Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Embun Dan Fajar


__ADS_3

Terkurung di sudut perpustakaan kota, Emely mencoba mencari dokumen tentang kastil. Bagaimana pun juga tempat besar pastilah memiliki sejarah. Dia berusaha mencari di internet tapi tak ada satupun dokumen yang bisa di buka. Jadinya dia meminta izin pada penjaga perpustakaan. Mengatakan dirinya sebagai seorang maha siswa, jadi dia mendapatkan izin mengakses dokumen pendirian kota dan kejadian masa lampau di kota ini. Dengan sabar dia membuka lembar demi lembar tumpukkan buku di depannya. Dia nyaris putus asa, dia merasa asing dengan kotanya sendiri.


“Apa yang kamu cari?” sang penjaga perpustakaan akhirnya bertanya setelah memperhatikannya selama 1 jam.


“Kasti di pinggir kota, aku bingung saja...”


“Oh itu... kamu tidak akan menemukannya di sini. Keluarga Matthew sudah mengambil dokumen apapun yang berhubungan dengan kastil untuk di simpan secara pribadi.”


“Kenapa?”


“Aku juga tidak tahu. Mungkin kamu bisa menemui Nona Morish. Dia wanita yang mengetahui kisah kastil itu. Dan kamu pastinya tahu kalau tempat itu berhantu.”


Emely menggelengkan kepalanya. “Hantu? Apa masih ada yang mempercayai hal seperti itu sekarang ini?”


“Entah lah. Tergantung sudut pandang setiap orang. Konon tempat itu adalah tempat pemujaan bagi mereka yang mepercayai vampir. Di bagian depan kastil terdapat tiang pasak berujung lancip yang digunakan untuk menyiksa korban. Tragis sekali. Oh ya, itu bukan kisah yang menyedihkan sebetulnya. Kamu tahu kisah Romeo dan Juliet?”


Anggukan kepala Emely berikan sebagai jawaban.


“Kisah anak sang pemilik kastil berakhir begitu...”

__ADS_1


“Maksudmu mereka sepasang kekasih, tidak diresetui sebelum akhirnya bunuh diri bersama?”


“Bukan, lebih buruk dari itu. Benar mereka saling mencintai. Tapi... alasan mereka tidak direstui bukan karena kedua keluarga masing-masing tapi ada hal lain...”


“Frenda...” suara panggilan memutuskan percakapan mereka. Sang pustakawan harus bernjak pergi.


Emely mencoba menarik kesimpulan sendiri. dia jadi inggat lukisan-lukisan di dinding kastil. Lukisan yang tertutup kain, deretan gaun. Ia yakin semuanya berhubunan. Dia ingin mencari tahu lebih jauh lagi, hanya saja dia tidak mungkin menampakan wajahnya di sana lagi.


Ia kembali menysuri jalan panjang setelah kembali dari perpustakaan. Dia harus kembali ke tempatnya bekerja, tadi dia minta izin pada Rosela untuk mengecek kesehatan. Langkahnya perlahan, di kpalanya berputar tanya dan juga rencana untuk mengungkap apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apakah dia terperangkap dalam dua keluarga yang paling berpengaruh di kota ini. dia tidak mau melibatkan urusan lebih jauh.


Emely tidak ingin menjadi siapaun malam ini, murni penampilannya sendiri. kawat gigi juga di tanggalkan. Ia sempat memantau keluarganya, serta mencari tahu keberadaan Charli. Pria itu kini baik-baik saja dalam kawalan anak buah Vira. Siapa sangka wanita tua berwajah ramah itu adalah orang yang di hormati oleh geng kriminal kota sebelah.


Dia merogoh sakunya, menemukan alamat Morish. Dia tidak mengenal siapa orang itu, tapi dia akan menemuinya secepat mungkin.


“Hei!” sebuah tepukkan menghantam bahu Emely.


Dia berbalik, dia ingin meberikan perlawan mengambil ancang-ancang siap untuk pergi setelah mengetahui yang ada di hadapannya adalah Jason. Namun, semua terlambat. Jason lebih dahulu mencengkram kedua tangannya serta mengunci kakinya. seperti biasa dia selalu tahu apa yang ada dalam pikiran Emely.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Emely was-was.

__ADS_1


“Kemana saja kamu?” Jason balik menatapnya dengan tatapan tajam.


“Bukan urusanmu. Lagi pula, aku selalu memberimu kabar tentang perkembangan apa yang aku dapatkan. Tapi kamu sama sekali tidak peduli.”


“Aku tidak butuh e-mailmu. Aku butuh penjelasan dari mulutmu sendiri agar aku paham apa yang kamu inginkan.”


“Aku pergi atas keingnanmu. Karena ruangan jahit itu... dan karena dari awal aku yakin kamu sama sekali tidak mengrapkan keberadaanku.”


“Dengarkan aku Emely!”


“Apa lagi yang harus aku dengarkan? Aku tidak tahu sekarang siapa yang aku percaya. Aku percaya kamu aku percaa pada Calum dan sekarang kalian ingin melenyapkan aku? Kenapa tidak dari awal saja kalian tidak perlu repot-repot menyelamatkan aku?”


“Aku mebutuhkanmu! Tidak cukupkah pertolongan yang kami berikan padamu hah? Kalau saja aku tidak menolongmu saat itu, kisahmu sudah lenyap Emely. tidak akan ada seorangpun yang mempedulikan kamu!”


“Aku tahu. Aku cukup menjadi kenangan saja dalam benak setiap orang sudah cukup. Tidak seperti kamu Jason, kamu kalah dengan kenangan, dia mengambil alih hidupmu, kamu terlalu lemah!”


“PLAK” tangan Jason menampar Emely dengan kencang.


“Aku peringatkan sekali lagi. Apa yang terjadi pada hidupku bukan urusanmu.”

__ADS_1


“Kirimkan aku tagihan pengobatanku dulu. Akan aku bayar Jason. Lebih baik aku membyarnya dengan uang dari pada harus berurusan dengan kamu lebih jauh lagi!”


__ADS_2