
...Bab 29. Kasus Penjualan DNA bagian 3...
Rain yang baru saja dibebaskan dari tahanan dan bertemu Klien nya yang merupakan Jenderal besar Kepolisian Indonesia. Dia pun mendapat panggilan tak dijawab dari Irina sampai berjumlah puluhan dan Rain pun mendapat firasat buruk akan hal tersebut dan bergegas pergi ke rumah Irina.
Sedangkan, di rumah Irina banyak orang-orang berpakaian preman dengan dipimpin oleh satu pria yang mengenakan jas kantoran.
“Aishhh, kenapa gua harus disini sih?!” ucap kesal pria berpakaian kantor.
Disampingnya terdapat Bibinya Irina yang sedang diikat di kursi.
“Siapa kalian?! Mau apa kalian?!” teriak Bibi Irina kepada pria berjas tersebut.
“Oiii, Bu. Gua tidak ada urusan denganmu tapi keponakan lu. Dia telah mencuri barang kami!” jawab teriak dengan menjambak Bibi nya Irina
Katsuo yang baru saja pulang dari mencari ikan, dia terkejut saat ada orang asing yang menjaga pintu masuk.
“Indah!” gumam Katsuo dan dia berlari ke rumah Irina.
“Oi, mau apa lu? Sana pergi!” teriak nyolot penjaga pintu yang menahan Katsuo.
“Indah! Indah!” teriak Katsuo yang mengkhawatirkan keadaan bibinya Irina, Indah.
Indah yang mendengar suara Katsuo, dia pun melihatnya dan memasang wajah khawatir.
“Katsuo!” sahut balik Indah.
“Siapa sih lu? Sana pergi!” teriak pria berjas.
Katsuo tidak mempedulikan pria berjas tersebut, ia hanya mengkhawatirkan Indah.
“Indah! Kamu tidak apa-apa?” tanya Katsuo seraya melihat Indah yang terikat.
__ADS_1
Indah menganggukan kepalanya dan pria jas yang melihat itu membuat dirinya kesal.
“Aisshhh, Gua diabaikan!” teriak pria berjas dan dia memberikan kode kepada penjaga pintu untuk menghajar Katsuo.
Penjaga itu pun menurutinya.
“Pergi, Lu!” teriak penjaga seraya ingin mendorong Katsuo.
Akan tetapi, Katsuo pun menangkisnya dengan mudah dan dia membalas dengan cepat.
Rekan preman yang lain tidak terima dan mereka pun mulai maju menyerang Katsuo.
Melihat itu, Katsuo mundur beberapa langkah dan pertarungan pun dimulai. Beberapa pukulan pun dilancarkan oleh para preman namun, Katsuo dengan mudah menghindar dan menyerang balik hingga satu persatu mereka tumbang.
“Sialan!” teriak kesal pria berjas dan dia mengeluarkan pisau lalu, berlari menyerang Katsuo.
Katsuo sangat berhati-hati saat menghadapinya tapi disaat melihat selah, Katsuo langsung menangkap tanganya, memutarkan tangan pria berjas hingga pisau terjatuh lalu, membantingnya.
“Seperti yang aku duga!” gumam Katsuo.
Setelah itu, dia bergegas melepaskan ikatan Indah.
“Irina! Irina! Dimana dia? aku harus cepat menyelamatkannya?” gumam Indah dengan panik karena kekhawatirannya yang ingin beranjak diri. Namun, dihentikan oleh Katsuo.
“Indah, tenanglah! Aku akan mencarinya!” teriak Katsuo yang memegang erat kedua bahu Indah.
“Tidak! Tidak! Aku harus bergegas, ayahnya bisa membunuhnya!” sambung gumam Indah yang panik serta ketakutan.
“Indah!! Yang penting, kita harus pergi ke tempat yang aman!” ucap Katsuo yang berusaha menenangkan Indah.
Segala perkataan Katsuo tidak didengarnya,dia pun terpaksa menekan saraf leher Indah hingga membuatnya pingsan. Lalu, Katsuo membawanya ke tempat yang aman.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian sesaat kepergian Katsuo dan Indah, Irina pun datang berlari pulang ke rumahnya. Akan tetapi, langkahnya terhenti saat melihat banyak kerumunan preman yang terkapar juga ada beberapa yang memeriksa keadaannya dan salah satunya saat mereka melihat keadaan, mereka pun melihat kehadiran Irina.
“Hei, itu dia, Keponakan!!” teriak salah satu preman yang melihat Irina.
Irina yang mengetahui hal itu, dia pun bergegas melarikan diri.
“Berhenti, lu!” teriak para preman.
Pelarian Irina pun terhenti di sebuah gedung-gedung tua dan dia bersembunyi dengan menutup mulutnya.
“Keluar, lu!” teriak preman yang juga berhenti sedang mencari Irina disekitarnya.
Kreng!!
Tanpa sengaja Irina menjatuhkan sesuatu hingga membuat salah satu preman menyadari tempat persembunyian Irina.
Maka, preman pun pelan-pelan menghampiri Irina yang sedang bersembunyi. Akan tetapi, Rain datang dari belakang. Dia menotong leher preman dengan tangannya hingga membuat preman itu pingsan.
“Sialan! Lu!” teriak rekannya yang melihat Rain.
Dan pertarungan pun terjadi, Rain menghajar mereka dengan pukulan dan tendangan yang sangat cepat hingga para preman itu pun tidak bisa melukai Rain.
Irina yang tengah ketakutan di tempat persembunyian, dia pun mendengar pertarungan itu hingga membuat dirinya menutup telinga dan mata nya lantaran trauma nya belum sembuh.
Setelah beberapa saat kemudian, suara preman dan pertarungan pun terhenti. Irina pun memberanikan diri membuka matanya dan dia terkejut senang saat mendengar suara dan seseorang yang memegang bahunya.
“Kamu baik-baik saja?!” Suara Rain.
Saat Irina melihat Rain, dia pun sontak menangis seraya menganggukkan kepalanya.
Rain pun tersenyum lalu, memegang kepala Irina. "Syukurlah, kamu baik-baik saja!" ucap Rain dengan senyuman lebar.
__ADS_1
...# Rain: The King Underground #...