
Hari minggu di awal bulan November menampilkan hamparan pepohonan dengan daun mengguning. Tekanan udara mulai membuat tubuh bergetar saat tidak mengenakan baju hangat. Aroma khas kopi hangat bercampur dengan coklat meruyak memenuhi udara. Emely masih menggenakan piyama saat naik ke atas blakon kastil tanpa pengaman sama sekali. Rasa takut akan tergelincir di tangga batu berlumut tidak terbesit dalam benaknya.
Setelah berminggu-minggu dia tidak menatap elok rupa mentari pagi, sekarang hari ini adalah kesempatan emas. Dimana dia bisa melupakan semua kenangan masa lalu, semua masalah yang sedang dia perangi dan paling penting, mengosongkan pikiran dari semua rencana balas dendam, sebentar saja dia ingin kembali menjadi dirinya sendiri.
Polesan orange perlahan mulai terlukis di ufuk timur. Matanya terpaku di sana, atap kastil ini cukup tinggi. sejauh mata memandang hanya lah puncak-puncak pohon, makin jauh ada bayangan hitam besar, barang kali danau.
Emely mengalihkan pandanganya sebentar, dia tertarik untuk berpindah mengelilingi atap kastil. Kelihatan dari sisi manapun atap bangunan ini adalah segi tiga, tapi ternyata dipuncak kastil sedikit jauh dari tempatnya berdiri sekarang ada sebuah tempat yang lebih tinggi dan bisa digunakan untuk melihat seluruh tempat ini.
Sayanganya tidak ada apapun yang bisa digunakan untuk ke sana. Emely meraih kamera polaroid yang sengaja dia bawa, yah barang pemberian Calum, katanya benda itu sudah waktunya berada di museum. Sedikit berjinjit, karena tidak bisa melihat dengan jelas ia mengakat kamera tinggi di atas kepalanya. Gadis yang memakai jaket wol coklat dan piyama biru toska itu berusaha mengambil gambar. Dia terlalu cepat bergerak sehingga foto yang tampil buram.
Dia mencoba lagi. Sebuah batu bata coklat tergeletak tak jauh dari kakinya. dia meraih benda itu untuk dijadikan pijakan. Sebuah gambar baru tercipta. Isinya sebuah meja bertaplak putih kusam sebagian sobek, juga dua buah kursi mengapitnya.
__ADS_1
Sudah lama sekali tempat ini di tingglkan. Emely sendiri sudah menjelajah hampir ke seluruh kastil termasuk gudang penyimpanan anggur, tidak satupun tempat terkotor selain atap ini. Genangan air, kotoran burung, daun-daun kering menjadi warna kontras dengan dinding dan lantai batu yang menghitam, terlupakan.
Emely memperhatikan dengan teliti dinding menuju puncak atam yang tingginya mungkin 1 meter lebih. Dari bentuk dinding yang kasar dan warnanya lebih pucat dari bagian lain, pernah ada tangga di sana dan sengaja dibongkar.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara dingin penuh kekelaman mengisi keheningan pagi.
“Mencari telur burung untuk sarapan,” jawaban sempurna mebuatnya tercebur ke dalam lautan kebohongan, basah dengan sempurna.
“Turun sekarang, ini bukan tempatmu! Siapa yang sudah memintamu kemari? Akan aku pecat dia hari ini juga.”
“Dengarkan aku Jason! Tidak satu pun dari mereka yang memberitahuku tentang tempat ini, aku datang kemari atas kemauanku sendiri. Aku menemukannya ketika Calum menyiksaku akibat sepotong roti, dia memintaku untuk berlari naik turun tangga selama 20 menit.” Emely menjelaskan dengan tubuh bergetar, sulit rasanya harus kembali mengingat masa pahit itu. Nyatanya program diet eksteram ala Calum tidak membuahkan hasil. Dia memilih membuat menu diet baru sekarang, tubuhnya perlahan mulai menunjukkan perubahan, kehilangan sedikit lemak berlebihan di tubuhnya berhasli membuat ujung hidungnya nampak, dan lipatan di bawah dagu mulai menghilang.
__ADS_1
“Berjanji padaku, ini terakhir kalinya kamu kemari!” Jason mengacungkan jari kelingkingnya.
Dengan malas, Emely menyambut tatapanya menuju arah lain, berpura-pura melihat langit padahal dia malas melihat wajah Jason, kenapa pria berhati iblis itu terlihat makin tampan sepagi ini.
“Turun, the Sun will be come and i have to go!” Jason mendaratkan tanganya lembut pada pipi Emely lalu mendorong kepalanya perlahan agar bisa menatap wajah gadis berwajah cemberut itu.
“Can i ask you something?” Emely menahan tangan Jason sebelum pria itu pergi. “Why you hate the sun?”
“The sun is a killer,” suara Jason datar.
“What? Sun give you breathe. Bagaimana caranya pohon menghasilkan oksigen jika cahaya matahari tidak ada? Memang kamu robot? Tak membutukan udara segar untuk bernapas?”
__ADS_1
“Untuk apa udara yang tercemar? Merusak paru-paru.dan berheti mengikuti Edith, menjadi cerewet dan banyak bertanya. Urus saja kehidupanmu sendiri!”
Emly mengepalkan tangan, dia menatap langit “Zeus, Neptunus kuatkan aku menghadapi iblis satu ini!”