Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Trap


__ADS_3

Emely menghempaskan tubuhnya pada sofa berdebu. Satu-satunya barang yang belum dia bersihkan dari apartemen ini. Harga sewa yang jauh di bawah standar sangat cocok dengan penampilan tempat ini, kumuh. Kata pemiliknya, kamar apartemen yang akan dia huni dulunya bekas seorang wanita pemabuk. Dia bahkan sudah mebeli kamar itu, tapi dia sama sekali tidak keberatan jika menyewakannya pada Emely. mereka sudah bertemu dan berbicara. Dia sedang sibuk dengan pekerjaanya di Perancis. Barang-barang yang dibutuh kan oleh Emely tersedia. Lemari dapur dipenuhi oleh deretan botol-botol vodka juga anggur dari berbagi tahun.


Dia baru saja selesai mencopot wallaper dinding berwarna hijau gelap dan harus menggantinya dengan wallpaer baru yang di pesan oleh Vidia, berwarna pastel dengan motif bunga snow flake. Emenly mengetahui apartemen ini dari Vidia, kebetulan wanita pemiliknya kenalan dari nona cantik itu.


Hanya ada satu pesan dari sang pemilik apartemen, “jangan sentuh botol minumanamku. Aku akan mengabilnya suatu saat nanti.”


Ruangan ini cukup pengap, dia belum membuka jendela dan ventilasi udara terhalang tumpukkan debu. Sama seperti hatinya kini. dia tak pernah berhenti memikirkan keadaan Jason juga Calum. Apakah mereka masih marah padanya saat ini? Apakah mereka tidak ingin menemuinya sama sekali. Sekarang pun dia masih mempertanyakan keputusannya, haya saja ini adalah cara terbaik agar dia berhenti memasuki kehidpupan Jason. Hal terburuk yang tidak ingin dia lihat lagi selamanya adalah amarah pria itu. Menakutkan sekaligus mengores luka.


Emely melupakan sejenak urusannya dengan keluarga mantan tunanganya dulu. Dia menyibukkan diri selama beberapa hari mengurus apartemen juga bersosialisasi dengan beberapa tetangganya.


Kamar di sebelah kanan di tepati oleh Vira, wanita berusia 60 tahun bersama anjing pudel yang warnya sama seperti padang rumput musim panas dan seekor cihua-cihua berwarna putih bersih. Wanita itu ramah bahkan sudah berulang kali mengatarkan chese cake ke tempatnya.


Di sebalah kanan seorang wanita berusia 20an bergaya metal. Emely takut saat bertemu dia pertama kali, tapi dia tidak seburuk penampilannya, cara bicaranya halus dan seorang pencinta kucing. Selama beberapa pagi, Emely terbangun dengan kegaduhan anjing pudel wanita tua dan kucing gemuk milik Merida.


Emely memperkenalakan dirinya sebagai Ester pada mereka. dengan penampilan yang berbeda. Kacamata juga rambut yang selalu di kepang dua, dan kawat gigi. Aksen bicaranya dia tambahkan dengan logat Perancis, apapun yang dia ingat dari pelajaranya bersama Jason selama beberapa bulan. Dia juga sudah mendaftarkan diri pada satu layanan jasa Cleaning Service. Menungu panggilan untuk bekerja.


Setelah apartemennya siap untuk ditepati, dia memutuskan untuk merilekskan tubuh dengan bersantai sofa sembari menatap anjing cihua-cihua dan kucing mini bermain di depannya. Lucu rasanya memperhatikan binatang-binatang itu. si anjing pudel bertingkah ramah pada kucing kecil itu, tapi tidak pada si gemuk. Tapi diam-diam dia peduli. Jika Merida kembali pulang kerja larut malam, dia akan membawa seekor ikan meletakkannya di depan pintu kamar Merida.


Suara hp berdering nyaring, bergema memenuhi seluruh ruangan. Dia menatap layar ponsel. Charli.

__ADS_1


“Bisa kah kita bertemu?” tanya Charli tergesa-gesa. “Ada yang ingin aku bicarakan?”


Emely merasakan ada yang aneh dari cara pria itu berbicara, kenapa pula dia bicara sembari menggetukkan tangannya pada meja?


***


Pukul 07.30 Emely berjalan menuju lokasi yang di tentukan oleh Charli. Dia menggunakan jaket hitam dengan bawahan celana trening besar. Dia sengaja mengajak Merida dan Virah. Mereka seperti sebuah keluarga saat itu.


Emely meminta Merida menyamar sebagai dirinya. wanita itu cukup berani menerima tantangan dengan bayaran satu kaleng makananan kucing. Postur tubuh mereka sedikit berbeda. Tubuh Emely persis dengan Ariana Grande. Tinggi Merida 5cm di atasnya. Ememly tidak menceritakan siapa dirinya, dia hanya bilang, pria yang akan mereka temui adalah mantan kekasihnya yang ingin memberitahukan informasi penting. Dia tidak ingin melihat wajahnya lagi, tapi penasaran informasi yang akan dia sampaikan.


Berada pada penghujung musim gugur, udara cukup dingin. Hanya secuil orang yang mau keluar. Emely berjalan bersama Vira dengan tangan memegang tali pengikat anjing. Dia memasang headset memberi kode pada Merida. Mereka baru saja berkenalan, tapi Emely mempercayai wanita itu sepenuhnya.


“Apa yang ingin kamu tanyakan?” Merida mengikuti ucapan Emely.


“Mereka mengetahui keberadaan Emely. mereka percaya dia masih hidup.”


“Siapa mereka?”


“Mereka, orang-orang yang bersengkokol membunuh Emely. Sekarang aku yakin, dia masih hidup.”

__ADS_1


“Bagaimana kamu bisa yakin? Apa yang mereka katakan padamu? Bagaimana kamu tahu?”


“Mereka bilang, Emely menyamar sebagai Emma Gwen dan masuk ke perusahaan Ayah Marvin.”


“Hah? Bagaimana mereka tahu?”


“Seorang pria bernama Calum mengatakan itu pada Marvin. Dia bodoh, bagaimana bisa dia tidak menaruh curiga masuk ke dalam sebuah kantor perusahaan ternama dengan mudah.”


Itu kah alasan Calum ada di sana ketika hari wawan cara? Pikir Emely.


“Lalu dimana dia sekarang?”


“Dia adalah kamu!” Charli tiba-tiba berdiri dan menahan tangan Merida. Tapi dia terkejut mendapatkan perlawanan dari wanita itu. Merida membuka topi yang menutupi kepalanya sedari tadi. Dia bahkan sempat menendang lutut pria itu dan menjatuhkannya.


“Apa yang kamu inginkan?” Merida bertanya dengan penuh amarah.


“Mereka di sini.... mereka disini!”


Benar dugaan Emely ini jebakan. Ketukan selama telpon itu adalah kode SOS.

__ADS_1


__ADS_2