Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Alone


__ADS_3

Awan kelabu **** langit biru. Pemberitahuan yang muncul di kolom koran pagi baru saja menghinggapi ingatan Emely. Badai akan kembali malam ini. Gerakkan kakinya lamban, tenaganya menguap saat Jason meninggalkannya. Masih terlalu jauh antara tepatnya berada dan kastil.


Emely sama sekali tidak memikirkan bagaimana dirinya ketika badai menyambangi. Paling dia akan menjadi salah satu korban badai dan akan muncul di kolom koran halaman depan. Dia jauh lebih kawatir pada Nari dan sang Ibu juga Calum. Mereka pasti akan medapatka semprotan kasar dari Jason, bagaimana jika mereka sampai diusir dari kastil sama seperti yang dia alami kini? Hal buruk tidak boleh terjadi pada mereka, biarlah dia yang menanggung semua itu, karena salahnya memasuki ruangan berisi mesin jahit dan deretan gaun mewah di sana. mungkin kah harga berlian dan mutiara pada setiap baju begitu mahal sehingga dia tidak sudi kehilangan sebutir pun. Siapa kah wanita yang memiliki gaun-gaun itu? mungkin kah itu milik Ibu Jason atau kekasih bahkan mungkin Jason sebenarnya sudah memiliki istri dan gaun pernikahan yang ada di dalam sana adalah gaun pernikahan milik kekasih Jason?


Hembusan angin menggerakan ujung rambut Emely. bola matanya menatap ke arah angkasa. Awan gelap pekat sepenuhnya mengambil alih. Godaan sang angin makin tak terbendung. Suara gesekan ranting-ranting pohon mulai terdengar merisaukan. Emely sendirian di jalanan panjang. Udara terus bergerak dengan cepat dan kali ini membawa tetes-tetes air hujan bersamanya.


Gadis berjaket biru itu sempat terpaku, setelah dia sadar hidupnya dalam bahaya, dia menggerakan mata secepat mungkin mencari tempat untuk berteduh. Tidak ada satupun rumah, dia berjalan melwan arah angin. Kakinya susah untuk di gerakan, pandangan matapun mulai sulit untuk di paksakan.


Langkah berat itu mengantarnya pada sebuah pondok di tepi jalan. tempat itu memiliki serambi luas. Pintunya tertutup rapat. Mungkin tidak lagi berpenghuni. Serambinya cukup luas dengan dinding kayu mengapit segala sisi, jadi Emely bisa menyembunyikan diri dalam sana.


Dia berjongkok di sudut. Merapatkan lutunya ke arah perut. Tanganya menarik topi jaket sekaligus menutup telinga, berusaha agar jeritan badai tidak merusak indra pendengarannya kelak.


Rasa pening menyambangi dirinya. Harusnya memori itu tidak mengoodanya sekarang. Badai ini mengingatkannya pada malam penyiksaan. Wajah-wajah penuh kebencian menyayat kulitnya, menjambak rambutnya, memukulinya. Rasa sakit saat itu kembali menyiksa kulitnya. Dia tidak lagi berada di sana tapi rasa sakit itu kembali.


Emely mememngai kepalanya. Pusing, pandanganya mulai berkunang-kunang. Semakin kencang amukan badai ini semakin dalam dia terjatuh dalam luka lamanya. Dia bukan lagi Emely tapi seorang Emma Gwen. Memori itu masih sama sekalipun kini dia adalah orang yang berbeda.


Ranting kering, dedaunan, sampah, bahkan beberapa serangga di terbangkan angin ke arahnya. Air telah memasuki jaket yang dia kenakan, perlahan merembes menggapai kulit.

__ADS_1


Kristal bening pun bergulir menghangatkan pipi kurusnya. Kepalanya terus berdegung. Berteriak pun percuma. Jason benar-benar telah membencinya. Dia terus merikuk dalam kesendirian membiarkan kedinginan menusuk bak serpihan kaca. Mengiklaskan angin menamparnya, menikamati setiap siksaan alam sendirian.


***


Koakan gagak menyadarkan tidur panjang Emely. Dia bangun di kelilingi oleh dedaunan, ranting-ranting kering sampah plastik beraneka macam. Beberapa bahkan menempel pada rambutnya. Topinya tersibak oleh angin. Dia heran sendiri bagaimana bisa semalam dia terlelap dalam badai.


Emely meraih hp di sakunya, mati total kehabisan arus. Dia bangkit berdiri. Jaket lembab melekat di tubuhnya. Ia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk berjalan. Ia upayakan untuk bergerak agar bisa kembali ke kastil. Layaknya gelandagan penampilan benar-benar kacau balau.


Dia berhasil menahan sebuah taksi. Kali ini dia tidak butuh izin atau apapun lagi. dia tiba di kastil mengendap masuk ke dalam kamar dan mengumpulan semua barang-barangnya bergegas untuk pindah. Ia lebih baik menjauh dari pada melihat wajah marah Jason.


“Aku tidak mebutuhkan pita rambut itu, aku ingin kaka ada di sini...”isak Nari.


Sulit sekali bagi Emely untuk tidak memeluk Nari, dia tidak kuasa lagi membendung air mata. Hanya saja tangisannya bisa mengoyahkan pendiriannya sekarang. Dengan dada sesak dia berjalan menyeret koper keluar dari kastil.


Dia menelpon pemilik montel tempatnya menginapnya dulu, dia akan menginap dulu di sana selama beberapa hari sampai mendapatkan tempat tinggal.


Hari ini dia meminta Nari mengawasi Jason, benar-benar seperti apa yang dia katakan kemarin, dia tidak ingin melihat Emely.

__ADS_1


Sebelum dia pergi, Emely menyelipkan selembar surat di bawah pintu kamar Jason.


“Aku minta maaf jika kelakuanku keterlauan. Seperti apa yang kamu inginkan tidak ingin melihat wajahku. Aku lakukan itu, aku masih menjadi bawahan mu. Instruksi kan saja apa yang perlu di lakukan melalui e-mail. Tapi jika mengirim pesan pun kamu enggan. Lakukan apa saja yang kamu ingin kan. Termasuk nyawaku.”


“Kemana kamu?” Calum menahan tanganya sebelum dia masuk ke dalam taksi.


Emely tidak bisa mengucapkan apa-apa. Dia hanya terpaku menapat Calum.


Tangan Calum mencengkram kedua bahu Emely. “Katakan padaku apa yang terjadi!”


Air mata yang berusaha dia endapkan tumpah. Emely memeluk Calum, cukup lama, ini yang dia butuhkan.


“Aku tidak kemana-mana Calum, hanya saja jangka waktu ku di sini sudah habis. Kamu masih menjadi saudaraku bukan?”


“Tidak!” Calum melepaskan tubuh Emely dengan kasar. Hal pertama yang dilakukan oleh pria itu.


Emely menahan napasnya, “sendiri untuk awal yang baru.”

__ADS_1


__ADS_2