Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
You Have To Know


__ADS_3

Derit suara kursi roda menekan lantai kayu berdebu. Emely tak dapat menahan rona bahagianya untuk kembali melihat dunia luar. Kemarin bersama Nari, dia hanya sampai di beranda rumah kayu yang dia tepati. Hujan gerimis menahan dirinya untuk tetap berada di sana. Dinding kayu bagian luar dicat putih, lapisan cat sudah mulai terkelupas. Langit masih mendung hari ini.


Bola mata Emely bermain menyusuri pepohonan cemara yang mengapit satu sama lain. Bonsai dengan pangkasan paling rapi yang pernah dia lihat. Jalanan di depannya terbuat dari susunan batu kali hitam, di sekelilingnya rumput hijau tumbuh dengan subur. Di sisi teras sebuah meja di letakkan, ada labu kuning di bagian bawah dan lilin di bagian atas meja. Sedikit aneh melihatnya, rasanya seperti berada dalam rumah penyihir.


Emely menahan gejolak di perutnya, ini masih pagi dan dia belum pernah merasa selapar itu. mungkin Nari akan kembali  mengantarkan bubur pahit buatan Patricia seperti apa yang disampaikan oleh Jason.


Dia merapatkan jaket wol coklat ke tubuhnya, Nari memberikan penutup kepalanya kemarin, gadis kecil itu seketika saja mengulurkan benda itu padanya saat dia bersin begitu mereka keluar dari rumah. Harus dia akui dia dikelilingi orang-orang baik. Sepahit-pahitnya ucapan Jason, dia hanya memiliki satu tujuan untuk kesembuhannya.


Betah memang menetap di tempat ini, keramahan ini membuatnya berada dalam fase nyaman. Tapi suara tempatnya berasal memanggilnya pulang. Dia rindu pada kasur di kamarnya, teman-temannya keluarganya. bagaimana keadaan orang-orang di luar sana apa mereka menghawatirkan dia? Lagi-lagi dia kembali pada sosok Marin, kerinduan masih saja mendekam dalam dadanya.


Emely mencoba mengingat, tanggal pernikahannya adalah 24 Juni, dan Jason bilang sekarang adalah bulan Oktober, itu artinya sudah 5 bulan dia di tempat ini. Selama ini pula sudah pasti banyak hal merepotkan yang terjadi karena keberadaannya.


“Selamat pagi,” suara riang khas Nari menyusup kesunyian.


“Hay,” balas Emely.


“Nona, ada yang ingin menemui Anda hari ini, dia akan menemai nona sarapan.”


Mata Emely menatap Nari teliti, bajunya berganti warna. Kemeja putih dan rompi serta rok abu-abu. Dia tidak menemukan kebohongan di sana.


Seratus persen keyakinannya orang yang akan dia temui adalah Jason. Wajahnya tidak tampak kemarin, hanya Nari yang menemaninya sepanjang hari. Dia masih ingat ketika wajah gadis itu tertutup asap jelaga hanya menunjukkan kedua bola matanya. Dia sempat menanyakan tentang keluarga Nari.  Kakek buyut mereka berutang budi pada keluarga ini dan bersumpah mengabdikan diri pada mereka. “Keluarga Tuan besar sama sekali tidak keberatan kami meninggalkan keluarga mereka dan menjalani kehidupan di luar, tapi kata Ibu, akan lebih baik kami di sini. mereka semua baik hati,” jelas Nari.


Nari mendorong Kursi roda dengan pelan, dia menyadari betapa rapuhnya wanita yang tengah duduk. Tubuh Emely naik dua kali lipat selama perawatan ini. Orang lain akan mengalami penurunan berat badan, tapi dia malah menjadi makin gemuk. Gelambir tercetak jelas di bawah dagu, dan lengan. Lingkaran pinggang makin lebar karena lapisan lemak makin menumpuk. Entah apa jenis perawatan yang diterapkan dalam tubuhnya.

__ADS_1


Jalanan berliku yang mereka lewati diapiti jajaran pohon tinggi, hingga tampak lah sebuah bangunan gotic di depan Mata Emely. Dia makin yakin dia berada jauh dari kota kediamannya. Mana ada tempat seperti ini di tempatnya berada.


Benar, dia berada di kastil. Dia mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Nari dan menunjukkan betapa bodohnya dia tentang  bentuk bangunan dan menyembunyikan betapa terpukaunya dia dengan tempat ini. Apakah dia sedang terlempar ke masa lalu, berabad-abad jauh dari abad ke 21, di mana jaman kerajaan masih berlaku. Tapi apakah tingkah mereka serupa dengan perlakuan Jason? Jelas saja itu terlalu jauh, dia sama sekali tidak memiliki sikap keluarga atau penghuni kerajaan jaman dulu.


Mereka tiba di sebuah tempat dengan meja biru, bertaplak putih. Di atasnya di takhtakan minuman hangat mengepul, roti panggang, barisan selai aneka rasa dan beberapa kue dalam kotak kaca. Emely memperhatikan lantai, ada bekas kaki kursi. Sepertinya salah satu kursi dipindahkan untuk tempatnya.


Nari pamit pergi. Aroma makanan di depannya benar-benar makin membuat penghuni perutnya mengamuk tak tahan. Tapi dia berusaha mati-matian agar dia bisa menahan tata krama.


“Maaf aku terlambat,” suara terdengar dari belakang.


Emely tersenyum saat berbalik, berharap yang datang adalah Jason. Bukan dugaanya salah 100 persen. Pria yang satu ini berbeda. Emely langsung berbalik dengan wajah merona merah, pasalnya pria itu tidak mengenakan bajunya. Dia meraih baju yang ada di kursi di depan Emely. Hal yang sama sekali tidak di sadari sedari tadi.


“Aku pikir kamu bangun terlambat seperti orang sakit lainnya. Kata Jason kamu biasa bangun kesiangan.”


“Oh, ya aku Calum, dan kau?”


“Emely.”


“Baik lah Emely Casedy,” kata Calum serius, “ada yang ingin aku tanyakan padamu. Tapi sebelumnya aku baru pulang olahraga. Kamu lapar? Makan saja, aku sedang dalam program diet.”


“Dia tahu namaku, kenapa harus bertanya?” Batin Emely.


“Jadi, katakan padaku apa alasan yang patut kamu perjuangkan atau alasan paling mendasar yang membuatmu ingin sembuh?”

__ADS_1


“Alasan?” dahi Emely berkerut sebentar. “Aku rasa, bisa menemui Marvin dan mengatakan padanya betapa buruknya perlakuan keluarganya padaku.”


“Kamu sadar bukan, kamu cukup lama berada di sini, apakah kamu tidak memikirkan kemungkinan, andai kata  pria tunanganmu itu Martin Alesandro sudah melupakanmu kamu dan malah berpihak pada keluarganya. Kamu tahu seperti dalam drama seseorang bisa saja melupakan siapa pun yang mereka cintai karena hasutan.”


“Tidak! aku percaya pada Marvin. Aku sudah pernah dia tinggalkan selama 6 bulan dan tetap kembali, jadi aku tidak memiliki alasan untuk meragukannya.”


“Baik-baik, itu keputusannya. Jadi sebaiknya kamu harus melewati tahap penyembuhan terlebih dahulu.”


“Di mana Jason?”


“Dia bilang padaku untuk tidak memberitaimu.” Calum menyambar sepotong roti dari meja.


“Bukan kah ....”


“Ya, jangan katakan ini pada orang-orang. Caramu makan membuatku ikut lapar.”


“Tapi, aku rasa tubuhmu sudah sempurna tidak seperti aku ....”


“Tenang saja, aku tidak keberatan membagi tips diet.”


“Oh, ya aku detektif bayaran yang akan membatumu.”


“Oh?” yang benar saja, tambah Emely dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2