Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Pria Aneh


__ADS_3

Aroma aneh menyambangi penciuman Emely. Tubuhnya masih terbaring di tempat tidur. Ia yakin apa yang dia hirup bukan lah bau obat-obatan rumah sakit. Aroma kuat nan menyengat itu lebih menyerupai bau bangkai membusuk. Matanya mengerjap perlahan, tidak ada lagi langit-langit ruangan bercat biru dengan sapuan cat putih menyerupai awan. Kini matanya harus ia picingkan, cahaya lampu pijar suram sanggat menggangu.


Di atas kepala gadis itu menggantung langit-langit hitam, cahaya lampu tidak bisa menjangkau semua ruangan. dia sepeutaran bula lampu nyaris padam itu, jaring laba-laba melilit.


Dimana lagi aku kini? batinnya dia sudah cukup tergaggu saat pertama kali membuka mata dan menyadari ia masih hidup dan sekarang dia berada dalam ruangan seperti ini.


Nada suara dari dentuman sepatu membuat Emely sadar dia berada dalam ruangan berlantai kayu. dengan cepat dia memejamkan kelopak matanya lagi. siapaun yang sudah membawanya jelas bukalnlah orang baik-baik, kesuraman ruangan ini adalah bukti nyata dia tidak aman.


Suara langkah kaki makin jelas, tepat di samping Emely.


“Kenapa berpura-pura?” suara dingin itu bergema dalam ruangan.


Emely mengingat jelas suara khas pria berkacamata itu. entah apa lagi yang akan dia lakukan sekarang. Gadis itu membuka matanya lagi, melirik ke arah pria aneh itu. Kesuraman ruangan ini sama sekali tidak membuatnya melepaskan benda hitam yang bertengger pada hidung mancungnya. Dia membawa sebuah toples berisi cairan hijau kental. Bau busuk di ruangan ini barang kali berasal dari benda kaca itu.


“Kau sudah bisa bicara,” kata pria itu lagi, “luka robekan pada bibirmu sudah pulih. Katakan saja, tapi aku rasa aku tau apa yang akan kamu katakan.”

__ADS_1


Emely menggerakan kepalanya dengan susah payah. Saat pertama kali membuka mata, pria itu tahu apa yang dia pikirkan jadi sebaiknya dia menyimpan tenaga.


“Kamu tidak takut ruangan gelap bukan? Maaf tapi kamar yang kamu gunakan 1 bulan yang lalu sedang direnovasi. Dan lagi nenek ku sama sekali tidak mau menggunakan ruangan lain untuk mengobati mu.”


“Men ... go ... bati ... ku?” tanya Emely.


“Ya, kau pikir kamu akan bertahan jika tidak di obati? wanita aneh!”


“Kau yang aneh!” ujar Emely dalam hatinya. Dia tidak akan berkata terus terang pada pria yang sudah menyelamatkan nyawanya.


Dada Emely terasa panas, pria ini berbicara apa saja yang ada di kepalanya tanpa memfilter terlebih dahulu. Sadar kah dia sedang berbicara dengan wanita sekarat.


“Sudah berapa bulan aku di sini?” tanya Emely setelah saran itu akhirnya di turuti.


“Lalu, jika kau tahu kamu mau pergi dari sini? Mana rasa terima kasihmu?”

__ADS_1


Emely hanya bisa mendesah pilu, dalam hati dia mendoakan kesialan menimpa pria berkemeja hitam itu. Tentu saja dia akan membalas budi, apa pun akan dia lakukan.


“Aku bersedia melakukan apapun untuk mebalas budi. Tapi bisa kah kamu meberi tahuku namamu?”


“Itu tidak penting. Tubuh mu mengalami kemajuan. Kamu sedikit lebih baik. Kamu bisa duduk sekarang.”


Emely berusaha bergerak, selama ini dia menjadi putri tidur, tapi tubuhnya sanggat kaku, rasa nyeri memercik di sikunya ketika dia menggerakan tangan berniat bertumpu pada siku.


“Tolong, bantu aku!” pinta Emely.


“Lakukan sendiri! Aku bukan pembantu mu!”


Emely dapat menerima itu, mungkin kehadirannya selam ini hanya menjadi beban untuk pria itu.


Pria itu keluar, Emely terus berusaha bisa bangun, berulang kali gagal. Tapi dia menolak untuk menyerah. Mencoba-dan mencoba lagi. Dia harus berjuang untuk kembali seperti semula dan menemui Marvin. Dia harus bangun!

__ADS_1


__ADS_2