
Jason benar-benar tidak ingin menatap wajah Emely, dia memilih menghindar saat mereka bertemu. Emely jadi tidak enak hati dibuatnya. Selama bekerja di kantor, perasaan Emely tidak tenang. Ia heran belum mendapatkan surat pemecatan dari atasannya. Masalaha itu membuat Emely ekstra waspada. Tanpa sepengetauan Calum dia belajar bela diri. Salah satu karyawan di kasil sering latihan di halaman belakang. Beberapa bulan yang lalu secara tidak sengaja ia melihat Gill berlatih. Usianya memang tidak lagi mudah, namun kemampuannya layaknya seorang pemuda. Suatau saat Emely mebutuhkanya dia idak inggin terus menjadi yang tertindas.
Tangan Emely bergetar memegang nampan berisi sup jagung hangat, dia berusaha menyeimbangkan diri antara ketakutan dan rasa bersalah. Perlahan dia menggetuk pintu kamar Jason, dia tidak akan bisa menemuinya hari ini, seberapapun dia berusaha mengejar pria itu, dia akan memilih untuk menjauh. Maka dia mebuat keputusan pagi ini untuk langsung menemui Jason di depan pintu kamar. Dia tidak beriat membuat sup jagung ini untuk minta maaf atau menyogok si Pangeran berkaca mata hitam itu, dia membuat sup ini untuk satu alasan dia rindu rumah. Dia ingin pulang dan kembali merasakan masakan hangat racikan sang ibu. Dia tidak ingin menunda pertemuannya pagi ini, rasa takut akan lebih mengusainya ketika harus kembali setelah sarapan. Lagi pula mengingat cerita vampir yang dia baca, makluk imortal itu bisa membaca pikiran, jadi sebelum Jason tahu apa maksudnya dia lebih baik menerobos masuk sekarang.
Pintu kamar pria itu tidak terkunci. Emely tahu tidak dibenarkan masuk ke kamar seorang pria tanpa mengetuk atau permisi. Ini pertama kalinya dia melihat seperti apa isi kamar ini. tempat tidur besi besar bercat perak. Nyaris tenggelam dengan dinding abu-abu. Kamar ini membuat Emely merasakan duka yag mendalam. Ada vas kosong dia atas nakas putih berisikan tangkai-tangkai bunga berwarna coklat, kelihatan begitu tua. Beberapa foto di dinding tertutup kain putih.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara Jason menyusup telinga.
“Aku ingin bicara,” sahut Emely perlahan, takut salah bicara. Ia menekuk leher sedalam-dalamya, sempat ia melihat Jason tidak menggenakan kaca matanya.
“Sekarang kamu sedang bicara. Aku tidak ingin kita berbicara di sini! keluar dari kamarku sekarang!”
‘Tidak!” Seru Emely, ia bahkan terkejut mendengar suaranya sendiri.
“Kenapa...”
“Jika aku tidak mengatakannya sekarang, aku takut sepanjang hari ini aku tidak bisa menemukanmu untuk berbicara.”
“Aku di sini sepanjang waktu.”
“Tapi kamu mengaiabaikan aku. Aku hany ingin minta maaf atas kelakuanku yang tidak meyenangkan. Aku tahu kamu kawatir jika terjadi sesuatu padaku dan menggalkan semua rencana yang kamu pikirkan. Permintaan maafku mungkin tidak cukup, tambahkan saja dalam list yang harus aku bayar sebagai balasan atas apa yang kamu lakukan padaku, bahkan jika setelah ini kamu ingin menjadikan aku sasaran menembak, aku tidak keberatan. Aku mohon berhenti menyiksaku dengan bertingkah seperti ini.”
“Permintaan maafmu tidak akan mengubahku. Tingkah lakuku adalah apa yang aku inginkan bukan apa yang kamu katakan.”
__ADS_1
“Baik lah, kalau begitu... dari pda aku terus begini lebih baik jika aku meninggalkan kastil!”
“Itu keinginanmu. Kamu hanya memaafkan situasi!”
“Aku tidak begitu!” Batah Emely “jika aku ingin melakukannya, aku sudah meninggalkan tempat ini sedari dulu. Aku berada dalam posisi tersiksa Jason.tingkah lakumu segala kecuekkanmu memasukkan aku ke dalam ruang penyiksaan, rasa bersalah. Semakin lama aku berada di sisimu tapi terus dibaikkan, setiap detiknya sama sperti cambukan larik besi bagiku.” Tubuh Emely bergetar. Bahkan sampai membenturkan sendok dan mangkoknya. Air mata mengahngatkan pipinya.
Jason menggerakan tanganya perlahan, mengakat dagu Emely.
Emely memejamkan matanya, dia tidak berani menatap mata Jason.
“Kenapa menutup mata?” suara Jason melembut.
“Selama ini, kamu menutupinya. Aku tidak berhak untuk melihat apa yang tidak ingin kamu tunjukkan. Aku akan pergi sekarang. Permisi. Maaf sudah mengangu pagi mu, Tuan Muda.”
Emely merasa ragu untuk melakukan itu, barang kali dia salah mendengar. Perlahan dia menggerakan kelopak mata. Dia menatap wajah Jason, matanya langsung bertemu dengan mata pria itu. Bola mata itu berkilau. Dua warna yang berbeda. Bola mata sebelah kanan berwarna biru. Emely merasa dirinya terdampar jauh pada samudra, ketenganan keindahan, kesejukan berdesir dari dalamnya. Bola mata sebelah kanan, berwana coklat muda mengingatnya pada padang pasir yang kering kerontang. Namun kedua bola mata itu menyatu sempurna dengan pahatan wajahnya.
“Indah,” desis Emely.
Dia terpaku dalam pikirannya selama beberapa menit setelah sadar, wajah Jason jauh lebih pucat hari ini.
“Kamu sedang sakit?” tanya Emely.
“Aku baik-baik saja,” bantah Jason.
__ADS_1
Emely meletakkan nampan berisi mangkok ke atas nakas. Dia menggerakan tanganya ke jidat yang tertutupi rambut hitam. Emely perlu berjinjitt untuk melakukan itu.
Hawa panas mencium kulitnya. Dia membandingkan dengan suhu tubunya sendiri.
“Jason kamu sakit, kamu perlu dokter!”
“Aku baik-baik saja.” Tolak Jason, dia menurunkan tangan Emely perlahan.
“Tapi suhu tubuhmu...”
“Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat. Jika kamu ingin pergi hari ini, pergilah. Aku minta maaf sudah salah memperlakukanmu selama ini.”
“Tidak, aku yang bersalah. Aku tidak akan kemana-mana hari ini. aku ingin bersamamu, sampai kamu sembuh.”
Jason tersenyum, memamerkan deretan gigi putih dan rapi. Pertama kali tanpa kaca matanya. Ia adalah sosok paling sempurna. Tanganya perlahan menghapus sisa air mta di pipi Emely.
Emely kehilangan kontrol pada kelenjar air mata, ia malah menangis sejadi-jadinya. Jason kembali memeluknya.
“Terima kasih sudah menghawatirkan aku,” bisik Jason lembut.
Sama sekali Emely tidak kuasa berkata-kata, kehangatan pelukan ini membuatnya ingin lebih lama lagi berada dalam pelukkan pria itu.
Bersambung....
__ADS_1