
Suapan demi suapan bubur dengan rasa super pahit berusaha Emely telan. Ia menyeritkan dahi, terkadang menahan napasnya ketika benda lengket itu lengser ke tenggorokkanya. Dia bisa muntah kapan saja, namun dia bersusah payah menahan gejolak perutnya. Bukan karena dia lapar dan itu satu-satunnya makanan yang tersisa, tapi tatapan tajam dari pria berkacamata hitam yang hingga detik ini belum dia ketahui namanya. Dia melipat tanganya merapatkan tubuh pada dinding.
Badai berkecamuk di luar sana, ruangan gelap ini sama sekali tidak bisa mengurangi suara amukkan badai. Benturan keras di luar, mungkin salah satu pohon tumbang dan menghantam dinding. Benturan itu membuat debu pekat di dinding bertebaran, mengenai kaca mata pria itu.
Emely menghentikan aktifitanya sebentar, dia memfokuskan matanya pada pria itu, ia penasaran bagaima rupanya tanpa kaca mata sialan itu. nyatanya dia tidak membiarkan gadis itu menatap bola matanya. Dia meneutup matanya ketika dia menurunkan pelindung matanya.
Emely kembali fokus dengan bubur di tanganya, dia kembali makan dalam diam.
“Teh hangat?” tanya pria itu.
“Ya,”
“Aku heran, kamu bisa menghabiskan bubur itu. padahal aku asal memasaknya.”
“Hah?” mata Emely terbelalak.
“Aku bercanda.”
“Tidak lucu Tuan.” Emely nyaris membanting mangkok keramik di tangannya. Tapi dia masih berusaha menahan amarah.
“Jangan memanggil ku Tuan. Aku memiliki nama.”
“Bagaimana aku tahu namamu, sedangkan engkau mengkeramatkan nama itu.”
“Jasen.” Jawabnya nya kemudian.
Mulut Emely mebentuk huruf O. Jasen keluar dari ruangan. Mata Emely menjelajah dengan leluasa melihat isi ruangan, . Lampu pijar kemarin sudah diganti dengan lampu yang lebih terang.
hanya ada lukisan bunga Lily di dinding kayu. dan sebuah meja kayu yang salah satu kakainya patah dan di sandarkan di dinding. Jendela kaca ditutupi dengan tirai hitam, mendekati kusam.
Ia sudah bersusah payah melatih dirinya untuk bisa duduk dengan baik, kakinya masih cukup kaku, tidak bisa dipaksa.
Jasen muncul kembali dari balik pintu, dengan sebuah ketel beruap panas, dan nampan berisi satu cangkir putih dengan motif bangau biru. Dia menuangkan air panas ke dalam cangkir dengan lembut. Lalu menyodorkan cangkir itu pada Emely, dia masih tidak terseyum dari kemarin.
“Terima kasih,” kata Emely.
“Sebentar, aku ambilkan madu. Kau sudah berjuang menelan bubur pahit buatan Patricia, minuman manis akan membuatmu lebih baik.”
__ADS_1
Mata Emely berubah nanar, dibalik sikap anehnya pria ini baik juga, mereka bersama selam ini, kalaupun Emely belum mengenalnya, seberapa buruk sebenranya pria itu, dia akan tetap menjadikannya yang terbaik. Yang kedua setelah Marvin.
Nama itu kembali terniang dalam ingatan Emely. Bagaimana kabaranya, dia merindukan Marvin, ingin kembali berada dalam dekapan sayang pria itu. dia memang sama sekali tidak romantis, selayaknya idaman setiap wanita tapi ketulusannya, adalah dambaan dari semua orang.
“Jika badai redah, ku rasa kamu ingin keluar.”
“Tentu tapi, kaki ku...”
“Kursi roda akan membantu. Setelah kamu sembuh siapa orang pertama yang kemu temui?”
“Orang pertama itu kamu bukan?” Emely balik bertanya.
Jasen melipat tanganya. “Aku bertanya serius”
“Marvin, orang tua ku, siapapun.”
“Jika aku perhatikan dari bentuk wajahmu, kamu bukan gadis yang tegar, kamu hanya gadis manja, dan lemah terhadap pria.”
“Aku memang sedikit manja, tapi tidak lemah terhadap pria enak saja.”
“Jasen, bisakah kita membahas hal lain. Bulan berapa sekarang?”
“Oktober”
“Ah, Hellowin sebentar lagi.”
“Kenapa kamu mengalihak pembicaraan?”
“Rasa tidak perlu membahas tentang aku, aku ragu melihat ku seperti ini apa orang-orang mengenali aku?”
Emely menggerakan tanganya meraba kepalanya dengan rambut sepnajng 1 inci. Rambutnya di pangkas habis karena luka di kepalanya.
“Rambutmu bisa tumbuh kembali. Hanya saja perasaan seseorang yang pernah mencintai mu, apakah dia bisa merekah kembali setelah kamu dianggap hilang dari hidupnya.”
“Aku tidak tahu.” Emely menarik selimut yang menutupi tubuhnya. Udara dingin menyelimuti tubuhnya. ya bagaimana jika dia sudah dia angap mati oleh mereka.
“Kembali lah tidur, besok kamu akan kembali ke kamar besar itu.”
__ADS_1
Emely menurut, selama ini dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang dirinya.
***
Pagi itu, Emely dikejutkan oleh suara pintu berderit. Emely membuka matanya. Jason tidak mematikan lemapu ketiaka di pergi semalam, tapi seseorang baru saja masuk dan mematikan lampu. Kini dia mengedap-endap medekati jendela. Barangkali orang itu takut membangunkan sosok di tempat tidur. Dia menyibak tirai jendela perlahan, dia sama sekali tidak menyadari dia sedang diperhatikan.
Wajahnya berubah pucat ketika dia berbalik dan mendapati Emely menatapnya.
“Maaf, apakah anda terbangun karena saya. Tuan muda meminta saya untuk tidak membuat anda terbangun.”
“Tidak apa-apa,” sahut emely lembut menatap wajah gadis kecil itu, usianya mungkin 11 atau 12 tahun.
“Sungguh?” wajahnya berubah ceria.
Mata Emely jeli menatap pakaian gadis itu, dia menggunakan gaun putih mengembang jaman Victoria panjang hingga betisnya. Dia memakai penutup kepala yang cukup aneh.
“Siapa namamu?” tanya Emely.
“Nari,”
“Nari, apa yang kamu lakukan di sini?”
“Saya diminta oleh Tuan muda membersihkan kamar ini,”
“Bisakah kamu menemaniku keluar, lagi pula tempat ini terlalu kotor untuk kamu bersihkan.”
“Tidak apa-apa nona, ini pekerjaan saya.”
“Baik lah, tapi bisakah kamu mengantarku keluar?”
“Tentu Nona, akan saya ambilkan kursi rodanya.”
Nari melangkah keluar. mengambil kursi roda, lalu membatu Emely keluar. emely akhirnya bisa melihat langit lagi. dia menikamati sentuhan angin di wajahnya.
“Sebentar lagi, kamar anda di kastil selesai di renovasi. Anda bisa kembali di rawat di sana,” jelas Nari.
“Kastil?” emely mengangkat alisnya tidak paham.
__ADS_1