
July 2 tahun sebelumnya.
Emely menatap bayanganya di depan cermin. Susah payah dia menahan napas agar bisa mengacing celana jeans yang dia kenakan. Selembar jaket tipis dia sambar dari gantungan pakaian, tidak ada lagi waktu untuk berbenah atau memoleskan bedak tabur pada wajahnya. sembari mengerutu dia berjalan menuju motor metik warisan saudara sepupunya. Hpnya terus berdering sedari tadi membuatnya makin terburu-buru.
Dia bisa membayangkan wajah Carly merenggut bagaikan gunung api siap memuntahkan lahar panas dan Pinkan adalah jerat berduri yang akan menahan kakinya dengan erat. Pasangan kekasih itu benar-benar merepotkan. Mereka membuat sebuah stand foto pada acara pameran tahunan di kota mereka. Acara itu diadakan di lapangan tengah kota. Pengunjung tempat mereka mendadak penuh dan membutuhkan fotografer tambahan.
Emely sendiri bukanlah fotografer, dia hanya suka memainkan kamera dan selalu belajar dari yootube, hasil jeperetannya lumayan. Pekerjaan aslinya ada di sebuah kantor distributor bagian peronalia. Akhir pekan dia gunakan untuk belajar.
“Kenapa lama sekali?” Sesuai dugaan, Charly berdiri dengan mata terbelalak di depan stand. Sedangkan antrian pengunjung memadati tempat itu.
“Aku harus pamit pada peternakan semutku. Kau tahukan, aku tidak bisa pergi tanpa mengucapkan perpisahan pada mereka satu persatu," rancunya menutupi kekesalan melihat wajah kesal pria atletis di depannya.
Charly mengigit bibir, pipinya berubah cekung menahan amarah agar tidak berteriak kesal di hadapan orang banyak. Ia sudah mengenal gadis di hadapnnya cukup baik. Berdebat dengannya bisa memakan waktu berhari-hari.
“Baju ini lagi!” suara Pinkan menarik perhatian pengunjung lain. Dia sukses mencetak gurat merah di wajah Emely.
“Apa salahnya?” gerutu Emely. Sahabatnya selalu saja mempersoalkan penampilannya. “Jika kalian tidak suka, aku bisa pulang! Lebih baik bagiku duduk di rumah dengan tenang, daripada harus berhadapan dengan kucing sihir seperti kalian.”
“Ayo masuk!” Charly menarik tangan gadis itu tanpa mempedulikan ocehannya.
Ini hanya sebuah tempat kecil, Charly sebagai foto grafer. Pinkan mengurus pakaian dan juga sebagai editor. Dan sesosok wajah baru duduk di pojokkan sibuk beradu tatap dengan tablet.
Emely menggerakan matanya, meminta penjelasan siapa di sana.
“Oh." Carly mengerti. “Emely kenalkan ini saudara sepupuku Marvin.”
“Hay." cengiran tercetak di wajah gadis itu, dia bersemangat mengulurkan tangan. Namun pria berkacamata itu tidak peduli, dia mengakat wajahnya, menggerakan sudut bibirnya sekilas, lalu kembali dalam dunianya.
“Orang aneh,” desis Emely.
Emely menekuk kepalanya dalam-dalam, menekan genderang perang yang bertabuh riuh di dalam kepalanya. Tengkuknya menegang, rona merah merekah ke seluruh wajah, ia menjadi dinamit yang tidak layak dilihat. Pria jangkung berkulit pucat di sebelahnya adalah makhluk teraneh sejagat raya yang pernah dia temui, berada dalam keramaian tapi tidak ingin bersosialisasi. Dia tidak menanggapi Emely sedikit pun, begitu pula permintaan para pelanggan yang datang.
Beban di pundak Emely bertambah ketika pasangan paling menyebalkan di dunia menghilang dari tempat mereka, puluhan pelanggan dia layani sendiri.
__ADS_1
“DIAM!” Suara baritonnya mendadak membungkam sepasang kekasih yang tengah diladeni Emely selama 20 menit ini, ia sudah berhasil mencapai kesepakatan pose foto untuk mereka. Sang perempuan bertubuh kurus yang ingin kelihatan proporsional dan pria bertubuh tambun yang ingin terlihat ramping.
Emely memutar kepalanya hingga harus menggeser beberapa pohon plastik berat menutupi tubuh sang pria. Punggungnya menjerit sakit begitu membungkuk. Dan sekarang setelah bentakan pria berkacamata kotak itu, rupa mereka tak bisa dijelaskan, detik itu juga mereka bisa menghancurkan tempat ini.
“Santai, dude,” kata Emely berusaha terdengar akrab, pada hal hatinya mengamuk.
“Kau siapa?” balas Marvin tanpa berpaling.
Andai urat malunya sudah dipotong, dia akan melemparkan tripot kamera ke wajah Marvin.
Lihat saja aku akan menyembunyikan kaca matamu, kau akan menjadi burung malang yang menabrak pohon kelapa lalu tertimpa semangka! Batin Emely.
“Kami akan pergi dan mengutarakan pada orang-orang untuk tidak mendatangi tempat kalian!” marah wanita kurus berambut mengkilap di depan Emely.
“Yah, tempat kalian adalah yang terburuk!” tambah pasangannya.
“Oh,” sahut Emely lembut, lidahnya sampai keluh ketika dia berbicara. “Sungguh? Padahal aku baru saja ingin mengatakan kalian adalah pasangan paling serasi yang pernah aku lihat. Pasanganmu sangat cantik, Tuan. Nona, kau terlihat cantik dari posisi mana pun gambarmu diambil.”
“Kau menjilat!”
Kedua orang itu berpandangan.
“Ah, satu lagi sebagai permintaan maaf dariku dan Pangeran neraka yang terdampar bersamaku dalam situasi yang sama sekali tidak menyenangkan ini, kalian mendapatkan pelayanan kami secara gratis.”
“Tidak menarik, kami bisa mengambil foto dengan mudah di tempat lain,” kata sang pria.
“Ah! Satu voucer pizza gratis?” Emely melihatnya di meja Pinkan tadi.
“Pacarku sedang diet!” bentak sang wanita ketika melihat senyum mengembang di wajah kekasihnya.
“Yah, yah!” ralat pria itu terburu-buru.
“Aku tahu tempat terbaik yang menjual salat dan makanan segar lain yang sangat baik untuk diet, kau tidak akan tersiksa.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Tentu!” Emely menarik secarik kertas menuliskan alamat ketring makanan sehat milik tetangganya lalu mendorong pasangan itu keluar dengan terburu-buru tentu dengan kalimat manis.
“Aku akan keluar sekarang!” teriaknya pada pot bunga tulip di depan kamera.
“Meninggalkanku sendiri?” tanya Marvin tiba-tiba.
“Haruskah aku peduli?” balas Emely. Matanya masih terpaku pada pot bunga, mengajak benda plastik itu bicara.
“Aku yang bicara,” kata Marvin.
“Oh!” Emely berbalik menyibak rambut hitamnya, menatap Marvin sinis, “kau bisa ....” mata mereka beradu. Kaca mata Marvin sudah tanggal, bola mata hijaunya menciprat Emely dengan getaran aneh. Ia kehilangan kata seketika.
“Kau bisa apa?”
“Bisa ... bisa sendirian di sini, tentu saja.”
“Paling tidak kau memasang tanda tutup di depan.”
“Tidak perlu, ada kau di sini!”
“Aku bukan fotografer!”
“Baiklah, kalau kau ingin melihatku melahap bunga-bunga plastik itu sebelum mati kelaparan, aku akan tetap di sini.”
Bibir merah Marvin mengerucut sesaat lalu mengangkat bahu.
“Mau kubelikan sesuatu?”
“Terserah saja!”
“Baiklah, salad brokoli sangat cocok untuk kepribadianmu!”
__ADS_1
“Apa pun, asal bukan brokoli!”
Emely memutar bola matanya, getaran tadi membuatnya nyaris berpikir Marvin adalah jodohnya tapi nada bicaranya masih saja sama, itu sebuah penyangkalan telak.