
Tangan Emely bergetar di atas selang oksigen yang menutupi wajah Jason. Pria itu terbaring dengan mata terkatub dan perban menutup pergelangan tangan kananya. Lebam menutupi sebagian wajah. Luka lecet di beberapa bagian tubuhnya. bibir Emely bergetar, kemarahan, kekesalan dan kebencian bergumul menjadi satu di bola matanya. Dia ingin menyingkirkan selang oksigen dari wajah Jason, biarkan saja pria itu mati. Sama seperti apa yang sudah dia lakukan padanya. Sisi baik hatinya benar-benar mati, ia tidak keberatan mendekam dalam jeruji besi setelah ini. Akan tetapi mendadak dia kehilangan tenaga setelah ia berhasil menyetuh masker.
Lututnya kehilangan keseimbangan dia tumbang di sisi tempat tidur. Andai Calum tidak memintanya untuk mejaga pria itu, ia tidak akan mendekam di sini. Ada banyak pelayan di kastil tapi mengapa dia yang harus ada di sini?
Emely menarik rambutnya sendiri, kepalanya berputar-putar dunianya makin gelap, dia tidak tahu siapa yang harus dia percaya kini dia mulai kehilangan jati dir. Kenyataan terus membentur kepalanya, semakin lama semakin menenggelamkannya dalam kegelapan, dia tak kuat lagi. “Bunuh saja aku,” desisnya.
Emely berusaha berdiri menjauh dari tempat tidur mendekat ke arah jendela kaca, ia memperhatikan taman rumah sakit yang diterangi cahaya lampu taman. Bayanganya terpantul pada kaca, eyelinernya luntur , rambut mengembang tak tentu arah, ia menarik topi jaket menutupi kepalanya menghindari udara dingin. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai. Ia terus terjaga nyaris sepanjang malam, sebelum dia benar-benar tidak merasakan apapun lagi-lagi.
Matahari belum tampak ketika Emely dibangunkan oleh dokter yang melakukan check up. Linglung dia berjalan keluar dari ruangan perawatan Jason dan duduk di kursi tunggu. Ia merasa bodoh tetap di sini, tapi dia tidak mau terus memaksakan diri untuk berkedara dan membahayakan dirinya sendiri, dia memang mungkin akan mati, tapi setelah semua urusannya selesai.
“Ruanganya di sini,” suara yang dia kenali mengejutkannya, Nari.
“Apa kami boleh masuk?” tanyanya polos pada Emely. Dia tidak mengenali Emely sama sekali. Ia datang bersama Ibunya dan seorang juru masak.
Emely menggeleng perlahan, mulutnya terlalu lemah untuk mengucapkan kata.
“Dokter sedang memeriksa di dalam,” jelas Ibu Nari pada anaknya.
Lama tak bertemu, Nari sedikit berbeda gadis berkepag dua dengan pipi gemuk merah merona itu makin tinggi.
__ADS_1
“Kaka baik-baik saja?” Nari duduk di sisinya.
Emely mengangguk, tanpa menunjukkan muka dia terus tertunduk.
“Kaka lapar? Aku memili roti,” tawarnya lagi.
Emely menggeleng, sifat anak kecil itu masih sama.
Emely berdiri dan kemudia pergi tanpa pamit pada mereka. Dia merasa tak tahan dengan situasi canggung itu, lagi pula masih banyak hal yang belum dia selesaikan.
***
Merasa lebih baik setelah beristirahat di apartemen, Emely menimang kunci kastil pemberian Calum. Tak lupa dia menyisipkan pistol di saku jaketnya. Dia bukan lagi Emely yang sama, jika perkataan Calum tentang hal yang belum dia ketahui di kastil adalah jebakkan dia bisa menjaga dirinya. Mereka berniat mengambil nyawanya, sebelum itu terjadi dia lebih dahulu melumpuhkan mereka.
“Lelaki bodoh,” katanya “jika dia benar-benar ingin melupakkan wanita masa lalunya, kenapa dia tidak menurunkan saja bingkai-bingkai itu.”
Perlahan dia menarik kain kelabu penutup lukisan.
“Tiffani...” namaitu meluncur setelah matanya menangkas isi bingkai. Jason berjas putih dengan wanita bergaun merah, dia tidak mungkin salah dia adalah Tiffani. Emely menyimpan rasa penasarannya sebentar, dia beralih pada bingkai kedua. Benar ada hal yang belum diketahui. Foto itu adalah foto Jason bersama Marvin dengan dua wanita berupa sama.
__ADS_1
Emely mendorong meja ke arah lukisan, kemudian dengan susah payah dia meneliti foto itu, ada tulisan tanggal di pojok bawah lukisan dan kata tunangan.
Emely tersenyum miris. Tiffani memiliki kembaran dan dia adalah tunganan Jason. Itu adalah alasan Jason memintanya membalaskan dendam pada keluarga Marvin. Masih ada potonganPuzzle yang hilang. Emely mengacak-acak kamar pria itu, mencari dokumen. Dia memeriksa lemari tapi tidak ada apa-apa. Laci nakas hanya berisi data-data Jason. Ia berdiri, melangkah keluar setelah membating pintu dan memecahkan kaca bingkai lalu mengotori wajah-wajah orang dalam lukisan dengan coretan cat.
Dia menyelinap ke belakang, ke rumah tua tempatnya dulu di rawat. Dia harus tahu perawatan macam apa yang digunakan padanya. Sama seperti yang dia lakukan pada kamar Jason mengacak rumah itu. Dia menemukan botol-botol berisi cairan busuk.
“Ini tidak akan menjawab,” katanya pada dirinya sendiri. “aku harus bertanya pada orang lain.”
Emely keluar dari rumah, dia berjalan perlahan kembali ke kastil matanya menyapu seleuruh tempat besar itu.
“Atap,” desinya.
Emely mendadak mengingat tempat itu, ia pernah dimarahi oleh Jason karena berada di sana. Tak lupa dia mengambil sebuah kursi agar bisa dengan mudah memanjat ke temapat bersisi meja. (Lupa? Baca dari awal wahahaha)
Tempat itu masih sama, ada taplak putih dan seikat bunga nyaris mengering. Emely menyibak taplak meja dan menemukan 1 kotak besi di bawah meja. Untuk membukanya dia harus memasukan kode berupa angka. Emely mencoba memasukkan tanggal pertunangan mereka tapi tidak bisa, tanggal lahir Jason juga tidak bisa. Ia mengambil hp mencari tanggal lahir Tiffani lalu memasukkannya, kotak terbuka.
Sebuah kertas bertuliskan Geofani ada di bagian atas. Dia membuka isi kotak perlahan, isinya adalah foto-foto kembaran Tiffani dalam berbagai gaya dan semuanya berada dalam ruangan tertutup.
Pada bagian bawah, terdapat sebuah kertas keterangan dari dokter.
__ADS_1
“XP” Emely menyeritkan dahi “Jason, aku tahu kenapa kamu tidak pernah menyukai matahari.”
Emely mengingat foto di kamar Jason, memang semua sudah direncanakan. Hanya ada satu hal yang perlu dia ketahui, ia akan ke rumah Marvin sekarang.