
Terlepas dari pikiran penat tentang para pembobol apartemenya, Emely harus kembali ke rumah Marvin untuk bekerja. Dia memutuskan untuk memasang kamera pengawas di dalam kamarnya dan dihubungkan dengan kamera ponselnya.
Apa yang sebenarnya diinginkan Calum atau Jason pun dia masih belum memahami. Jika pada akhirnya mereka bertingkah begini, kenapa tidak dari awal saja mereka mengutarakan kemauannya. Emely tidak keberatan jika pada akhirnya harus mati di tangan mereka, hanya saja harus beginikah caranya. Sebelum dia kembali ke rumah Marvin, dia juga mengecek semua barang-baranganya, jangan sampai dia mebawa sesuatu dari kastil, nyatanya dia tidak menemukan apapun yang berkaitan dengan kastil kecuali memori di kepalanya.
“Hari ini kamu bersihkan gudang bersama ku,” kata Rosela ketika Emely beru sampai.
“Ba..ba...ik,” balas Emely. Nyaris ia berbicara normal.
Mereka berdua menuju gudang yang letaknya terpisah dari rumah. Gudang yang dimaksud adalah rumah lama bagian belakang rumah. Rumah itu terbuat dari kayu. hanya digunakan ketika ada acara, selebihnya di gunakan untuk menyimpan benda-benda tidak terpakai.
“Kenapa tidak dibuang saja?” Ayah Marvin bersama putranya ada di dalam rumah itu.
Emely berusaha menahan perasaanya sendiri menyaksikan barang-barang yang menjadi bahan pembicaraan Ayah dan anak itu.
Beberapa kardus tergeletak didepan mereka.
“Tidak Bu, biarkan saja di sini.” Marvin berkata pelan.
“Tapi untuk apa Nak? Lihat semakin lama kamu menyimapan benda ini, semakin kamu sulit melupakkan dia.”
__ADS_1
“Em...”
“Jangan sebut namanya!” suara Ayah Marvin keras.
Emely terhentak, Rosela sampai mengerling ke arahnya.
“Ap...a iiiss...i kar...dus ii..itu?” dia berbisik pelan pada Rosela.
“Kami dilarang membicarakannya.”
Emely penasaran, namun dia memilih untuk dia sembari berjinjit agar bisa melihat tangan Marvin yang perlahan membuka kardus. Apa isinya? Emely sering berkunjung kemari dulu, dia biasanya meninggalkan barang-barang yang Marvin sukai. Misalnya saja jaket abu-abu dan sebuah baju kaus putih bertuliskan Bad Rosses.
“Nak,” Ayah Marvin menyentuh pundak anak laki-laki satu-satunya itu. “aku tahu ini berat, istrimu sedang mengandung sekarang. Jangan rusak rumah tangga yang sudah kalian bangun. Aku tahu dia pasti cemburu jika kamu memiliki wanita yang lain lagi.”
“Ayo!” rosela menarik tangan Emely, waktunya untuk membersihkan tempat itu. kotoran tida terlalu banyak hanya saja barang-barang di dalamnya terlalu banyak, menumpuk menghalangi jalan. Emely ingat dai dan Marvin biasanya bersembunyi di lantai dua rumah ini menykasikan pertandingan golf di halaman belakang. Makan pizza berdua atau hanya sekedar duduk menemani pria itu bermain game.
Emely bekerja dengan sebaik-baiknya, dia tidak mau penyamarannya kali ini terbongkar lagi. Dia brusaha mengambil jarak paling jauh dengan Marvin, agar pikirannya tidak terus-menerus membawanya pada masa lalu. Masa yang sudah mati dan tidak layak untuk meluap kembali.
“Bersihkan meja yang di sana!” Roselamenunjukkan meja kaca tempat kardus-kardus berada.
__ADS_1
Emely hendak menolak, bibirnya baru saja bergerak untuk berbicara, dia sudah disambut tatapan tegas dari Rosela. Terpaksa Emely bergerak ke arah Marvin. Dia membungkuk untuk minta izin, Marvin masih diam dengan tatapan kosong. Emely menggeser kardus perlahan agar dia bisa mengelap meja. Dia tidak berani melihat wajah Marvin ketika itu. Ia tidak mampu melihat wajah sedihnya.
Setelah selesai Emely berdiri, tanpa sengaja sikutnya mengenai deretan kardus yang sudah dia susun, benda-benda itu jatuh memuntahkan isinya.
Emely terhenyak, semua adalah barang-barang miliknya dulu, termasuk diary biru yang dia gunakan untuk menuliskan apa saja yang dia benci dan dia sukai dari Marvin. termasuk beberapa diary kosong yang dikoleksinya.
“Ma..af ma...af” Emely mebungkukkan badanya berulang-ulang, sebelum dia berjongkok memberekan kekcauan yang sudah dia buat. Marvin pasti akan marah, batinya. Dia membanci semua hal yang berhubungan dengan Emely, sudah pasti barang-barang ini akan menaikan tekanan darahnya.
“Biar aku saja,” suara Marvin pelan.
“I..ni ke...sa...la...han say...say..a Tu...tu...an.”
“Tidak apa, saya bersedia meberskan barang-barang ini sekalipun mereka jauh berkali-kali.”
Emely merasakan dadanya sesak, padangan matanya kabur karena ada tempelan kaca membalut netra. Dia berusaha kuat. Marvin memintanya untuk mebersihkan bagian lain. Emely menurut, dia berdiri di balik sebuah lemari kayu coklat besar, pura-pura mengelap kacanya. Dadanya makin sesak menyaksikan bayangan yang terpantul di cermin.
Marvin menatap Diary biru sembari memegang kepalanya. Dia tertunduk cukup lama.
Suara itu berupa bisikan, masuk menerobos indra pendengaran gadis di depan kaca. “Kemana kamu... gadis ceroboh, dimana?”
__ADS_1
Dada Emely makin sesak, air matanya luruh tanpa dia sadari. Apa yang terjadi pada mantan tunanganya. Mengapa dia menangis? Sedangkan malam saat dia menemuinya di depan kantor dengan baju Alice itu dia mengacuhkan Emely, bahkan tidak peduli ketika cincin pertunangan mereka ia layangkan sembarangan. Malam itu, jika dia masih mempedulikan Emely kenapa dia tidak peduli? Jika dia masih sayang mengapa dia tidak mebatalkan pernikahanya dengan Tiffani? Apa yang terjadi padanya.
Emely menyadari sepenuhnya Marvin adalah suami orang lain, tapi saat ini dia benar-benar ingin memeluknya, merasakan kembali hangatnya dada bidang pria itu. Dia menghapus anak sungai di kedua pipi, hatinya benar-benar sakit. Apakah dia masih mencintai pria itu? pantaskah rsa yang sudah dia bunuh kembali berkecembah?