
Bunyi piring pecah memenuhi ruangan. Seisi restoran mengalihkan wajah mereka ke meja tengah, tempat Emely berada. Secara sengaja dia menjatuhkan piring ke lantai. Menu makanan restoran ini sudah berubah total setelah penyabotasean berbulan-bulan yang lalu. Dia menatap sudut restora dengan teliti. Seorang pelayan lewat membawakan makanan.
Emely menggerakan jari tanganya menyentuh sendok lalu mendorongnya ke lantai. Kemudia dia buru-buru menunduk menghalangi jalan sebelum sang pelayan menghindar dan pada akhirnya sang pelayan membelokkan diri tepat ketika sang majikan lewat. Isi nampan sang pelayan adalah sup mendidih pesanan Emely.
Sup panas tumpah tepat pada wanita bertubuh gempal itu. ia berteriak dan memecat sang pelayan saat itu juga.
“Pelayan sialan! Pembawa masalah. Kamu ingin membunuhku!” jeritnya.
Emely berdiri menatapnya tanpa berkedip. “Lalu anda menganggapnya bersalah?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja!” Mei berdecak kesal. Wajahnya memerah.
“Lantas apakah anda tidak memiliki rasa yang sama pada orang yang pernah anda sakiti?”
Mei terdiam sesaat, raut mukanya berubah pucat. “Aku, aku tidak pernah melakukan hal kejam seperti itu...”
“Benarkah?”
“Ya. Kamu sudah memecahkan piring dan kamu harus membayar itu.”
“Buat apa aku membyar piring sedang kamuharus memyara nyawa,” Emely tertawa sinis.
Wajah Mei kembali merah padam, apa lagi mata para pengunjung restoran tidak berpaling dari mereka.
“Keluar!” Bentak Mei.
“Tidak perlu kamu perintahkan. Pembunuh!” Emely menyambar kunci motor lalu berjalan keluar dengan angkuh, tanpa rasa bersalah sama sekali. Ia menggendarai motor dan berheti tak jauh dari restoran menunggu sang pelayan yang tadi di pecat oleh Mei.
Pemuda itu mungkin pekerja paruh watu, usianya barang kali 17 atau 18 tahun. Dia berjalan tertunduk.
__ADS_1
“Hei!” Emely mencegatnya.
“Anda mau apa lagi?” ia mendengus kesal.
“Kamu dapat pesangon?” Tanya Emely sembari memainkan ujung rambutnya.
“Tidak,”
Emely mengulurkan tangannya dengan amplop di tangan.
“Apa ini?”
“Aku sudah membuatmu kehilangan pekerjaan. Anggap saja ini uang ganti rugi. Dan ini datangi alamat ini kamu akan mendapatkan pekerjaan baru. Gajimu dua kali lebih besar dari yang diberikan oleh manusi pelit di dalam.”
“Tapi...”
“Kenapa? Apa itu kurang?”
“Cruel,” desis Emely. “Sekarang kamu bisa pergi,”
Pemuda itu melangkah menjauh. Baru lah Emely mengendari motornya menjauh. Dia menggunakan motor sewaan dengan penyamaran hari ini. Dia tidak mau Mei menyurh orang mengejarnnya dan membatalakan misinya. Motor itu juga tanpa kenalpot dan dia dandani dengan steaker aneh nan mencolok.
Setelah dia merasa puas mengerjai Mei, dia memutuskan untuk mencari alamat Morish. Ia merasa mengenali jalanan yang dia tempuh, jalan itu menuju kastil. Jangan samapi ini jebakkan lagi, tapi dia tidak mungkin bertahan dalam rasa penasaran jauh lebih lama.
Ia beruntung rumah Morish cukup jauh dari kastil. Ia menemukan sebuah rumah tua dengan halaman tidak terawat, dinding di penuhi oleh tanaman Ivy. Pohon apel dengan bunga mengucup tumbuh tidak beratuaran di halaman.
Emely mengetuk pintu rumah perlahan. Akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Emely mencoba bersabar. Ia membawa keranjang berisi buah dengan kepala tertutup topi jaket abu-abu.
Ia menggerakan tangan sekali lagi dan pintu terbuka. Seorang wanita dengan tubuh membungkuk dengan kain penutup kepala berwarna biru kotak-kotak muncul membukakan pintu. Raut muka wanita itu kebingungan, dia mengambil kaca mata bulat lalu menggenakannya menatap Emely sekali lagi.
__ADS_1
“Anda siapa? Rasanya saya tidak pernah bertemu anda sebelumnya.”
Emely memperkenalkan dirinya sebagai teman wanita penjaga perpustakaan yang dia temui dulu.
“Oh, Tilda. Masuk lah Nak!” Ajaknya.
“Anda tinggal sendirian?” tanya Emely.
“Tidak, aku memilki seorang pelayan. Apa yang membawamu kemari Nak?”
Emely menahan napas duduk di atas sofa berwarna hijau beludru. Dia harus merangkai kata yang tepat.
“Saya membutuhkan bantuan anda...”
“Masih adakah yang ingin dibantu oleh wanita setua diriku?”
“Tentu saja. Aku hanya ingin bertanya mengenai kastil di sebalah sana...”
“Katil? Kastil itu sudah berusia lebih dari 2 abad. Sejarahnya panjang ada banyak pertumpahan darah. Dan sekarang yang mewarisinya adalah putra dari Alexander. Dia anak satu-satunya, dia belum juga memiliki pendamping setelah dia kehilangan kekasihnya dulu.”
“Kenapa kekasihnya?”
“Dia mederita sakit. Sudah lama aku tidak ke sana Nak. Tuan muda hanya mengunjungiku seseklai seminggu, memastikan jika keadaanku baik-baik saja. Dia pria yang baik. Aku dengar dia sedang dekat dengan seorang gadis bernama Emely. Dia menolongnya.”
“Sudah waktuunya makan malam...” seorang wanita muncul dari pintu belakang. Ia terkejut melihat ada tamu di rungan tamu. “Maaf, saya...”
“Tidak apa,” Emely memotong dengan cepat. “Saya akan pulang sekarang. Terima kasih atas waktumu.” Dia berdiri bergegas keluar sebelum sang pelayan menggenali wajahnya,sebab dia tahuwanita itu adalah pekerja di kastil membantu tukang kebun.
Emely tidak berniat memacu motornya dengan kencang, dia memamkai kecepatan maksimal. Di depan kastil beberapa kendaraan berjeti.emely menyelinap dan mencoba melihat dari dekat. Ada ambulas dan beberapa petugas medis yang mebawa tandu.
__ADS_1
Sosok yang sangat dia kenali terbaring. Walalupun dari jarak jauh, dia tahu siapa itu.