
Bayangan terpantul pada kaca besar dihadannya. Emely enyadari dua hal yang berubah dari dirinya, warna kulit yang memucat, berat badan meningkat. Wajahnya masih sama dan soal rambut, Calum memberikan sebuah rambut palsu panjang seukuran dengan rambutnya dulu. Bekas luka di wajannya di tutupi dengan bbb cream dan taburan bedak. Lipstick merah maron tertempel pada bibir pucatnya. Gaun biru yang rupanya dengan gaun yang dikenakan oleh Alice in the wonderland ketika masih kecil. Stocking putih menutupi bekas lecet pada kakinya.
Percikan perbedaan pendapat antara Nari dan Calum sempat terjadi. Menurut Nari, dia menjadi orang lain, dengan rupa yang cantik dan menurut Calum, dia tampak seperti pemeran dalam opera Phantom.
Ememly sendiri tidak nyaman dengan ketebalan make upnya. Protes sama saja dengan dia tidak menghargai usaha Calum untuk mendadaninya terlihat sama dengan Emely yang dulu. Mereka membongkar galeri foto Emely di Facebook. Bukan Calum kalau dia tidak memberiakan penilaian paling tidak masuk akal, sulit dicerna. Baju yang dia kenakan adalah baju favorit Marvin.
Baju itu pertama kali Emely kenakan ketika ulang tahun Marvin. Dress codenya bukanlah cosplay pakaian Desny, tapi long dress. Hanya ada baju itu di lemarinya, dan waktunya sanggat terbatas, hanya ada 30 menit. Pekerjaan di kantor cukup banyak di hari itu, dan Charly berdiri dengan mata terbelalak di depan pintu kamar siap menyeret sewaktu-waktu dia berubah pikiran. Dan kejadian itu sebelum mereka berpacaran.
Emely sukses menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dan mengahncurkan ulang tahun Marvin malam itu. Setelah dia selesai bersalaman, Emely memutuskan untuk kabur dan menghilang saat itu juga.
Tanpa sepengetahuannya Marvin membuntuti. Tempat di adakannya pesta cukup membuat kepalanya pusing. Di sebuah vila di tengah rimbunan pohon pinus. Emely menyakinkan diri cukup berjalan ke arah cahaya dia akan menemukan are parkir lalu menunggu di sana dengan tenang. Nyatanya dia malah kehilangan arah dan tiba pada sebuah tempat lapang. Cahaya bulan berpendar memenuhi tempat itu. dia terpaku menatap langit. Sangat jarang bisa melihat langit ditaburi ratusan bintang di tempatna berada, cahaya lampu mengurangi keindahan angkasa, namun kali ini hanya ada bulan dan prajurit cahaya.
Sepenuhnya dia lupa, dirinya tak berada di tempat yang aman jauh dari keramain dan sulit menemukan jalan pulang, hanya terpaku membiarkan angin mencium kulit wajahnya. meluaan wajahnya sempat memerah dan mata berkaca-kaca karena tatapan mencemooh orang-orang dengan pakaian anehnya itu.
“Kamu suka?” Marvin muncul di belakangnya.
Emely tersentak sesaat, dia meranik napas dengan cepat. “Maaf, aku salah jalan...”
“Aku tidak menyanyakan hal itu,” sela Marvin “kamu menyukai tempat ini?”
__ADS_1
“Aku hanya mengaumi langit, bukan lapangan datar ini.” jawabnya jujur.
“Aku tahu itu. apa yang membawamu kemari?”
“Aku kemari karena undangan yang di berikan oleh Charli. Marah saja padanya dia memaksaku untuk ikut acara ulang tahunmu dan aku malah mengacaukannya. Maaf, tenang aku akan pulang sekarang juga.”
Marvin tersenyum, lama sekali lekukan manis itu terbingkai pada sudut bibirnya, kemilau cahaya bulan merengkuh mereka berdua.
“Kata siapa kamu mengacaukan ulang tahunku? Aku senang kamu datang. Aku tidak akan menyalahkan Charli, aku malah harus berterima kasih berhasil memaksa gadis rumahan seperti dirimu keluar dari rumah.”
“Aku bukan gadis rumahan,” gerutu Emely. “Aku hanya malas untuk keluar malam-malam begini.”
Emely menunjukan wajah tololnya, sama sekali tidak mengerti. Dia sudah terbiasa mendaatkan pujian cantik palsu dari ratusan orang yang berusaha menyenangkan hatinya. Dia juga sadar tampang imut dari cermin hanya ilusi belaka.
“Terima kasih untuk hinaanya,” Kata Emely canngung, dia meragukan ucaan itu.
“Aku serius. Aku pernah bermimpi gadis berpakaian seperti ini datang menemuiku di sini. kamu tahu, ini rahasia tapi aku menyukai Alice in the Wonderlan. Aku berharap bisa berpetualang, sama seperti dia.”
“Itu mimpi hanya mimpi, biarkan aku pulang. Bisa minta bantuanmu? Tidak baik lah, aku akan pulang sendiri.”
__ADS_1
“Kamu percaya ke ajabain Emely?”
“Tentu, hidupku adalah keajaiban.”
“Apa kamu percaya, jika aku bilang kehadiranmu di sini sekarang adalah keajaiban?”
Emely mengelengkan kepalanya perlahan, ragu. Dia juga baru menyadari nada bicara Marvin jauh berbeda lembut dan tenang, barang kali dia berhadapan dengan pria mabuk.
“Tidak pernah ada perempuan yang datang kemari, berdiam seperti apa yang kamu lakukan.”
“Ini hanya kebetulan, aku tersesat.”
“Bagiku kamu tidak tersesat, tapi dituntun oleh...”
“Hantu? Tidak, tidak jangan membuatku takut.”
“Suara hatimu Emely. Percaya pada ku.”
“Baiklah, tapi... kalau aku sudah berada di sini mau kamu apakan aku?”
__ADS_1
“Jadilah kekasihku?”