Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Prolog


__ADS_3

Emely merangkak bak seekor siput dengan cangkang batu di pundak. Darah serta lumpur membalut tubuhnya, ia terlihat seperti sosok monster yang bangkit dari kobaran api di belakangnya.


Kengerian ini mengaburkan mata serta semua angan yang mendekam di kepala berbulan-bulan lamanya. Angan akan sebuah pernikahan bahagia. Menghitung jam saja, ia akan menjadi pengantin dengan semua rencana yang sudah tersusun apik. Enam bulan lalu, dinaungi pesona emas musim gugur pria yang dicintai melamarnya. Gaun pengantin putih, dengan kilauan manik-manik manis, tanpa lengan dengan buntut panjang di belakangnya akan menjadi baju kebanggaan sebab ia mendesainnya sendiri selam satu bulan penuh.


Napasnya terengah-engah, sembari terus merangkak, petaka ini mengubur mimpinya. Tiga jam yang lalu dia menerima tawaran adik iparnya Jessica untuk melakukan perawatan di salon bersama Mellanie, adik dari Ibu Marvin, Sasya, anak dari saudari Ayah mertuanya, dan Owen kekasih Sasya yang menjadi sopir. Secuil rasa curiga tidak mengusik benak, toh sebentar lagi setelah ikrar terucap, dia menjadi bagian dari keluarga itu, selama ini pun hubungan mereka berjalan baik-baik saja.


Semakin lama mereka berada dalam mobil ia sadar Owen membelok ke arah jalan menjauh dari kota. Emely tidak memiliki kesempatan bertanya, ocehan Melanie dan Sasya lebih banyak mengambil ruang.


Cahaya matahari perlahan lenyap saat awan gelap mengarak membalut langit biru. Mesin mobil berhenti, hanya suara gemeresik dedaunan diembus angin sayup-sayup mengalun. Emely melirik keluar mendapati mereka berada di dalam lorong pepohonan gelap.


"Ap .... " kata dari mulut Emely terpotong, Sasya membungkam mulutnya dengan sapu tangan biru. Mellanie menyodorkan botol kecil berbau menyengat hingga napas Emely tercekat. Sontak dia memukul tangan wanita gemuk itu lalu mendorong tubuhnya hingga cairan dalam botol itu jatuh membasahi karpet mobil.


Sebelum dia melakukan gerakan lagi, Jesika menangkap tanganya mengikatnya di bagian belakang, sedangkan Owen menekan kaki pendek Emely.


Ia mati kutu di dalam ikatan erat. Keempat orang itu menyeretnya keluar dari mobil.


Langit mulai menumpahkan tangisnya seolah ikut berduka atas apa yang terjadi. Emely menyenggol tubuh Sasya yang mencengkeram tangannya, lalu menendang Kaki Owen cukup keras hingga ia berhasil meloloskan diri, ia memacu otot kakinya memasuki hutan, jalan utama lebih mulus dan mudah dilewati, sayangnya tekanan membuat otaknya beku sesaat.


"Keluar dari sana, wanita gila!" jerit Mellanie. "Kau membuat kami kerepotan! Kejar dia Owen!"

__ADS_1


Emely memaksakan tubuhnya terus bergerak menyibak dedaunan serta semak berbunga penghalang jalan, lalu lintas pikiran macet belum bisa mencerna kejadian ini, semenit yang lalu mereka tertawa dan sekarang semua begitu mencengkam.


Akar pepohonan raksasa timbul dimana-mana, tanah coklat lengket bukan pijakan sempurna untuk sepatu bertumit. Ia terjebak.


"Ayolah!" Emely menunduk berusaha melepaskan benda putih itu, bertelanjang kaki memijak ranting tajam serta dedaunan busuk.


Emely berhenti sejenak, dadanya naik turun dengan cepat, matanya menyapu keliling, berharap rimbunnya tanaman bisa menyembunyikannya.


"Aku pasti sudah cukup jauh!" batinya, namun saat itu juga sengatan rasa sakit menyerang tengkuk. Ia jatuh terjerembap di tanah basah, kepalanya pusing, tatapan berubah nanar dan semua menjadi kabur, ia hanya bisa memasrahkan diri diseret.


Kelopak mata Emely terkatup, sengatan hawa dingin menusuk hingga tulang, syarafnya bahkan tidak mampu bergerak. Air menerobos masuk ke dalam hidungnya saat dia bernapas. Kelopak matanya terbuka lebar, balok-balok es mengambang di atas tubuhnya. sontak dia meronta, berusaha menendang air, ia tidak tahu bagaimana caranya berenang, kedua tangan pun masih terikat di depan dada dengan sebuah tali panjang. Dia menarik tali coklat itu sekuat tenaga hingga tubuhnya terangkat dan keluar, menepi ke dinding bak penampungan air.


"Dia cukup kuat juga dan kita harus mengubah semua rencana,” omel Jessica. "Lihat balok-balok es yang kita bawa akhirnya tidak berguna."


"Padahal kita bisa langsung menghilangkan nyawanya." Jessica mengelus tongkat baseball di tanganya. Gadis anggun itu terlihat seperti pengantin iblis sekarang, kelembutan lenyap dari paras cantiknya.


"Tidak, biakan dia mati perlahan. Lebih menyenangkan," kata Sasya.


"Apa yang ingin kalian lakukan?" suara Emely nyaris tenggelam.

__ADS_1


"Tentu saja kematianmu," geram Mellanie.


"Kenapa?"


"Kenapa?" suara Jessica meninggi, "pernahkah kau berkaca? Kau sama sekali tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kami. Kau hanya gadis miskin, Ibu tidak akan membiarkan anak satu-satunya menjadi pendamping wanita seperti kau!"


"Gadis berlemak seperti kau bukan pendamping yang pantas untuk, keponakanku" sindir Mellanie melupakan timbunan lemak yang berlepit-lipit di tubuhnya sendiri.


"Harusnya perpisahan kalian sudah berlangsung lama, bahkan sebelum pertunangan kalian terjadi." Jessica menimbang tongkat di tangannya.


"Intinya kau tidak diperlukan lagi."


"Dan malam ini adalah akhir perjalanan, Emely!" Sasya tersenyum lebar membersihkan pisau berujung lancip dengan ujung jaket kulitnya.


Kesakitan demi kesakitan dicoret pada kulit Emely, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara untuk meminta pertolongan, setelah puas, mereka meninggalnya dalam keadaan setengah sadar kehilangan banyak darah.


Samar-samar hidungnya membaui aroma bensin, api sudah mulai melahap dinding rumah tua itu.


Dengan sisa tenaga yang tidak seberapa, ia merangkak keluar meloloskan diri di sebuah cela di dinding. Mengapa dia harus mendapatkan perlakuan sekejam ini, begini tragiskah cara hidupnya berakhir? Derita ini jelas menghancurkan momen berharga yang sebentar lagi harusnya terjadi. Suara petir menggema di angkasa menenggelamkan jeritan terakhirnya.

__ADS_1


__ADS_2