Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Meet you Again


__ADS_3

“Emma Gwen?” wanita bertubuh gemuk mengulangi nama baru dari Emely. Dia mencocokan foto dari dokumen palsu milik gadis di depannya. “Baik lah, tunggu sebentar di ruangan tunggu.”


Emely melangkah menuju ruangan tunggu kantor distributor milik keluarga Marvin. dia melamar ke bagian gudang, sebentar lagi dia akan diwawancara. Rambut palsu berwarna hitam lurus sebahu, kulitnya sengaja Calum polesi dengan pewarna kulit menjadi coklat, satu tingkat lebih gelap dari kulit aslinya. Kacamata bulat menempel di hidungnya, juga pakaian rapi dan necis, kemeja biru dan bawahan rok hitam, dia menekan lemak yang belum hilang dengan korset. Jauh dari jiwa sesungguhnya.


Matanya menngawasi seluruh ruangan tunggu. Ruangan tamu ada di sisi berhadapan. Nampaknya pemilik tempat ini sedang kedatangan tamu. Dia duduk dengan posisi kaki layaknya cara keluarga inggris duduk, dia mengangkat kepala, menatap lurus ke pohon palem mini di depannya, seakan-akan matanya memancarkan cahaya laser siap membakar tempat itu.


Pintu ruangan tamu di buka, yang keluar dari sana adalah sosok paling menakutkan di alam semesta, Calum. Dia bahkan tidak mengatakan dia akan datang. Penampilannya sedikit berbeda saat berada di Kastil. Dia menggenakan kemeja putih dibalut jas hitam tak lupa dasi merah maroon di lehernya. Menyusul Marvin keluar bersama seoarang lekaki paru baya berdasi. Paling belakang adalah mantan calon mertuanya Ayah Marvin. Tampaknya dia lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.


Paulo Fernandez, dia adalah terbaik dari semua. Wajahnya memang terlihat kurang bersahabat, pertama kali mereka bertemu tubuh Emely bergetar hebat, tapi setelah dia memasang senyuman, semua kegundahan itu hilang.


“Nona,” Calum tiba-tiba mendekatinya menyodorkan selembar sapu tangan. “Ada noda di kaca mata mu,” dia berbisik lembut sekali, kesan malaikat mut ciri khasnya luntur.

__ADS_1


Dia berubah pagi ini, menyodorkan roti high protein untuk Emely, juga segelas susu yang dia ambil sendiri di kandang sapi.


Sapu tangan? Kening Emely berkerut, tidak memahami maksud dari pria itu. Kain putih itu dia balik, menemukan tulisan tangan Calum. ‘Berhenti duduk layaknya Manekin seperti itu, kamu lebih menakutkan dari Annabell.’


Emely menahan napas, menurunkan kembali tekanan darah mendidih. Dia sendiri merasa tidak betah, tapi Marvin adalah sosok yang paling mengahafal tingkah lakunya, dia tidak mau gagal. Belum juga dia di terima kerja, malah langsung pulang dengan tangan kosong. Demi apapun, ia tidak mau menggenakan wik mengembang berwarna pirang, rencana penyamaran kedua dari Calum. Juga paling penting pria aneh itu tidak mau mendengarkan apapun penolakannya dan Jason.


“Emma Gwen” suara sang wanita gemuk bergema.


Dia berhenti sebentar di depan pintu, menarik napas sekaligus membuat suaranya berubah. Tapi tanpa usaha pun, suaranya sudah berbubah serak, tentu saja ide gila dari Ayah tirinya, Calum. Dia mengunci Emely di ruangan bawah tanah, memaksanya berteriak sepanjang satu jam.


Tapi seketika langkahnya berheti kembali tepat setelah dia membuka pintu, ada tiga orang pegawai lain di sana bersama dengan mantan kekasihnya. Emely melupakan ini, bagaimana caranya menghadapi mantan.

__ADS_1


“Emma Gwen,” ucap Marvin. “Apa motivasimu bekerja di sini?”


“Tentu mendapatkan uang Tuan,” jawab Emely datar.


“Baik, jawaban yang jujur.”


“Yah,”


“Kamu orang pertama yang menjawab pertanyaan sejujur ini,” senyum mereka di bibir Marvin.


Aku tahu, seperti apa kamu Marvin, batin Emely. Dia *** kedua tanganya di balik meja, rasanya dia belum siap untuk bertemu lagi dengan Marvin.

__ADS_1


Pria itu menatap bola mata Emely, sejenak semua memont bersama kembali merekah. Emely yang dulu sudah mati, tapi rasa di dalam dadanya masih sama.


__ADS_2