Selamat ya kamu sudah berhasil lolos juga peringkat pertama lagi!” ucap Bayu yang memberikan banquet bunga kepada Irina.
Irina pun berdiri dan menerima bunga tersebut.
“Terima kasih kak,” ucap Irina yang menghirup bunga.
“Itu saja, saya pamit!” ucap Bayu yang menundukan kepalanya.
“Iya kak, terima kasih,” jawab Irina yang juga menundukan kepalanya.
Setelah itu Bayu pun pergi meninggalkan mereka. Tiara dan Rendy menyengol Irina.
“Apaan sih kalian?” ujar Irina yang mengelah ledekan teman-temannya tersebut.
Ditempat berbeda, salah satu gereja di kota seoul sedang diadakan pernikahan. Lalu, di atap gedung seberang gereja ada Rain yang sedang merakit senjatanya.
Dia mengenakan jaket hitam yang dilengkapi dengan tudungnya serta sarung tangan karet. Setelah dia merakit senjata itu, peluru es yang berada didalam kotak pun disiapkan.
“Target konfirm,” ucap Rain yang sudah tiarap dengan senjata snipernya mengarah ke target.
Target yang akan ditembaknya merupakan pejabat yang menentang dengan ekperimen yang dikerjakan oleh perusahaan Eternal dan pada saat ini, dia yang merupakan mempelai pria dari pernikahan tersebut.
“Tidak ada perubahan, lakukan!” jawab wanita yang berdiri di tengah ruangan yang dilengkapi banyak layar juga beberapa operator yang mengendalikan komputer pada ruangan tersebut.
“Baik!” jawab Rain yang memfokuskan serangan kepada target.
Ciung!!
Tanpa basa-basi, Rain menembak target itu ke kepalanya dan dalam sekejap target pun terjatuh dan sudah tidak bernyawa lagi.
“Suamiku!” teriak mempelai wanita yang berada disampingnya yang berusaha membangun suaminya tersebut.
“Maaf,” gumam pelan Rain.
Rain pun dengan cepat membongkar kembali senjatanya dan kabur dengan bantuan tim lainnya yang sudah bersiap dimobil van untuk dirinya kabur.
Rain yang selalu berhasil dan rapih dalam mengeliminasi seseorang maka, perusahaan Eternal pun memberikan target berikutnya.
Beberapa target yang diberikan oleh perusahaan Eternal ada yang sama dengan target pemberian dari Jeremy termasuk menteri kesehatan korea selatan, dia yang memberikan izin untuk peredaran obat perusahaan eternal akan tetapi karena menteri itu sering memeras perusahaan eternal menjadikannya target.
Menteri itu memiliki hobi untuk mendaki gunung maka dari itu, Rain sudah menunggunya diatas gunung.
__ADS_1
Pada saat, menteri itu lewat bersama dengan para pengawalnya, Rain dengan cepat menembak kearah pengawalnya.
Ciung! Ciung!
Suara dari kedua pistol kedap suara menembaki para pengawal menteri. Menteri yang melihat itu, dia bergegas balik badan dan berlari menuruni gunung.
“Tolong!! Tolong!!” teriak kencang menteri.
Rain dengan tenang berjalan mengikuti menteri yang melarikan diri tersebut. Ditengah perjalanan Menteri karena tergegah-gesah membuat dirinya terjatuh dan dia dengan cepat bangun kembali.
Rain yang melihat itu, dia memegang pistol dengan kedua tangannya serta menutup satu matanya untuk menambah konsentrasi dalam menembak. Matanya yang terfokus pada Menteri dengan cepat dia menarik pelatuknya.
Ciung! Ciung!
Peluru telah dilesatkan tepat mengenai kepala Menteri meski dalam jarak yang sangat jauh.
Saat keberhasilan itu, Rain menurunkan senjatanya itu dan mengambil ponselnya.
“Ketua Min, Misi selesai!” ucap telepon Rain.
“Good job! Bersembunyilah ditempat yang aman!” jawab suara wanita yang bernama Min.
“Roger!” jawab Rain yang langsung menutup telponnya.
Tidak lama kemudian, Rain mengambil ponsel satu lagi didalam sakunya.
“Ya,” suara seorang wanita muda dari telepon.
“Jung ah, kamu yakin?” tanya Rain yang menerima telepon.
“Iya, saya sangat yakin,” jawab suara Jung Ah.
“Buka tempat bedakmu. Dan lakukan dengan hati-hati,” ucap Rain.
“Baik, kak,” jawab Jung Ah.
Di pintu masuk laboratorium, sosok wanita cantik mengenakan kacamata dan rambut terkuncir ponytail dengan seragam ilmuan atau dokter menutup teleponnya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu, masuk kedalam ruangan.
“Nona Jung Ah, selamat datang!” sapa petugas keamanan di ruangan tersebut.
Jung ah pun bersikap biasa dan duduk ditempat yang biasa dirinya bekerja. Dalam ruangan laboratorium itu terdapat banyak gadis muda yang di ikat kaki dan tangannya yang ditempatkan pada kasur pasien. Tidak hanya itu, sebuah selang panjang disuntikannya pada sumsum tulang belakang di setiap wanita muda tersebut.
“Sakit!!”
“Sakit!!”
“Ibu!!”
Gumam pelan para gadis muda itu yang sudah terbujur lemas.
Jung Ah yang melihat keadaan mereka, dia membulatkan tekad untuk membantu membebaskan mereka dengan cara yang tersembunyi.
Disaat keadaan sudah sepi dan dia hanya bersama dengan satu ilmuan, dia memberanikan diri mengkopi seluruh data yang ada dalam perusahaan Eternal terutama proses ilegal itu dengan mikro sd yang diberikan oleh Rain.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, proses penyalinan berakhir. Jung Ah dengan cepat melepaskan mikro sd dari komputer dan memasukannya kedalam kotak bedak. Setelah itu dia menghela nafas panjang dan melakukan aktifitasnya seperti biasa.
...# Rain: The King Underground #...