
Binar bahagia terpancar pada wajah Emely. Dia terus mengedipkan mata dan tak hentinya tersenyum di dalam perjalanan. Akhirnya dia bisa menuntaskan rasa rindu yang kian hari makin meletup-letup. Beberapa bulan tidak bertemu, ia percaya jika Marvin tidak mengubah kebiasaanya, yakni pulang paling akhir dari kantor tempatnya bekerja sebagai IT.
Udara malam itu cukup dingin, dia menarik jaket parka berwarna pastel yang menutupi gaun Alicenya, secangkir kopi hangat berada dalam gengamanya berusaha bertahan. Dia duduk di taman depan kantor Marvin, bersabar menanti sang pujaan hati.
Malam makin larut, lampu taman memancarkan cahaya redup, perlahan jumlah orang lalu-lalang menyusut. Satu persatu lampu di gedung berlantai 5 itu mulai padam.
Pintu kantor terbuka, Emely memastikan tatapannya, benar saja yang keluar adalah Marvin. sama sekali tidak ada yang berubah darinya. Masih sama, tubuh jakungnya dengan jaket putih yang selalu dia kenakan. Dia berheti di depan kantor memainkan ponselnya.
Perlahan Emely berdiri, ragu untuk bertemu namun dia tidak mampu menepis rindu setelah sekian lama dia pendam sedalam-dalamnya. Tarikan napas panjang sekali lagi terulang seiring langkah kakinya.
Jaraknya tinggal 1 meter kini, dia masih belum mampu bersuara. Seseorang datang dari arah berlawanan dan memeluk Marvin, sanggat erat.
“Marvin,” suara riang setengah manja terdengar.
Emely menghentikan langkah kakinya, terpaku. Dia melihat jelas wajah wanita itu, sama sekali tidak tahu siapa dia.
“Kenapa kamu kemari?” suara Marvin masih sama.
“Kejutan. Aku menjemput kamu malam ini. lagi pula, aku kesepian di rumah. Dan aku takut kamu lupa, es krim strobery yang aku pesan. Kamu tahukan keingan ibu-ibu hamil muda tidak bisa kamu tolak atau di tunda. Kamu mau nanti bayi kita lahir suka ngiler?”
__ADS_1
Tubuh Emely terguncang, pikirannya kosong. Hanya mampu menatap nanar pasangan bahagia di hadapannya. Gelas kopi dari tanganya meluncur berdentum. Pandangan mata Marvin beralih padanya. Kerinduanya terbalas sudah, rasanya seperti orang bodoh merindukan orang yang dengan mudah melupaan dia.
“Hay,” wanita yang bersama Marvin menghampiri Emely. Harus dia akui wajahnya cantik, rambut panjang bergelombang. Tubuhnya bak model majalah fasion kelas dunia. “Kamu baik-baik saja?”
Emely tersenyum tipis, dentingan waktu menusuk dirinya. buat apa lagi dia bertahan di sini. kristal bening menganak sungai dipipinya. Dia menggerakkan kaki perlahan. Jika harus seperti ini pada akhirnya buat apa dia bertahan hidup, kenapa dia tidak mati saja sewaktu pembunuhan itu, kenapa semua ini harus dia terima?
“Marvin, aku pikir gadis itu sedang tidak sehat. Barang kali kamu perlu mengatarnya pulang. Ini sudah malam dan dia sendirian. Paling tidak kita carikan taksi? Kamu mengenalnya kan?”
“Tidak, aku tidak mengenal dia,” jawaban Marvin meluncur seperti panah berapi. Menusuk sekaligus membakar hatinya.
“Jika kamu tidak mengenal dia, mengapa menatapnya begitu?”
Cincin itu ia tanggalkan, lalu dia lemparakan ke jalan. Benda itu tidak mungkin dia bawa lagi. tanpa berbalik dia berlari meninggalkan Marvin. Luka datang dalam diam, membelah hati yang mengembung dipenuhi embun rindu. Mereka melebur terbung ke angkasa, tak jadi mekar namun meletup seperti balon, yang tersisah hanyalah serpihan sakit, terus merajam di dalam dada.
Balasan yang luar biasa. Percuma dia menahan sakit, menelan bubur pahit buatan pria aneh. Menyiksa kedua kaki nyaris lumpuh untuk bisa berjalan, setelah dia bisa bangkit dari kejadian malang yang menimpanya, sisanya tak lebih dari luka dan luka lagi-lagi luka.
Marvin sama sekali tidak merasa kehilangan, bahkan untuk menyapanya saja tidak. Selamat tinggal tunangan, selamat tinggal pelaminan, ucapnya dalam hati. Dia bukan lagi keajaiban, dia bukan lagi wanita paling beruntung di dunia, semua kisah manis mereka dulu menjadi abu.
Jembatan di tengah kota nampak sepi, hanya beberapa mobil yang melintas. Emely mengangkat kakinya, memanjat pagar pembatas. Hatinya telah sepenuhnya dia berikan pada lai-laki itu. Sahabatnya mengianati dia, buat apa dia kembali ke keluarganya dalam keadaan seperti ini, dia sudah dianggap mati sedari dulu.
__ADS_1
“Bodoh,” Jason muncul mendadak dan menarik tangannya dengan kasar.
Emely tersentak. Dia terkejut dengan kahadiran pria itu.
“Kamu ingin mati? Setelah aku berusaha membuatmu tetap hidup?” Amarah terdengar jelas.
“Aku... aku...aku” Emely tidak tahu harus bicara apa.
“Hei, ingat kamu berutang nyawa padaku. Kamu berjanji untuk membalasnya. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja. tidak tahu terima kasih!”
“Boleh aku memelukmu?” Emely bertanya lung-lai.
Tapi Jason tidak bergeming, Emely terdiam air mata terus mengalir mengepalkan tangan. Hatinya hancur dia butuh pelukan, tapi biarlah memang takdirnya begini.
“Baik lah. Katakan sekarang, apa yang perlu aku lakukan untuk membalas budimu, Jason?”
Jason tidak langsung menjawab, dia bergerak dan memeluk Emely. Gadis itu kembali menangis. Mengapa hidup ini sangat kejam
Bersambung
__ADS_1