
Kelabu, hanya itu yang tampak di mata Emely, warna dunia telah pudar setelah hatinya hancur dihantam sakitnya patah hati. Mungkin dia terlalu lama meninggalkan Marvin hingga dia dengan mudahnya berpaling. Ataukah semua kata cintanya hanya bualan. Apa rencana pembunuhan terjadi karena perintah Marvin, semua jadi masuk akal sekarang. Jessie dan yang lainnya kemungkinan rencana yang dia susun. Sebenarnya tidak ada rencana pernikahan sama sekali. Semua acara lamaran, pertunangan mereka hanya sandiwara terencana.
***
Emely mengengelamkan kepalanya ke dalam lipatan tanganya, sendiri di pojok kamar, dalam kegelapan. air mata masih setia menumpahkan diri, namun mereka tak juga menyusutkan perih di dalam hati.
Emely muncul pagi-pagi sekali di samping air mancur. Wajah dan pakaian yang dia kenakan di taburi pekatnya abu jelaga. Hanya bagian bawa mata yang nampak bersih, dia baru saja mengompresnya dengan daun teh guna menghilangkan lingkaran mata hitam. Beberapa malam dia mengalami insomnia, patah hati. Beberapa hari dia terpekur di rumah kayu sendirian. Sulit baginya untuk bangkit. Jason ataupun Calum juga tidak menampakan diri di tempat itu, membairkan dia berkabung untuk lukanya. Hanya Nari yang muncul sesekali setiap jam makan. Dia meletakkan keranjang berisi makanan di depan kamar tanpa menggangu.
Calum menulisnya pesan pada secarik keras lalu diselipkan di dalam keranjang makanan semalam. Isi pesannya singkat, “Temui aku di dekat air mancur. Besok pagi sebelum langit di ufuk timur berubah merah.”
Dan di sini lah dia sekarang. dia menggunakan jaket tua hitam kusam, yang ia temukan di lemari rumah tua. Gaun Alice sudah melakat di tubuhnya. Selama masa berkabungnya dia tidak menyentuh air untuk membasuh wajah apa lagi mandi. Mirip seperti gelandangan.
“Kupikir kamu masih mengurung diri,” Jason muncul di belakangnya.
Emely berbalik menatap pria itu, lagi-lagi wajahnya di tutupi oleh kaca mata hitam.
“Aku... sudah merasa lebih baik. Paling tidak mekar menjadi bunga yang layu.” Jawab Emely lemah.
__ADS_1
“Apa yang akan di lakukan orang dengan bunga layu selain mencampakkannya?” Jason berusaha keras membuat nada bicaranya setengan mungkin. Usahanya sia-sia, kata-kata itu menoreh luka pada hati Emely sekali lagi.
“Ya, apa yang dilakukan orang pada bunga yang layu,” ucapnya dalam hati.
“Tapi, kamu tahu bunga yang layu bisa mekar kembali. Kamu hanya butuh semangkuk pupuk, air dan...” Jason menggantung kalimatnya sebentar “intinya jika kamu mau mencari pupuk semangat, kau bisa mekar kembali. Bunga yang sama dengan warna yang sama di sepanjang tempat hanya menciptakan kebosanan, kamu harus bisa menjadi benih dan tumbuh sebagai kembang yang baru.”
Emely tidak bisa memahami kata-kata Jason, kenapa bunga. Bagaimana caranya sebatang bunga utuh kembali menjadi benih kalau bukan... Emely menyadari sesuatu “Kecuali kalau bunga itu mati atau menghasilkan biji?”
“Tubuhmu tidak harus kau lukai untuk bisa lahir kembali,” Jason mengarahkan wajahnya 1 cm di depan wajah Emely. “Lahir kembali, bukan hanya tentang raga, tapi tentang siapa kamu Emely, tentang jiwamu, tentang siapa kamu yang dulu dan bersiap menjadi yang baru.”
“Aku sudah menyiapkan 20 lusin nama jika kamu berniat memakai nama baru.” Calum muncul dengan senyuman sumbringah layaknya bunga matahari yang baru mekar. “Gadis ini...” Calum menatap Emely dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Dimana?” Emely mengarahkan padangannya ke kiri dan kenana, yang ada hanya barisan pohon pinus di bagian barat, berada kastil di bagian timur, pohon ek di selatan dan deretan pohon apel juga plum di sisi utara. Tidak ada wanita catik Putri Disney di sana.
Calum mengerutkan keningnya, “Dasar gadis payah!”
Emely tidak bisa menyembunyikan kebingungannya, dia mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Jadi, apa yang harus aku lakukan untuk membalas budi?”
“Blas dendam,” jawab Jason tegas. “Jika keadilan tidak datang dari orang-orang yang kamu harapkan, biarkan keadilan itu datang dari dirimu sendiri. Aku ingin kamu menjadi orang yang baru mulai hari ini.”
“Aku tidak yakin bisa...”
“Dengar, apa kamu mau harga dirimu terinjak, berita buruk tentangmu tersebar? Dan seisi kota mengenang kamu sebagai pengecut, pembuat masalah?”
Emely terdiam, untuk apa dia mebalaskan dendam? Apa dia perlu melakukannya?
“Aku ingin menyampaikan berita buruk padamu Emy,” suara ceria Calum memudar “keluargamu, mereka di kucilkan karena semua kejadian ini, mereka terpukul. Pertimbangkan ini baik-baik, selain itu ingat kamu berutang nyawa pada pria tidak punya hati itu.”
Emely terdiam, bayangan wajah keluarganya melintas, dengan cepat dia menjawab “Aku siap,”
“Baik lah,” Jason menyentuh jidat Emely “mulai hari ini, kamu bukan Emely yang lama, jiwa lamamu telah mati, kau lahir sebagai orang yang baru!”
Matahari mulai mengukir rona merah di ufuk timur.
__ADS_1
Pembalasan dendam di mulai...