
Emely menyempatkan dirinya untuk singgah di toko pernak-pernik membeli ikat rambut baru rambut lurus Nari. Dia sama sekali tidak menduga akan bertemu lagi dengan Marvin. mereka berada pada satu stand yang sama, ikat rambut lucu berbagai bentuk, warna cantik membautnya bingung, dia lupa menanyakan warna favorit gadis itu, selama ini dia hanya menggunakan pita putih untuk rambutnya atau topi aneh ala pelayan zaman dulu.
“Emma,’ sapa Marvin.
Kau dulu tidak seperti ini, batin Emely pria itu tidak pernah menyapa orang. Semua mengatakan begitu, setelah saling berkenalan ciri khas Emely menular juga padanya, murah senyum dan menyapa orang.
“Selamat Sore Pa,” suara Emely nyaris tenggelam, kenapa selalu saja kenangan mereka menggangu pikirannya.
“Belanja juga?”
“Ya,” sebelum dia merusak penyamarannya lebih baik dia pergi. Tanganya dengan cepat menyambar ikat rambut merah muda dengan pemanis buah strobery besar. Ia tak lagi bisa mengingat apa yang di sukai oleh gadis itu.
Dia berjalan keluar toko diikuti oleh tatapan Marvin.
Aroma jalanan basah meruyak, hujan telah pergi namun angin yang tadi sempat bersamanya masih berhembus dengan kencang. Emely berdiri di pinggir jalan dengan jaket parka hijau yang dia beli dengan uang pinjaman dari Jason semalam. Hidupnya benar-benar bergantung pada mereka. Hari pertama kerja, dia harus menajamkan telinga mendengar apapun, penglihatan dia tajamkan agar tak satupun lolos dari penglihatannya. Sesekali mulutnya menggumankan kata-kata berbahasa Perancis, untuk rencana selanjutnya.
Jam makan siang dia sendirian di meja paling sudut. Kepribadian aslinya sama sekali tidak bisa begini, akan tetapi suara Jason terus mengema dalam telinganya. “Semakin kamu banyak bicara, semakin cepat penyamaranmu terbongkar.”
Sialnya, teman baru 1 tim Emely adalah teman SMAnya. Dia menggenal gadis itu dengan baik sebagai Stalker terbaik seangkatan. Dia bisa saja mengorek informasi dari Editth, perlahan mengikuti proses, dia memilih tidak banyak bicara.
Emely mengais isi tasnya mencari lembran kertas alamat kastil, akan dia berikan pada sopir taksi nanti. Dia sama sekali tidak bisa mengingat dengan baik nama tempat itu.
“Saya hanya bisa mengatar anda hingga perempatan Nona,” sopir taksi tiba-tiba berbalik begitu Emely menyodorkan alamat yang dia berikan.
“Kenapa?” kening Emely berkerut, ia baru ingat selama ini dia bersama Jason atau Ibu Tirinya Calum.
__ADS_1
“Anda tinggal di sana?”
“Tidak, ada urusan sebentar,’ Kilah Emely. dia berusaha memancing jawaban sang sopir taksi. Dia nyaman di sana dan sama sekali tidak pernah tertarik dengan sejarah kastil itu, siapa penghuni di dalamnya. “Kenapa anda tidak ingin mengatar saya ke sana?”
“Maaf...”
“Saya petugas asuransi, saya tidak bisa menemui keluarga itu selama hari ini dan tidak bisa besok juga, jadi seperti ini lah. Jadi ada apa sebenarnya?”
“Saya dengar Kastil itu berhantu.” Sopir mulai menjalankan taksi. “Lagi pula, bagian depannya adalah hutan, penuh dengan semak belukar dan sudah pasti ada banyak ular. Banyak orang bilang jika masuk ke sana, nyaris semua membuat pengakuan mereka melihat hantu wanita bergaun putih...”
Tubuh Emely bergidik, apa itu arinya selama ini dia hidup bersama hantu.
“Dan Nona, saya hanya bisa mengatarkan ada di perempatan jalan, sebab saya takut melewati pemakaman tua di sisi jalan, apa lagi sore berkabut begini. Lalu bagimana ada pulang? Anda tidak meminta saya menunggu kan?”
“Pemakaman?”
“Oh,” perasaan Emely makin tidak tenang.
Cahaya matahari makin memudar ketika dia turun di tempat yang di katakan oleh sang sopir. Kabut menyelinap di sana.
Emely memeluk dirinya sendiri makin erat, rasa takut mengambil alih pikirannya. Suara sepatu berdu dengan aspal hitam, sesekali nyanyian serangga ikut menyela. Jalan ini makin tersa panjang. matanya menyapu pinggir jalan secara bergatian di kedua sisi, membuktikan ucapan sopir taksi tadi.
Tatapannya berhenti pada semak ivy yang tubuh begitu rapi merambat. Emely tidak tahu mengapa dia harus peduli, jiwanya terpanggil untuk mengintip. Tangannya perlahan menarik daun-daun hijau itu.
Sungguh ada deretan makan di dalam sana, dan beberapa kayu besar berdiri dengan ujung lancip di tepi makam, entah untuk apa?
__ADS_1
Tepukan menghantam bahunya, gadis itu tersentak dan kehilangan keseimbangan tubuhnya, jatuh dengan ringan menghantam tanah berlumpur. Jaket satu-satunya bernoda, apa dia harus mengemis lagi malam ini meminjam uang.
Jason berdiri di hadapapnya, mengulurkan tangan dengan enggan. Dia kembali menggunakan setelan serba hitam dan juga kaca mata aneh di wajahnya, entah kapan dia mau melepaskan benda itu.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara dingin menusuk telinga.
“Hanya melihat-lihat. Aku menyukai daun ivy,” kilah Emely.
“Bukannya kamu penasaran apa yang ada di dalam sana?”
Sebelum Emely menguraikan alasan lagi Jason kembali bicara.
“Lebih baik bagimu utuk fokus pada apa yang sudah menjadi takdirmu dan mengabaikan hal lain yang bukan urusannmu.”
Dengan cepat Jason menarik tangan Emely. tak ada ubahnya dengan Calum.
***
Malam makin larut, Emely melupakkan ketakutannya pada kenyataan di luar kastil, dia berhadapan dengan layar komputer mencari informasi menggenai Jessika, dia sudah memilki rencana besar untuk gadis itu.
Mendadak dia inggat pada ikat rambut tadi, Ibu Nari biasanya belum tidur jam seperti ini, besok pagi dia pasti akan lupa lagi.
Dugaanya salah, pintu kamar dan lampu di dalamnya telah padam, dia bergegas kembali ke kamar. Suara aneh menyita perthatiannya, suara itu datang dari arah dapur seperti suara pisau beradu dengan batu, ada yang memotong sesuatu tengah malam begini. Hari ini penuh dengan kejutan, apa lagi yang akan dia hadapi sekarang.
Lampu dapur menyala terang, dia berjalan perlahan, jantunya berdebar kencang.
__ADS_1
Matany mendadak terbelalak, di sana ada Jason dengan sebuah cawan emas, sudut bibirnya berdarah, bau amis meruyak. ketiak dia membuka mulut, ada darah menempel.
Makam dan tiang pasak itu mengingatkanya pada kisah Vampir dan Drakula dan darah... darah