Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
THE NIGHT WITH YOU


__ADS_3

Jantung Emely berdegup kencang, dia berdiri di depan cermin dengan tubuh bergetar. Berulang kali dia menarik napas panjang kemudian menegak air dalam gelas. Nyatanya usahanya sia-sia belaka. Dia sama sekali tidak bisa menangani ketegangan dan ketakutannya menghadapi malam ini. Calum mengajaknya menghadiri pesat dansa bersamanya. Untuk pertama kalinya dia mengahdiri pesta bukan sebagi Emely yang dulu. Gadis berantakan tak karuan. Kini dia berdiri dengan gaun merah menggembang.


Ia memoles lipstik merah maroon sebagai hal terakhir dari dandannanya. Ia masih menggunakan softhells. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian malam ini jika harus terjatuh.


“Atagaaa!” suara Nari terdengar memenuhi ruangan, dia muncul medadak dari pintu kamar. “Apakah aku benar-benar sedang melihat Putri Disney di sini?”


“Dimana?” Emely melenggok ke kiri dan ke kanan tanpa menemukan orang lain di dalam sana.


Nari ikut menyeritkan dahi tidak mengerti.


“Kamu...” Emely tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Apa mungkin dia seorang indigo?


“Sister, hurry up!” Calum berteriak kencang.


“I am coming! You such a Devil!”


“Kamu dasar siput daun gemuk berlemak!”


Emely rasanya ingin melemparkan maskara ke wajah Calum. Dia mengajaknya dengan paksa.


Gadis itu melangkah menyeret gaunnya. Ocehan kesal tidak juga luntur dari mulut Emely sampai dia memsuki mobil. Ia sama sekali tidak sudi untuk duduk di samping Calum. Tanganya membuka pintu belakang mobil.


“WAAAAA!” pekikkan terlontar dari mulutnya. Bagaimana tidak, Jason duduk di dalam sana, sembari memainkan ponselnya.


“Bisa kah kamu diam?” Jason bertanya dengan nada juteknya.


Emely menutup mulutnya dengan tangan,bahkan hingga mereka tiba. Dalam perjalanan, ia terus menatap lurus ke depan. Harusnya dia berada di samping Calum bukan di sisi beruang kutup ini.


Tempat yang mereka datangai adalah sebuah aula dansa besar. Emely jadi salah tinggkah. Calum berjalan di depannya. Dengan cepat dia menyamai langkahnya dengan Calum lalu menarik tangan pria itu.


“Kenapa menggandeng tanganku? Aku bukan pacarmu!” Calum berbisik tajam.


“Lantas kenapa mengajakku!”


“Aku bercanda. Aku ke toilet sebentar.Aku merasa rambutku sedikit berantakan.”


“Rambutmu baik-baik saja!” Emely berusaha menahan tangan Calum. Tapi pria itu bersikeras untuk pergi.


Emely memutar tubunya, dia sama sekali tidak menemukan Jason di belakangan. Fobia pada keramaian di tempat baru menyerang, menggetarkan sendi Emely. Tubuhnya melemah. Dia sama sekali tidak menggenali satu wajahpun di sini. Akhirnya dengan langkah teratur dia memojokkan diri ke sudut ruangan. Ke tempat makanan, dia dapat berpura-pura sibuk dengan cake atau apapun yang dia temukan di belakang sana.


Hanya ada satu piring cake yang tersisa, tangan Emely bergerak dengan cepat meraihnya. Tangan lain terulur dan mengambil piring itu. Ia mengangkat kepalanya melihat siaa gerangan di sana. ia sudah cukup kesal untuk bertambah kesal pada hari ini.


Beruntung Marvin tidak mengenali dia.


“Untukmu saja!” Marvin mengembalikan piring itu.


Emely terdiam seaat, dia menatap jas putih yang dikenakan Marvin. Jas itu adalah yang dia kenakan ketika dia mengutarakan niatannya untuk menikahi Emely. Satu bagian dari jas itu mudah di kenali. Sulaman benang emas di sisi kerah bagian kanan, “M&E”


“Hei!” Marvin melambaikan tangan di depan wajah Emely.


Bahunya bergidik, terkejut. “Tidak ambil saja, aku tidak lapar.”


“Aku juga tidak lapar.”


“Oh, kalau begitu kembalikan saja piringnya ke tempatnya, Tuan.”


“Kamu...”


“Kenapa denganku?”

__ADS_1


“Kamu mengingatkan aku pada seseorang,”


“Siapa?”


“Mantan kekasihku...”


“Oh.” Darah Emely mendesir dengan cepat. Dia menahan diri agar tidak bicara lebih banyak.


“Dan juga...”


“Dan?”


“Tidak lupakan saja. Dan maaf soal kekuarangan piring ini.”


“Kenapa anda yang minta maaf, bukanya pemilik pesta yang seharusnya...”


“Aku yang mengadakan pesta.”


Sekali lagi mulut Emely membentuk huruf O. Dia sudah mempermalukan dirinya sendiri. seharusnya dia bertanya dulu, siapa pemilik pesta. Dan sekarang dia mati kutu.


“Kaka...” Jessica muncul di sana.


Emely pura-pura menatapnya bingung. Jessica tersenyum manis. Seperti biasa dia tampil cantik dalam balutan gaun mewah tanpa lengan dengan rambut lurus yang di cat pirang.


“Hay...” dia menyapa Emely, sama sekali tidak mengenalinya.


“Hay... Kamu pasti Jessica?” diapura-pura menebak.


“Ya, aku. Dan...”


“Aku Leona. Aku salah satu subscribermu...”


“Tidak sebagus gaunmu tentu saja.”


“Tidak, tidak aku benar-benar mengagumi gaun itu. kapan-kapan kita mungkin bisa bicara mengenai pakaian. DM aku di instagram, aku pastikan untuk membalas dan menemuimu nanti.”


“Tentu...” Emely berkata seriang mungkin. Tidak lupa dia mengubah teknik Vokalnya.


Setelah mereka berlalu, Emely kembali menyadari jika dia sendirian. barang kali lebih baik dia menunggu di mobil saja. tempat parkiran tidak begitu jauh, dia akan jauh lebih baik di sana dibandingkan mendekam sendiri dalam keramaian. ekor matanya sempat mengakap Jason dengan beberapa wanita berdiri berdekatan, bahkan ada yang memeluk lenganya.


Ada rasa perih menyelip dalam dada. Terbesit harapan dia yang ada disisinya. Melihat tingkahnya yang cuek malam ini, mana mungkin hal itu tercapai.


Emely masih ingat jelas tempat mereka memarkir mobil. Namun tempat itu kosong. Dia meperhatikan satu persatu mobil lainnya, tidak ada plat mobil mereka.


“Kemana Calum? Kemana Jason?” dia mengigit bibir. Panik menyerang. Dia tidak mungkin pulang sndiri malam ini, dia tidak tahu dimana dia sekarang. bagaimana caranya untuk pulang.


Tubuhnya jatuh lunglai ke atas daun mapel kering, dekorasi hellowin bertengger di sisi lain.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Jason menegurnya.


Emely berdiri dengan semangat. Ketika dia telah berdiri sempurna. Darahnya amblas ke ujung kaki. Jason bersama seorang wanita cantik. Wanita yang tadi bersamnya di dalam.


“Aku ingin pulang, sedang menunggu Calum...”


“Dia baru saja pergi dengan mobil. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia meninggalkan kamu kurasa.”


“Kamu bisa pulang bersamaku Jason. Tubuhku mendadak sangat lemah untuk mengendaarai mobil.” Kata wanita bergaun silver mengkilap itu.


“Aku akan pulang... jalan kaki.” Emely mengangkat gaunya. Dia sama sekali tidak membawa dompet. Sepeser uangpun dia tidak punya. Hp juga tidak dia bawa. Malam ini benar-benar menjadi malam kutukan baginya. Padahala Hellowin masih beberapa hari lagi.

__ADS_1


Jason tidak meberikan tanggapan apa-apa. Dia menyadari itu. ia mebalik tubuhnya berjalan menuju gerbang. Semakin jauh dari gerbang, semakin redup cahaya lampu. Udara dingin menggoda kulit.


Gadis itu terus berjalan perlahan, dalam naungan ketakutan. Tidak ada orang yang mempedulikan dirinya. “Siapa wanita tadi?” Gumannya “Dia wanita cantik dan paling beruntung di dunia ini...”


“Aku tidak mengerti semenjak kapan kamu jadi gila,”


Emely sontak berbalik mendengar suara itu. Jason ada di belakangnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Kamu pikir Calum hanya meninggalkan kamu?”


“Bukan, hanya sajakamu bersama dengan wanita...”


“Dia? Kamu pikir lelaki macam apa kau ini? aku tidak mungkin meninggalkan kamu begitu saja.”


Emely berjalan mendekati Jason. Dia meneliti wajah pria itu. “Jadi, kita akan pulang naik taksi?”


“Dompetku dibawa oleh Calum.”


Malam yang sempurna. Mereka harus berjalan kaki. Jika sampai dirumah nanti dia akan mematahkan tulang Calum sampai dia tahu rasanya mati rasa.


“Baik lah, jalan kaki!” Emely memutar tubuhnya lagi. calum terlebih dahulu menarik tubuhnya. mmereka begitu dekat, wajah mereka hanya berjarak 1 cm. Jantung gadis itu berdegup tak karuan.


“Hapus lipstikmu. Merah sama sekali tidak cocok untuk wajahmu.”


Emely cemberut, Jason malah tersenyum.


“Apakamu kuat berjalan sampai di kastil?” Tanya Emely.


“Akuyang seharusnya bertanya,” Jason tersenyum.


“Jangan salah meilaiku. Aku sudah biasa berjalan jauh.”


“Itu dirimu yang dulu, sekarang setelah berbulan-bulan. Kamu tidak lagi memiliki raga yang sama.”


Emely terdiam merenungi itu, benar semua tidak lagi sama. Jalana sepi, hanya lampu-lampu jalan bergelantungan yang menyala. Dan beberapa dekorasi hellowin serba orange di sepanjang jalan. Ia hanya mengikuti pria di sebelahnya.


“Kamu tidak lelah Emy?” tanya Jason lembut.


“Tidak, aku baik-baik saja. lagi pula, jika aku lelah... apa kamu akan menggendong ku?”


“Tentu saja tidak!” jawab Jason.


“Sudah bisa di tebak,”


Jason tiba-tiba berheti dan menunduk di depan Emely. disangkanya pria itu sedang mengikat tali sepatu, tapi dia kemudian menoleh.


“Ayo, katamu ingin di gendong.”


“Tidak... tidak terima kasih.” Emely dengan cepat menjawab. Itu tidak akan terjadi kalaupun sendi kakinya mulai nyeri.


“Kamu pernah memakai kursi roda. Jangan menyesali keputusanmu malam ini.”


Emely mengalah, dia berada di belakang bahu pria itu. mengalungkan tanganya di leher Jason. Rasa nyaman dan ketenganan bermekaran, dia berharap bisa lebih lama begini.


“Part ini masih berlanjut yaaaaa.


Eh udah romantis belum? 😂😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2