Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
You


__ADS_3

Kemarahan sudah membakar seluruh tubuh Emely sejak sejam yang lalu, kini bara-bara kebencian mengitari dirinya, jelas terlihat polesan merah meraup pipi gemuknya. Ia sama sekali tidak memahami mengapa Pinkan dan Charlie mengajaknya makan malam di restoran China tapi mereka belum menampakkan diri, pesan agar dia tetap menunggu mereka di sana terus menerus masuk ke ponsel, namun mereka tak kunjung menampakkan muka.


“Apa Anda sudah menemukan pilihan makanan, Nona?” wanita berpakaian merah menyala dengan wajah seputih salju yang sedari tadi memperhatikan Emely kembali menanyainya.


Emely menggelengkan kepala dengan senyuman terpaksa, ia dapat merasakan nyeri pada kedua ujung pipinya. Menyakitkan sekali. “Temanku belum juga datang, aku akan menunggu mereka sebentar lagi.”


“Baiklah, karena bukan hanya kalian yang ingin menikmati masakan kami!” Omel wanita kurus itu sembari berlalu.


“Cukup!” seru Emely lantang, dia tidak mau lagi menunggu kedua manusia terkutuk itu, mereka sudah cukup menyiksanya diacara pameran kemarin, ia akan pergi dan memutuskan mengakhiri semua hubungan mereka, toh selama ini dialah yang selalu dalam posisi terimpit.


“Kemanah?” suara dingin yang paling tidak ingin dia dengarkan mendadak membekukan langkah kaki Emely.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Emely merasa bodoh baru melemparkan pertanyaan itu.


Marvin mengembuskan napas, lalu menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum sesaat. “Kau juga mendapatkan undangan makan malam dari Charlie?”


Emely mengangguk lemas.

__ADS_1


“Mereka juga mengajakku, aku di sini hampir satu jam.”


“Kau bercanda, aku bahkan tidak melihat batang hidungmu.”


“Tentu saja, kau terlalu sibuk dengan kemarahanmu sendiri.”


“Mereka tidak akan datang, percaya padaku, atau jika mereka benar datang saat tempat ini tutup. Sebaiknya aku pulang saja, selera makanku sudah hilang.”


“Tapi perutmu mengatakan sebaliknya!” ejek Marvin mendengar suara alam menggerutu dari perut gadis di hadapannya.


“Aku akan makan di rumah saja.” Emely menyambar tasnya dari sandaran kursi. Marvin menahan tangannya.


“Heh, kau pikir aku tidak bisa membayar makananku sendiri?” Emely tidak tahu mengapa dia selalu mengeluarkan nada ketus ketika berbicara pada Marvin, mungkin terpengaruh pada kesan pertama yang sudah terpatri di kepalanya.


“Aku akan memesan pangsit, sekarang duduklah lagi!” Marvin menekan bahu Emely membuatnya duduk.


“Kekasihmu akan membakarku nanti.” Emely berusaha membuat alasan agar bisa pergi.

__ADS_1


“Itu yang akan terjadi jika kau yang menjadi kekasihku,” balas Marvin menatap Emely serius.


“Menjadi kekasihmu?” Emely seakan tersedak, langsung terbatuk-batuk.


“Ya, kenapa tidak?”


“Kau bisa memilih wanita lain, dan itu bukan aku. Bukan!” ketegasan Emely berikan pada kata terakhirnya.


“Dan aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu. Ingat itu baik-baik.”


“Kau gila! Baiklah, katakan saja jika kau menyembunyikan kamera di sekitar sini untuk mempermainkanku!”


“Mungkin.”


“Kau makin aneh, aku benar-benar akan pergi sekarang!”


“Pesanan kita sudah tiba.” Lagi-lagi tangan Marvin menahannya. “Ayolah Emely! Aku mohon, aku butuh seorang teman.”

__ADS_1


“Seorang teman? Begitu tidak dibutuhkan kau akan menendangku. Bukankah demikian?”


“Aku sudah mengenalmu, bagaimana bisa aku menendangmu.” Tatapan sayu terpajang dibalik lensa kaca mata Marvin, lutut Emely mendadak lemas, dia mengalah duduk di depan Marvin. Meja Restoran cina itu menjadi saksi bisu ujung rajutan kisah mereka, Marvin si pria kesepian dan Emely manusia yang terlalu banyak bicara menjadi pasangan manis yang terkenal di seluruh kota. Mereka sudah menjadi pasangan paling bahagia seharusnya kalau saja semua kejadian kelam itu tidak pernah terjadi.


__ADS_2