Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Let The Sun Kiss You


__ADS_3

Berat rasanya Emely membuka kedua matanya setelah kejadian semalam. Dia menarik napas rupanya kejadian semalam hanya mimpi, sekarang dia di tempat tidur dengan bantal putih empuk. Mimpi yang sulit dia defenisi, entah buruk atau bisa dianggap aneh.


Semalam angin mendadak berhembus kencang. Emely memaksakan diri untuk turun dari gendongan Jason. Awalnya pria itu tidak menggubris, lalu kemudian dia mengalah setelah gadis bergaun merah itu mengatakan dia kedinginan.


Angin awalnya hanya menggoda rating-ranting pohon dan menerbangkan deretan daun kuning kecoklatan di jalanan. Perlahan sang angin makin menunjukkan siapa dirinya. Jalanan panjang dengan gedung-gedung bergaya gothick. Tadinya sempat dilalui oleh beberapa orang mendadak menyepi. Bahkan tidak ada kendaraan yang lewat.


Emely menyambar tangan Jason dengan tangan kanannya, tangan lainnya sibuk menahan gaun agar tidak berselewiran ke segala arah dengan seenak hati. Emely bisa bersyukur tubuhnya tidak seringan balon, ia dapat mebayangkan jika tubuhnya melayang ke udara dan Jason akan memegang tanganya layaknya tali pengikat.


Ia hanya mengekori langkah kaki Jason kemana dia akan pergi. Dia mendadak terkejut ketika mereka berada dalam satu ruangan hangat. Dengan cahya terang menyilaukan.


“Dimana kita?” tanya Emely bingung.


“Montel,” jawab Jason.


“Montel?” Kedua alis Emely menukik bingung.


“Ya, mana mungkin kita pulang dengan keadaan badai seperti di luar. Jangan bersikap bodoh!”


“Ia, aku tahu. Maaf.” Kepala Emely menunduk.


“Dua kamar,” kata Emely sembari berailh pada tubuh pria gemuk sang pemilik montel.


“Maaf nona, kami hanya memiliki 3 kamar dan... dua di ataranya sudah penuh.” Aku sang pemilik montel.


Jantung Emely tertahan, suara amukkan badai di luar sana menjadi pengiring yang sempurna bagi ketegangan yang melandanya tiba-tiba.


“Ayo!” Jason menarik tangan Emely.


Emely menenangakan dirinya agar semuanya baik-baik saja. montel ini benar-benar sederhana. Ada satu tempat tidur yang bisa menampung 3 orang. Dan sebuah kursi goyang, sebuah nakas ungu muda dengan lampu tidur di atasnya. Dinding kayu bercat krem di bagian depan dan sisanya di tutupi wallpaper bunga lily. Sebuah kamar mandi dan satu cermin. D


“Aku akan tidur di kursi,” kata Emely cepat sebelum Jason bicara. Dia cukup merepotkan malam ini.


“Tempat tidur ini cukup untuk kita berdua,” Jawab Jason sembari melepaskan sepatunya juga jas yang dia kenakan.


“Ti...”


“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu sama sekali bukan objek yang layak di sentuh!”


Emely meonyongkan bibirnya, dia berjalan ke kamar mandi mebasuh wajahnya. Enggan rasanya dia kembali ke tempat tidur.


“Oh, gaun yang malang.” Ujarnya sembari mengelus gaun ditiubuhnya. Sebentar lagi akan menjelama tak karuan karena digunakan sebagi pakaian tidur.Dia kembali ke kamar setelah meneliti sikat di gigi di kamar mandi, rasanya aneh saja tidur tanpa menyikat gigi.


Jason meletakkan bantal guling di tengah tempat tidur. Dia tidak langsung berbaring tapi duduk di tempat tidur semabri membolak-balik majalah bola, entah dari mana.


“Suka bola?” Tanya Emely basa-basi. Jelas sekali wajah Jason hanya melihat untuk menghabiskan waktu.


“Hm,”


“Bohong!”


“Jadi mau mu?” kedua alis Jason terangkat dengan jidat berkerut.


“Aku ingin tidur.” Emely berkata dengan cepat. “Boleh bertanya, apa kamu akan tidur dengan kaca mata itu?”

__ADS_1


“Tidak!”


“Kenapa tidak dibuka?”


“Aku benci warna mataku! Dan tidak satupun menyukainya.”


“Kamu tahu itu adalah warna terindah yang pernah aku lihat. Aku sangat menyukai kedua bola matamu. Jika kamu meberiku izin, aku ingin menatapnya setiap waktu.”


“Tapi aku tidak suka menatapmu,” sahut Jason. Tapi dia menurunkan kaca matanya.


“Sombong!” celetuk Emely. Dia menarik bantal lalu menepuknya seperti yang biasa dilakukan Thomas dalam Tom and Jarry. Lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tepat di sisi tempat tidur, agar jauh-jauh dari Jason.


Dia memejamkan mata sebentar sebelum dia kembali bangun dan menyambar selimut. Tubuhnya kedinginan.


“Hei! Mana bisa seperti itu,” protes Jason.


“Kamu laki-laki, kamu lebih kuat dari pada aku!”


Jason menarik Emely mendekat. “Lihat kulitku dan kulitmu, apa berbeda?”


“Ya, kamu jauh lebih putih. Kamu kan tidak pernah membiarkan cahaya matahari mencium kulitmu!” balas Emely sengit.


Jason terdiam sebentar lalu mendorong kepala Emely pelan. mata mereka bertemu beberapa saat, menceoba menyelami masing-masing hati.


“Kamu ingin dongeng sebelum tidur?” Emely bertanya dengan konyolnya.


“Mungkin...” Jason tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.


“Tidur lah!” Jason mengusap kepala Emely perlahan. “Sudah waktunya anak kecil tidur.”


“Good night.” Bisik Emely sebelum dia memejamkan kedua matanya mengahdap ke arah lain tempat tidur.


***


“Hanya mimpi,” ucap Emely setelah dia benar-benar sadar. Dia berniat bangun dari tempat tidur. Semangat paginya mendadak hilang merasakan ada yang menahan tubuhnya. Emely berbalik, wajahnya tepat bertemu dengan wajah Jason.


“Damm!” Dia mendesis. Tanganya berusaha melepaskan pelukan Jason, tapi pelukan Jason begitu erat. Jari tanganya menyentil hidung mancung pria itu, tapi tidak ada respon sama sekali. Dia menggerakan jarinya lagi mengecek jika makluk itu masih bernafas.


“Wake up, Mr. Vampir!” ingin rasanya dia menguncang tubuh pria itu.


Jason membuka matanya perlahan dengan malas dia melepas tanganya dari Emely tanpa rasa bersalah. Lalu kembali tidur.


Gadis dengan gaun merah itu berdiri dengan cepat keluar meminjam telpon pemilik montel menelpon iblis yang sudah mengacaukan malamnya.


Pria itu muncul dengan segar di depan montel. Senyuman langsung luntur dari wajahnya melihat rupa Emely di depan montel. Wajahnya seburuk badut IT, rambut tidak beraturan, di tambah lagi dengan bekas kopi yang tercetak di atas bibir. Beberapa siswa berpakaian seragam sekolah menterawakan Emely. Calum melemparkan senyuman pada mereka sebelum menyeret makluk hutan yang duduk di kursi depan montel. Tempat bergaya klasik dengan deretan pohon cemara serta deretan batu di atas tanah membuatnya menjadi latar sempurna untuk gaun merah Emely sebagai gadis menakutkan.


“Apa yang kamu lakukan di sini dengan pakian seperti ini?” semprot Calum.


“Apa? Aku? Kenapa aku? Seharusnya semalam kamu yang melepaskan kami di tempat pesta. Pergi begitu saja tanpa pesan!”


“Kami?” Calum menampilkan sejuta rupa yang sulit dipahami.


“Ia, aku dan Jason.”

__ADS_1


“Kalian tidur 1 kamar?”selidik Calum.


Emely hanya mengangkat alis sebagai tanda setuju.


“Apa?” kedua mata pria itu terbelalak dengan sempurna menonjolakan bola matanya. setengah bergetar menyentuh bahu Emely. “Apa kalian...”


Tangan Emely melayang dengan cepat mendorong kepala pria berambut pirang itu. “Tentu saja tidak. Jangan berpikir macam-macam!”


“Dimana Jason?”


“Masih tidur.”


“Sungguh?”


“Kenapa wajahmu terlihat sangat menyangsikan?”


“This the first night. Jangan bangunkan dia. Biarkan dia tidur.”


“Hah? Pinjami aku uang, aku akan kembali terlebih dahulu ke kastil.”


“Tidak. Kamu belum membayar uangku yang terdahulu,”


“Aku sudah meyicil setengah!”


“Oh, ia aku lupa. Sana rapikan rambut dan basuh wajah burukmu itu. kamu nyaris mirip dengan penyihir pemilik jelaga tua, berisi mantra penua.”


Calum selalu sempura dalam hal merangkai kata sindiran.


“Kenapa tidak dibangukan?”


“Biarkan dia tidur. Apa kah kamu menyadari, ini kali pertama dia terlelap dalam tidur dan tidak bangun sepagi biasanya.”


“Dia pasti kelelahan setelah menghadapi amukan badai semalam atau, tempat ini berhawa baik. Kenapa tidak beli saja sekaligus.”


“Ku rasa bukan karena itu...” ujar Calum penuh misteri.


Jason baru bangun pukul 11.00. Dia terlihat jauh lebih baik. Dia muncul dengan kaca mata hitam lagi. Rambutnya masih awut-awutan.


“Ayo pulang!” Emely berdiri dengan cepat dari kursi kayu yang dia duduki selama beberapa jam.


“Tidak secepat itu...” Kata Calum dan lihat dirimu Emma Gwen. Aku akan sangat malu satu mobil denganmu.”


“Calum!” geram Emely “akan kubakar mobilmu.”


“Aku bercanda ayo!”


Emely menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil, membiarkan sepoian angin menyentuh kulitnya, dan membiarkan cahaya matahari mencium kulitnya.


“I love the sun light,” ucapnya.


“I hate it,” celetuk Jason.


“Matahari sehangat ini tidak akan menyakiti kulitmu. Just let the sun kiss you”

__ADS_1


__ADS_2