
Sudah cukup lama Emely tidak mengendarai motor, tapi kali ini dia menggerakan kekuatann penuh untuk mengendarai motor besar. Dia tidak peduli jika terjadi tabrakan hari ini, yang paling penting, dia bisa menahan para penguntit.
Terdengar dencitan panjang. Emely mebelok motornya tepat di depan mobil, Merida melakukan hal yang sama. Dia lebih cocok dengan jekat hitam kulit di bandingkan dengan Emely yang hanya menggenakan baju kaus putih dan celana denim di uadara dingin.
Mobil itu berheti. Sang pemimpin geng motor menggerakan tangan kepada kedua wanita di depannya untuk tidak terburu-buru menghampiri sang pengendara mobil. Jangan sampai sang sopir memegang senapan.
“Get out!” Sang pria berbadan kekar, dengan tato menghiasai seluruh permukaan kulit terkecuali wajahnya mengetuk kaca jendela mobil dengan tongkat besi.
Tidak ada tanda-tanda sang pengemudi akan keluar dari mobil. Emely menahan napas. Dia sudah bosan menjadi lemah dan diperdaya. Ia menghenatakkan kaki. Berjalan dengan cepat menuju mobil.
Raungan sirene mobil polisi meraung dari kejauhan ini bukan pertanda baik. Mereka dalam bahaya.
“We have to go!” perintah pemimpin geng motor pada anak buahnya tentu saja pada mereka juga.
“Wait!” Emely menyambar tongkat besi dari sang pemimpin geng motor. Menghantamkan tongkat besi ke kaca mobil bagian depan, lalu mengarahkan jari tengahnya ke arah si sopir sebelum mengendari motor menjauh.
***
“Masih banyak yang harus kemu pelajari,” ucap Merida sembari memasukkan potongan pizza ke mulutnya.
Emely hanya terdiam menatap potongan Pizza yang tidak tersentuh sama sekali. Selera makannya benar-benar hilang.
“Aku lelah untuk bersabar dan kembali belajar Merida,” jawabnya perlahan. Dia mengalihkan matanya ke arah jalanan kota yang padat dari jendela restoran. “Aku akan mungkin akan melakuakn tindakan bodoh kedepannya, aku lelah... terlalu lelah untuk pura-pura kuat. Berpura-pura menjadi orang lain di depan mereka.”
“Aku paham. Aku memiliki kisah kelam juga. Keluargaku mendendangku keluar dari rumah setelah mereka tahu aku mengidap penyakit parah, padahal itu hanya aka-akalan Kaka iparku yang tidak menyukai keberadaanku di rumah. Jadi aku memutusan untuk keluar, menjalani kehidupan sendiri. menjadi seperti ini. Sebentar...” Merida mengambil hpnya dan menunjukkan foto seorang gadis berkacamata, berkawat gigi. Terlalu asing untuk dikenali. “Ini aku.”
“Ken...”
__ADS_1
“Sama sepertimu Emely. aku tahu beratnya sebuah penghinatan dari orang yang kamu percaya. Sakit.”
Untuk sekarang, Emely tidak merasakan apapun. Hatinya benar-benar mati.
“Jadi kapan kita menemui Morish?”
“Akutidak tahu, selama kita terus diintai kita tidak akan pernah ke sana.”
“Ia. Dan untuk sampai pada titik itu, kamu perlu makan Emely. jangan sampai kamu malah sakit. Jadi kita akan kembali ke apartemen?”
“Kita tidak aman kemanampun.”
“Tempat tinggal Vira selalu aman. Kamu lupa pemilik apartemen adalah putra kandungnya?”
Emely terdiam, setidaknya dia dapat beristirahat dengan tenang. Ia mengirimkan surat pengundaran diri pada Rosela agar wanita paru baya itu tidak mencarinya. Cukup sudah dia berhadapan dengan Marvin. bisa saja dia tahu semua rencana pembunuhan terhadapnya. Keluarganya tidak akan sepasrah itu dia yakin yang memberikan larangan adalah kelaurag Marvin. Dia akan menemukan bukti untuk itu.
Perlahan dia memoles cat pada rambut. Ia mengambil jarak 2 cm warna rambut hitamnya sisanya dia ganti dengan warna pirang. Tidak ada keraguan terpancar di wajahnya.
Merida dan Vira muncul dengan wajah terpana.
“Aku sudah melacak pemilik plat mobil kemarin,” kata Merida.
“Dimana?”
“Aku tidak yain kamu ingin ke sana. terakhir mobil itu terpakir di diskotik.”
“Mana mungkin kita menemukannya.”
__ADS_1
“Apa yang tidak mungkin anak muda,” Vira tersenyum sembari mengelus anjing gemuknya. “Kebetulan sekali kalian memiliki misi balas dendam yang sama. Jadi aku merasa ikut bertanggung jawab. Hari ini kalian pergi menemui Antonio di diskotik.”
“Untu apa?” Merida dan Emely kompak bertanya.
“Temui dia di sana. Ada hal yang ingin dia sampaikan pada kalian.”
Emely menyambar jaket di sofa. Ini adalah penampilannya yang baru, eyeliner tebal, lipstik hitam dan rambut pirang. Sepatu bot pemberian Merida serba hitam. Menjelang malam mereka tiba di pintu diskotik. Emely memilih bersandar pada motor harley davidson di parkiran ketimbang masuk ke dalam diskotik.
Mobil Marvin lewat dan berhenti di depannya. Tapi yang keluar bukan Marvin melinkan Tiffani bersama bodygardnya. Bersama Sasa.
“Nyonya anda yakin dia ada di dalam?”
“Tentu saja. Pergilah cari Marvin di dalam, au akan menunggu di sini bersama Sasa.”
Tatapan mereka bertemu ketika sang bodygard berlalu. Emely mengunyah permen karet, meyilangkan tangan di dada.
Sasa dan Tiffani menatapnya. Ia mengenal si Sasa si tukang nyinyir itu. Dia sudah kembali normal setelah sebulan hidup dalam depresi. Dia mengenal tatapan meremehkan itu. dia pasti menganggap Emely adalah bagian dari diskotik.
“Lihat, dia pasti bagian dari diskotik ini. lihat penampilannya gadis murahan.”suaranya jelas terdengar.
Sasa memiringkan kepalanya sembari cekikikan berbisik pada Tiffani. Antonio si pria bertato muncul bersama Merida.
“Ayo berangkat!” Antonio melemparkan kunci motor pada Emely.
Sebelum Emely pergi, dia berbalik tepat ke arah Sasa lalu menampar pipinya.
“Kamu seorang pembunuh drajatmu lebih rendah dari pada siapapun.”
__ADS_1