
Seragam menyatukan segala perbedaan. Itu lah yang terjadi di pabrik pembuatan shampo kelurga Marvin. Pabrik besar ini didirikan oleh Ibu Marvin, baru beberapa bulan ini. Semua berpakian jas putih dengan hair cup dan masker. Semua juga disterilkan. Peralatan yang digunakan adalah mesin keluaran terbaru dengan label negara Jepang.
Mata Emel dengan jeli meneliti setiap sudut pabrik, berapa jumlah CCTV dan bahan apa saja yang digunakan. Ia berjalan bersam deretan anak SD. Hari ini dia tidak ingin mengabil resiko masuk ke dalam pabrik dan mudah dikenali. Ia menyamar sebagai guru pendamping dari anak-anak sd ini. setidaknya dia tidak akan memusingkan diri dengan surat lamaran dan terikat kontrak dengan bayaran tidak sedikit jika melanggar.
“Siapkan shampo dengan kemasan paling baik untuk dikirim ke tempat Jessika,” dia dapat mendengarkan sang kepala pabrik berbicara dengan bawahannya.
Semalaman, Emely mengahapal wajah dan nama anak-anak yang akan dikawalnya hari ini. juga bagaimana tingkah seorang guru profrsional di depan cermin. Hari ini dia menjadi orang lain. Miss Bernadetta, lengkap dengan jambul tinggi, kaca mata kotak, polesan lipstick dengan bibir di tebalkan sedikit, juga kalung mutira khas dari guru SD itu. dan wanita 45 tahun itu mereka culik secara halus ke pinggir pantai bersama Vidia tentu saja Calum dengan senang hati menenteng papan seluncurnya. Ia bahakan sudah menggenakan baju pantai saat lari pagi.
Hari ini, untuk pertama kalinya, Jason mengambil bagian. Dia menyamar dengan pakian teknisi mengecek aliran listrik.
Shampo untuk Jessica di siapkan dalam satu kotak berlapis kertas silver mengkilat. Jason berjalan melewati deretan shampo yang baru saja selesai di kemas. Emely mebantu mengambil deretan shampo yang jatuh, lalu menukar shampo yang akan di kirimkan untuk Jessika dengan shampo yang mereka racik. Yang diisi dalam kotak merah bawahan Jason.
Setelah selesai, dia kembali pada rombongan anak-anak SD. Mengiring mereka melanjutkan tour ke liling pabrik.
***
“Sebentar lagi semua akan selesai,” ucap Emely sembari menyodorkan air mineral pada Jason.
__ADS_1
“Ku rasa belum,” bantah Jason “ingat, sampai hari ini masih banyak misteri yang belum kamu pecahkan. Selama ini kamu hanya mebuat mereka takut tanpa membuat mereka mengakui apa yang sudah mereka lakukan padamu. Pernakah kamu mendengar mereka mengatakan namamu? Kamu seperti abu hasil pembakaran kayu, tidak berguna selain di buang atau di taburi sejauh-jauhnya.”
Mata Emely terpejam, menatap ke pantulan dirinya di air danau. Sesekali tanganya iseng memainkan daun pillow yang berdiri tegak di sisi danau. Pohon yang mengingatkannya pada kesedihan sama seperti daun-daun pilow, seakan luruh dari batangnya menyentuh bumi.
“Ya, kamu benar. Aku bahkan selama ini merasa semua yang aku lakukan sia-sia. Haruskah aku menlajutkannya atau... aku berhenti saja. Marvin sama sekali tidak menciptakan secuil ruangan pun tentang diriku. Dan...” ingatan Emely terpaut pada kejadian malam pesta. “Malam itu, dia mengatakan jika aku mengingatkannya pada mantan kekasihnya.”
“Memang kamu tahu, berapa banyak mantan dari Marvin? kamu lupa apa yang dia katakan di salon, mantanya hanya satu dan dia sudah menjadi istrinya, Tiffani.”
Emely menghempaskan dirinya di rerputan yang basah. “Entalah... apa yang sebenarnya terjadi pada Marvin. Aku harus mencari tahu cerita sesungguhnya. Kalaupun aku sudah menyakini dari awal menjalin hubungan dia sama sekali tidak tulus menjalaninya bersamaku. Barang kali aku hanya boneka pengganti selama Tiffani menghilang.”
“Kita bereskan dulu urusan luar, lalu kita akan mencari tahu secara langsung. Apa kah kamu masih mancintai Marvin?”
“Jika dia meminta maaf padamu, apa yang akan kamu berikan sebagai jawaban?” tanya Jason lagi. Dia menyadarkan tubuhnya pada tiang lampu. Dia menggenakan jaket biru muda dengan campuran warna putih.
Emely merapatka jaket wol merah tua miliknya. “Aku sedang mengarungi jalan membalas dendam Jason. Jika aku masih memiliki semua rasa itu aku tidak akan melakukan ini. Jika pada ujungnya aku akan meberikan maaf... aku tidak bersedia untuk hidup kembali.”
Jason menarik napas panjang. “Ayo pulang! Sebntar lagi gelap.”
__ADS_1
Dengan enggan Emely menggerakan tubuhnya masuk ke dalam mobil, dia duduk di samping Jason. Matanya langsung tertuju pada sobekan pada jaket pria itu.
“Ini sobek. Akan ku jahitkan untukmu.”
“Memangnya kamu bisa menjahit?” Pertanyaan itu melontar penuh keraguan.
“Tentu saja. aku hanya butuh mesin jahit di ruangan menjahit,”
Jason berbalik menatap Emely seraya mengentikan mobil serentak. “Kamu tahu tentang ruangan menjahit? Dari siapa?”
“Hei... aku hanya berkata tentang ruangan menjahit. Mana aku tahu di sana ada ruangan menjahit.”
“Kamu berbohong pada ku Emely!” kerutan emos mencuat di wajah Jason. ‘Aku sudah menolongmu,, bukannya meberikan kebebasan padamu untuk melihat isi dalam rumahku! Turun dari mobil ini sekarang!”
“Tapi...”
“Aku bilang turun! Aku tidak ingin melihat wajahmu mulai hari ini!”
__ADS_1
Emely turun dari mobil dengan tubuh bergetar. Ada apa dengan rungan itu sebenarnya?