Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Trouble Again


__ADS_3

“Tadi ada yang datang mencari seseorang di apartemen ini,” Merida menyambut Emely di depan kamar di apartemen. Dia masih dengan dandanan metalnya. Rambutnya di cata ungu senada dengan warna lipstick yang dia kenakan. Jaket kulit hitam yang sama melekat pada tubuhnya.


Emly batal memasukan kuci padahal dia ingin membuka pintu hijau di depannya.


“Kebetulan kamu datang,” Vira muncul dengan wajah penuh dengan tepung. “Aku baru saja membuatkan cookies.”


Emely ingin merebahkan diri di kasur, hanya saja dia tidak mungkin menolak tawaran hangat itu. Mereka masuk ke kamar apartemen Vira, dimana aroma kue yang meruyak memenuhi ruangan, dua ekor anjing tidur dengan posisi manja di atas sofa. Kelelahan yang menumpuk di bahunya terangkat melihat posisi makluk berbulu itu. Vira tidak berhenti melontarkan lelucon mengundang tawa.


“Astagah, aku lupa lagi. Ester, tadi ada pria berambut pirang yang mencari seseorang.” Merida menyambung lagi pembicaraan yang terputus.


Pria bermbut pirang? Emely mengerutkan kening, mungkin itu adalah Calum, tapi untuk meyakinkannya dia bertanya, “Bagaimana ciri-cirinya?”


“Dia tinggi, berbadan kurus dan yaaa lumayan tampan.” Jawab Merida.


“Siapa yang dia cari?”


“Wanita bernama Emely atau Emma Gwen, tadi dia menyodorkan fotonya. Aku rasa dia jauh sekali dari kamu. lihat wanita cantik itu dan kamu...” Merida meledakkan tawanya.


“Apa ada hal lain yang dia katakan?”


“Dia bilang, jangan berteman dengannya dia wanita penipu.”


Nafas Emely tercekat, dia masih tidak mempercayai apa baru saja di katakan oleh Merida. Harus kah dia mengatakan kebenaran tentang dirinya pada mereka. Jika dia tidak berbicara sekarang tentang dirinya apa tanggapan mereka jika kebenaran dia ungkapkan nanti, dia tentu saja dia benar sebagai penipu.


“Kenapa kamu malah melamun Ester?” Merida menatapnya bingung.


“Sebentar...” Ester berdiri dan menuju apartemenya, dia ingin mengambil potongan koran tentang dirinya. Kejadian kebekaran lumbung jagung dulu. Dia akan memberikkannya pada Merida dan Vira.


Begitu dia membuka pintu, darahnya mendesir turun ke kaki. Matanya membelalak, dia tidak membayangkan tempat yang ditinggalkan selama satu minggu berakhir dengan berantakan begini. Semua barangnya hancur, pecahan botol berserakkan di lantai dapur.

__ADS_1


Lutut Emely bergetar, badanya merosot ke lantai.


Merida menyusul sama terkejutnya. “Ada apa ini? Kenapa semua jadi begini? Aku yakin tidak ada yang masuk ruangan ini.”


Emely memijat kepalanya yang pening. “Aku... aku tidak tahu.”


“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Ester? Dari awal kamu kemari, aku curiga ada yang aneh padamu.”


Emely berusaha bangkit berdiri dengan rok mengembang dan jaket wol kebesaran di tubuhnya. Dia berjalan membongkar lantai kayu di bawah karpet. Dia mengambil tumpukkan koran yang diberikan Charli padanya.


“Kejadian tragis ini!” mata Merida terbelalak, “Tentu saja, aku mengidolakan pasangan itu, kamu tahu Emely dan Marvin. Mereka benar-benar pasangan yang cocok, aku masih ingat begaimana mereka berdebat tentang makan siang saat acara pameran, harusnya aku bilang mereka pasangan yang aneh. Lalu tiba-tiba dia menghilang. Keluarga Marvin memang menutupi kemalangan itu, tapi tidak dengan warga kota ini.”


Emely terharu mendengar penuturan itu, “Aku sedang mencari tahu tentang kejadian ini, aku Emely.”


Merida menggunakan jarinya mengangkat kepala Emely yang tertunduk. Dia menatap wajah perempuan di hadapannya. Respon yang ditunjukkan jauh dari perkiraan Emely. Dia memeluknya.


"Aku tahu, ini pasti berat untukmu,” dia menyentuh bahu Emely. “Apayang terjadi padamu?”


“Kamu tidak yakin untuk menceritakaanya pada ku, tak apa, aku paham. Tenangkan dirimu sekarang. setelah itu aku dan Vira membantumu meberskan kekcauan yang dibuat oleh para pengacau itu dan kamu pergilah ke pengawas apartemen, mereka pasti memiliki rekamanan CCTV. Sebut namaku jika mereka menolak. Aku heran, bagaimana bisa aku tidak menyadari kedatangan mereka.”


Emely menatap lantai kamar, ada jejak sepatu dari lelehan anggur di lantai. Emely mendadak berdiri, apa yang dikatakan pemilik apartemen ini setelah tahu botol minumannya hancur.


Dia menarik napas legah, botol-botol itu masih utuh selain yang satu ini. Dia kembali merundukkan badan, mencolek jejak kaki dengan tanganya. Anggur itu nyaris mengering, itu artinya kejadiannya sudah berlangsung beberapa hari yang lalu. Emely berlari ke arah jendela, dia menyibak tirai, kaca jendelanya masih baru.


Dia membadingkan kaca jendela yang lain dengan kaca jendela yang satu itu, ada serpihan debu dan beberapa titik mengkilap. Kaca jendela lama jelas di pecahkan dari luar. Ini apartemen lama, kaca jendelanya jelas berbeda, kaca ini terlalu baru dibandingkan dengan yang lain.


Mata Emely menyusuri lengkungan jalan. Tidak ada CCTV di bagian belakang apartemen, percuma saja dia memongkar rekaman kamera CCTV apartemen tidak akan dia temukan. Dia berbalik dan menemukan Merida dan Vira sedang membalik sofa. Emely menghampiri mereka. ia mendadak ingat apa yang pernah diajarkan Calum padanya.


“Merida, kamu punya komputer?”

__ADS_1


“Tentu saja. Ayo ke kamarku.”


Emely memngikuti Merida, sekali lagi jantunya berpacu dengan cepat. Di kamar Merida ada komputer dengan layar bertumpuk.


“Hacker?” kedua alisnya terangkat.


“Tidak. Itu bekas kakaku. Dia sedang berada di penjara karena mencuri informasi pemerintah, jangan tanya aku, mana aku tahu cara memakainya.”


Emely meyalakan komputer, dengan cepat dia melacak rekamanan CCTV dari jalan ke jalan. Berawal dari sebuah mobil van hitam yang melintas di belakang apartemen mereka. Mengikuti ke arah manamobil itu berjalan. Dan jejak mobil itu menghilang di CCTV terkahir di pinggir kota jalan menuju kastil.


“Jangan buru-buru mengambil keputusan,” ia berkata pada dirinya “bisa saja mobil itu sebenarnya menuju arah lain.”


“Mobil itu, logonya...” Merida terbelalak. “Aku tahu mereka!” dia berseru dengan semangat.


“Siapa?”


“Logo akar melilit paku itu adalah logo gengster dari kota sebelah. Coba cek barang apa yang menghilang dari kamarmu.”


“Aku belum mengeceknya...”


“Dimana kamu menyimpan dokumenmu? Mereka bisa saja mengecek keaslian dokumenmu.”


“Itukan tindakan bodoh.” Vira muncul sembari menggendong anjing gemuknya.


Kedua wanita di hadapannya menggerutkan kening.


“Pergerakan mereka terbatas. Jika mereka mengecek keaslian dokumen, itu artinya mereka mebongkar kejahatan sendiri, mereka tidak sebodoh ini. Aku yakin ada yang salah dengan ini.”


“Bagaimana bisa anda tahu?” Merida tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

__ADS_1


Vita mengulung lengan bajunya menunjukkan tato yang mirip dengan logo pada mobil. “Aku bagian dari mereka. Aku menggenal anak-anaku dengan baik. Akan aku tanyakan pada mereka apa yang mereka lakukan. Tapi jelas, mereka bekerja untuk seseorang.”


__ADS_2