
...Bab 41. Pengkhianatan....
Irina, Rendy, dan Tiara sudah 3 bulan masuk ke sekolah kepolisian, sekolah itu sama seperti sekolah pada umumnya akan tetapi lebih banyak kelas fisik dibandingkan dengan teori. Kelas Teori, mereka diajarkan tentang dasar-dasar hukum pidana dan hukum pertada, juga diajarkan tentang tata Negara, social politik dan sejarah.
Irina yang berambisi untuk menjadi polisi kriminal dan terorisme, dia belajar dengan giat baik dalam mata pelajaran juga olahraga.
Dan, pada saat ini, Irina dan teman sekelasnya sedang melaksanakan tes olahraga.
“Semua berkumpul!” teriak salah satu intruktur.
Irina dan lainnya pun berbaris rapih.
“Dengarkan! hari ini adalah tes lari cepat, kalian mengerti!” tegas intruktur.
“Siap, pak!” jawab serentak dengan posisi istirahat sebentar dan kembali tegak.
Tes lari itu berbaris lima murid secara bergiliran, di kelas itu terdapat 40 siswa dengan murid campuran dari berbagai daerah di Indonesia.
Tiara dan Irina yang duduk ditanah menunggu giliran mereka.
“Ra, kamu tidak tahu ada yang memperhatikanmu disana?” ucap Irina yang mengarahkan kepalanya kepada pria jawa sedikit jauh dari mereka.
Tiara pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh Tiara dan dia melihat pria jawa itu, pria itu langsung memalingkan wajahnya.
“Ehh, mungkin dia lihat kamu kali, Na?!” ngelak Tiara.
“Cieee … Tiara!” ledek Irina yang menyengol Tiara.
Prittt!!
“Selanjutnya!” teriak Intruktur.
“Siap, pak!” jawab Irina yang ikut berdiri dan mengikuti barisan lari.
“1 … 2 … 3, Dor!” teriak intruktur yang menembak pistol udara.
Irina dan keempat pelari lainnya berlari sangat cepat tapi keempat pelari itu tidak bisa mengejar Irina yang berlari sangat cepat. Pelatihan yang selalu dilakukan oleh Irina ialah berlari setiap pagi sebelum dia masuk sekolah.
Dan dalam sekejap, Irina tiba di garis finish.
Tiara yang masih duduk menunggu gilirannya memberikan jempol kepadanya. Irina yang melihat itu tersenyum kepada temannya tersebut.
Ditempat yang berbeda, Rain yang sedang bermalam di kamar hotel bersama dengan Jung Ah melihat jam yang sudah menunjukan waktu tiga pagi. Rain bergegas menghampiri Jung Ah dan mencium keningnya.
“Jung Ah, bangun! Waktu berangkat!” ucap Rain yang membisik dengan membelai pipinya.
“Aku mengerti,” jawab Jung Ah berlahan membuka matanya dan tersenyum.
Jung Ah pun bangun, mandi dan mengenakan pakaiannya sama halnya juga Rain. Setelah itu mereka meninggalkan hotel dengan mobil Rain menuju bandara.
Setibanya disana, Rain memberikan kartu identitas dan passport baru beserta tiket pesawat menuju china.
“Ini hidup barumu, Jung Ah,” ucap Rain yang melihat Jung Ah dan memberikan barang yang dibutuhkannya tersebut.
__ADS_1
“Jon Sok! Sampai kita bertemu kembali!” pamit Jung Ah yang bergerak mendekati Rain dan mencium bibir Rain.
Setelah itu, Jung Ah membuka pintu mobil dan keluar berjalan dengan cepat masuk kedalam bandara. Rain yang melihat Jung Ah yang sudah masuk bandara. Dia pun melajukan kembali mobilnya.
Jung Ah berjalan dengan hati-hati dan melihat sekitarnya tapi saat dia menaiki eskalator ke lantai dua, dia terkejut saat melihat ketua min yang berdiri menunggu Jung Ah.
“Lama tidak bertemu, Jung Ah!” ucap Ketua Min.
Saat melihat Ketua Min, Jung Ah langsung membalikan badannya tapi, dibawahnya sudah ada beberapa anak buahnya.
Jung Ah pun dibawa oleh Ketua Min bersama dengan anak buahnya ke gudang kosong. Jung Ah diikat kaki dan tangannya di kursi.
“Jung Ah, ke siapa kamu berikan data itu?” tanya Ketua Min yang sedang memasang peredam pada pistolnya di dekat meja kecil.
Jung Ah tidak menjawab apa-apa, dia hanya memalingkan mukanya. Ketua Min pun menghampiri dan menodongkan pistolnya kearah Jung Ah.
“Katakan padaku, kepada siapa kamu berikan?” tanya kesal Ketua Min.
“Bunuh saja aku,” jawab Jung Ah.
“Baik,” ucap Ketua Min yang menodongkan pistolnya ke kaki Jung Ah.
Ciung!
“Aaaaa!!” teriak Jung Ah yang kakinya tertembak.
“Katakan kepada siapa? Kali ini aku tidak akan meleset,” ancam Ketua Min.
Disaat salah satu dari anak buah mereka memeriksa tas Jung Ah. Dia menemukan foto dirinya bersama dengan Rain diatas ranjang dan dia menunjukannya kepada Ketua Min.
“Apa? Ahh, sudah aku duga. Dasar pria bedebah! Pasti dia yang membawanya,” ucap kesal Ketua Min.
Saat Jung Ah yang melihat fotonya itu membuat dirinya terkejut.
“Jangan! Dia tidak salah! Bukan, sama dia!” teriak elak Jung Ah yang ingin melindungi Rain.
Ketua Min yang melihat sikap aneh dari Jung Ah membuatnya sangat yakin bahwa data itu berada di Rain.
“Ohh, benarkah! Jika begitu, kamu sudah tidak berguna lagi!” ucap kesal Ketua Min yang menodongkan pistolnya tepat di kepala.
Ciung!
Ketua Min pun menarik pelatuknya hingga Jung Ah terjatuh dan tidak bernyawa lagi karena peluru yang tepat di dahinya.
“Singkirkan dia! Dan sisanya kita berburu Jon Sok!” ucap Ketua Min yang membalikan badannya dan melangkah keluar.
“Baik!” jawab serentak.
Ketua Min bersama dengan anak buahnya menaiki mobi van dan pergi secara bersamaan.
Rain yang sedang tidur di rumah kecil di daerah perkebunan terbangun saat mendengar langkah kaki yang datang mendekati. Rain pun langsung mengambil senjatanya dan saat dia dekat jendela.
Dor! Dor!
__ADS_1
Sebuah tembakan beruntun dilesatkan dengan sigap Rain menghindar dan mencari tempat berlindung.
Brak!
Pintu pun tertobrak dan pria berjas melemparkan gas asap agar menuntupi pandangan tentu hal itu mempermudah Rain menghabisi mereka. Disaat beberapa dari mereka masuk.
Dor! Dor!
Satu persatu Rain melumpuhkan mereka.
“T1, lapor!” ucap Ketua Min yang melihat monitor tapi tidak ada jawaban.
“T5, Back up, T1!” sambung perintah Ketua Min.
“Roger that!” jawab T5.
Drettttttt!Drett!!!
Tembak beruntun dilesatkan oleh tim T5 ke dalam rumah. Setelah beberapa saat, tembakan terhenti dan mereka melihat keadaan di dalam tapi tidak terlihat.
Buk!
Tinju dadakan dari Rain mengenai pipi pria berjas dan dia melintirkan tanganya lalu mengambil senjatanya.
Drettttt!!!
Rain yang sudah mengambil senjatanya itu dengan cepat melumpuhkan pria berjas lainnya.
“T5, Lapor! T5!” suara dari earphone pria berjas yang sudah terkapar.
Rain pun mengambil earphone tersebut.
“Lama tidak bertemu, ketua Min!” ucap Rain.
Ketua Min yang terkejut saat Rain yang menjawabnya.
“Jon Sok, cepat serahkan data itu!” jawab Ketua Min.
“Bagaimana jika jawabannya tidak?” tanya Rain.
“Jika begitu berarti salah satu dari kita harus ada yang mati,” jawab Ketua Min.
“Sangat disayangkan, baiklah. Jika kamu bisa!” ucap ledek Rain
“Baik,” jawab Ketua Min dan dia pun menutup teleponnya.
Setelah itu, dia membuka jaketnya dan mengambil senjata rifle. Lalu, pergi ke luar. Begitupun Rain, dia berlari kearah bagasi mobilnya dan mengambil senjata lasar panjang juga.
Ketua Min sudah meneropong Rain yang mengambil senjata dari kejauhan.
Pada saat, Rain berjalan ada pantulan cahaya dari kejauhan yang membuat Rain menyadari bahwa itu dari senjata.
Ciung! Brak!
__ADS_1
Tembakan Ketua Min dilesatkan tapi meleset dan Rain berhasil bersembunyi dibalik mobil.