
“Bagaimana kabarmu?” Tanya Emely diikuti senyuman di bibirnya. Dia tidak pernah sebahagia ini bertemu dengan Jason. Entah mengapa hatinya terus merasakan ada yang kurang ketika ia jauh darinya. Matanya berbinar ketika Jason muncul dari gerbang. Lagi-lagi dia memakai kaca mata.
Jason menatapnya sekilas lalu berpaling ke arah lain. Calum menutup wajahnya dengan tangan di sisi mereka berdua. Ia menahan napasnya, matanya berkaca-kaca. Entah apa lagi yang ada dalam pikiran pria itu. ia baru saja mengubah cat rambutnya hari ini.
“Kamu mengabaikan dia?” Calum menyenggol bahu Jason.
Jason masih terdiam. Kebahagiaan mulai memudar dari wajah Emely. Rasanya aneh, siapa pria itu baginya kenapa dia harus merasakan hal seperti ini.
“Asataga, kamu melukai hatinya Jason. Dia sudah menunggumu selama ini, dia terus menerorku dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting menggenai kapan kamu pulang, sedang apa dirimu? Dimana kamu? apakah kamu juga merindukan dia?”
Tangan Emely melayang perlahan memberikan cubitan kecil namun cukup menyengat pada lengan pria itu.
“Auch, hentikan!” Calum menepis dengan wajah meringis.
“Aku ke belakang...” Emely berjalan mundur. Tidak tahan ia menatap wajah jutek Jason ditambah tatapan Calum yang terus menggodanya.
“Suatu saat kamu akan di culik ratu lebah!” Ia berbisik pada telinga Calum.
“Dia tidak akan menyakiti makluk setampan aku... sebentar Emma!” Calum menahan lengannya tiba-tiba.
“Apa lagi?”
“Siapa yang lebih tampan... aku atau manusia srigala ini?”
Emely memutar bola matanya. kalau diperhatiian mereka berdua tampan dari sisi manapun. Ia ingin sekali mengatakan itu Jason jika dia lebih murah senyum, tapi Calum juga sempurna dalam postur wajah. Ia memutar otak dan berpikir, kebetulan ada cermin di sisi kirinya. Cermin dengan ukuran raksasa. Dia berdiri menatap bayanganya dan mengangkat ke dua tangan ke udara.
“Mirror... mirror... mirror in the wall, sow me whos is the most handsome guy in this world?”
Dorongan pelan menyentuh kepala Emely. “Aku baik-baik saja,” Jason menarik tangannya menjauh dari cermin. “Aku hanya merindukkan wajah cemberutmu itu.”
Jantung Emely berdegup kencang, rasanya ada deretan bunga mekar memenuhi ruang hatinya. Pipinya memanas, bersikeras dia tetap mempertahankan wajah cemberut itu.
“Aku bawakan coklat, kamu mau?” tanyanya kemudian.
“Aku mau, berikan saja padaku!” Calum menyela dengan cepat, bahkan sebelum Emely membuka mulut.
“Aku kalah cepat, biar lah...” Emely pasrah.
__ADS_1
“Hei...” Jason tersenyum.
“Aku tahu kamu terpesona... jangan berharap terlalu besar pada coklatnya, semua itu milikku!” Calum berbisik tajam.
“Calum...” Emely menatap pria itu dengan pupy eyes.
“Astaga dia manis sekali!” Calum mencubit kedua pipi Emely dengan gemas.
“Hentikan!” Emely berjuang meloloskan dirinya, namun usahanya sia-sia. “Somebody save me from the devil, i will call you my angel!”
Jason menarik rambutnya dari belakang. Cukup menyakitkan. Tapi, dia berhasil melepaskan diri dari tangan Calum.
“Kalian hanya ribut karena coklat. Aku tidak jadi memberikannya pada kalian. Nari lebih baik untuk mendapatkannya bukan?”
“Baik lah.” Suara kompak keluar dari mulut Emely dan Calum.
Kedunya kemudian berpengangan tangan berjalan dengan wajah tertunduk menuju dapur. Telinga Emely menangkap suara tawa riang di belakang.
“Ini salahmu!” Calum melontarkan protes.
“Kenapa? Aku bahkan tidak tahu dia hanya membohongi kita.”
“Lihat saja, sebenaranya dia tidak membawa coklat. Betul?”
“Ayo keluar dan mencari coklat sendiri!” Calum bersemangat.
“Baik lah. Ayo! Bagaimana kalau ice cream?”
“Setuju!”
Keduanya berjalan menuju pintu depan kastil, berjalan layaknya dua anak kecil. Terdengar deheman panjang. Jason berdiri di balkon menatap mereka.
“Mau kemana kalian?”
“Bukan urusanmu!” Calum menyahut tanpa menoleh.
“Hei! Jawab atau aku akan mengikuti kalian!”
__ADS_1
“Aku menculik gadis ini. kamu tahu untuk sesuatu yang berdifat rahasia!”
“Emely masuk kamarmu sekarang!”
“Tidak, tidak kamu bersama denganku!” Calum menarik tangan Emely dengan paksa.
“Emely!” Jason mengeraskan suaranya.
Emely bingung menatap kedua pria itu. Dia bingung ingin mengikuti siapa.
Calum benar, Jason juga benar. siapa yang harusnya dia ikuti?
“Kamu baru pulang liburan, dan kami hanya butuh ice cream untuk hiburan dan perut yang kelaparan.” Calum mendengus kesal.
“Pesan saja di dapur!”
“Oh, saudariku yang malang. Lihat lah, betapa galaknya wanita tua di atas sana.”
Calum memeluk bahu Emely. Emely menampangkan tampang bodoh terjerat dalam skenario kesedihan palsu ini.
“Baik lah! dasar Alien. Aku ikut dengan kalian!” Jason berdiri di balik punggung mereka.
“Aku akan kembali ke kamar sekarang!” Emely berjalan semabri tertunduk masuk. Calum juga melakukan hal yang sama.
“Aku ke kantor sekarang. ada panggilan mendadak.”
“Hei!” Jason nampak putus asa dengan kelaukan dua manusia itu.
Emely berjalan sembari menahan tawa ke kamar. Baru pertama kali Jason terlihat sebagai sosok yang berbeda, andai saja dia diperbolehkan untuk menatap bola matanya kedua kali.
Ketukan terdengar di depan pintu kamar Emely setelah makan malam. Ia meyakini itu adalah Nari. Ia nyaris jatuh saking terkejutnya mendapati yanga ada di sana adalah Jason.
“Untuk mu.” Tanganya mengulurkan satu kotak coklat besar. “Jangan beritahukan pada Calum, atau dia akan menelanku hidup-hidup.”
“Kenapa dia tidak boleh tahu? ini cukup untuk kami berdua.”
“Pria gila itu alergi pada coklat. Mana mungkin kubiarkan dia memakannya. Aku tidak mungkin mau mengurus lelaki dewasa sakit seperti itu.”
__ADS_1
Emely hanya terdiam, terpaku menatap pria itu. Apakah dia kembali jatuh hati....