
Setiap sudut rumah mantan mertua Emley sudah dia hapal seluk beluknya. Rumah besar ini memiliki 10 kamar layaknya sebuah hotel, kolam berenang di bagian belakang, kandang kucing Jessica, tanaman mahal milik sang mantan Ibu mertua lalu, di sisi tembok tinggi belakang rumah ada lapangan golf ayah Marvin. untuk ke sana ada sebuah pintu rahasia bagi orang-orang rumah dan Marvin pernah memberitahu Emely soal itu. Ayunan menggatung di taman belakang.
“Tolong antarkan ini ke setiap kamar. Termasuk kamar tamu, orang tua Tiffani sedang datang dan menginap di sini.” Rosela menunjukkan troli berisi setumpuk handuk putih.
“Ba... ba...ba...baik,” jawab Emely gagap, tentu saja ini bagian dari penyamarannya. Dia memnundukkan kepala pada pelayan senior di depannya. Dulu wanita itu sangat dekat dengan Emely. Emely yang ringan tangan selalu membantu apapun yang dia bisa, bahkan pernah ada yang mengira Emely adalah salah satu pelayan di rumah ini, tapi tidak sedikit pula yang memuji kecapakan Emely.
Sebagai tunangan dari seorang Marvin, dia cukup di kenal di kalangan pebisnis teman ayah Marvin. Melintasi taman terbuka, Emely mengingat malam pertunagnanya, di bawah cahaya kelap-klip lampu seperti kunang-kunang, senyuman pria yang menjadi cinta pertamanya itu tak pernah luruh seiring jemarinya berusaha meloloskan cincin putih ke jari manis Emely. Senyuman bahagia yang terukir di setiap wajah malam itu kini hilang bak ditelan wabah berbaya.
Emely memperlambat doronganya, setiap sudut taman itu menggores luka. Di sana tempat mawar tumbuh dengan subur adalah bekasnya mengabadikan momen pertunangannya. Berfoto bersama keluarganya, keluarga Marvin dan juga semuaorang yang bersengkokol melenyapkannya malam itu.
Dia menarik napas panjang, mendorong kembali troli menyambangi setiap kamar.
“Kamu karyawan baru?” tanya mantan Ayah mertuanya saat dia membukkan pintu untuk menyodorkan handuk.
“Ya, Tu... tu... tuan. Sss sa...ya,”
“Dari agensi mana?”
“Ag...agen...si Maa...mad...madam Lo...re...na”
“Oh, aku yakin dia tidak salah mengirim kamu kemari.” Dia masih ramah seperti dulu kalauoun makin terlihat tua.
Kamar terakhir adalah kamar Marvin. Kamarnya berada di sudut lantai dua. Dulu kamar itu di penuhi barang-barang elektronik, dia mengatakan pada Emely jika kelak mereka sudah menikah, dia akan membersihkan kamarnya jauh lebih baik. Emely sampai memegangi perutnya menahan tawa, sebab dia sama saja dengan Marvin, dia mendapat gelar sebagai wanita paling berantakan di alam semesta.
Perlahan pintu terbuka, Marvin muncul kembali dengan kaca mata. Gagangnya biru, berati kaca mata itu adalah kacamata anti radiasi. Kaca mata bergagang hitam untuk penglihatanya yang buram tidak pernah dia gunakan lagi semenjak menjalani oprasi lasik.
Enam bulan dia menghilang dari kehidupan Emely, tanpa kabar. Satu hari secara tiba-tiba dia muncul di depan pintu rumah dengan jas putih tantanan rambut sempurna tanpa kaca mata dengan sebuah kotak cincin putih. Dia tidak menanyakan kabar kekasihnya itu, bahkan tidak mengutarakan rindu.
Ketika Emely mengembungkan mulut siap meledakkan kemarahanya, dia tiba-tiba berkata, “Menikalah denganku Emely.”
__ADS_1
Tentu saja Emely terkejut, dia mempertanyakan kemana dia selam enam bulan ini. Dia hanya bilang dia berada dalam tahap penyembuhan setelah operasi. Ketika ditanyakan apakah dia tidak takut gadis yang ditinggalkannya mendua, dia hnaya bilang, cinta sejati tidak akan pernah berhianat. Lalu sekarang masih kah dia bisa mempercayai keberadaan cinta?
Kamar Marvin bersih, tanpa ada barang-barang berantakan di dalamnya. termasuk kotak catur yang biasa tergeletak di atas meja sebelah tempat tidur. Dulu seprei dan selimut berwarna hitam atau abu-abu, kini berganti menjadi biru bermotif bunga. Cat kamar juga jauh lebih terang. Tidak ada komputer, koleksi robot gundamnya di atas lemari tidak lagi tersisa satupun.
Dia meletakan handuk di atas tempat tidur lalu keluar, lebih baik dia tidak menatap wajah Marvin lebih lama. Dia melangkah keluar perlahan, sebelum sebuah suara menahan langkah pelan itu. Suara itu milik Tiffani.
“Bawakan air hangat kemari!” katanya.
Emely hanya membungkukkan badan tanpa menoleh. Secepat mungkin dia kembali membawa segelas air hangat pesanan sang nyonya. Perutnya makin mengembang sekarang. sebentar lagi bayi mereka pasti akan lahir.
“Kamu pelayan baru? Dari agen mana? Punya sertifikatkan?”
Emely menjawab semuanya sembari menyodorkan kartu nama dan izin legalitas serta sertivikat pelatihanya selama 6 bulan di sana.
“Bagus lah” suara Tiffani.
“No...na,”dia berkata sepelan mungkin. “An...da, baik...baik sa...ja?”
“Kenapa?”
“An...da ter...li...hat p...pu..cat.”
“Aku baik-baik saja,”
“Ta...pi, an...da ssseda...ng ha..mil, ba...yi An...da...”
“Terima kasih,” Tiffani tertunduk lemah. “Kamu yang barusehari disini menunjukkan simpati, orang yang bersamaku sekian lama malah tidak peduli,” Tiffani menutup wajahnya dengan kepalan tangan, dia terisak.
Emely berusaha tidak lebih banyak untuk bertanya. Dia hanya terpaku semabri menunduk. Marvin kembali berdiri di sisinya.
__ADS_1
“Kenapa lagi Tiffani?” tanya Marvin dingin. “Mengadu lagi, bahkan pada pelayan baru.”
“Aku tidak mengadu, aku bicara kebenaran. Kamu sama sekali tidak mempedulikan aku dan bayi kita!”
“Apa? Kurang perhatian apa aku padamu selama ini? tapi masih saja kamu adukan dengan statusmu di media sosial! Kamu bukan anak kecil lagi! Teman dunia mayamu sama sekali tidak perlu mengehtahui masalah dalam rumah ini!”
“Permisi!” Emely memutar tubuhnya keluar, dia tidak mau menyaksikan perdebetan ini.
“Ya, sebaiknya begitu. Sebelum dia bicara makin banyak lagi!” Ketus Marvin.
“Pria brengsek!” jertit Tiffani.
“Kau....” tangan Marvin terangkat, Emely dengan cepat menagkap tangan pria jakung itu sebelum menyentuh Tiffani.
“Tu... tuan... Is..tri An...da sed...dang mengan...dung. Jang...jangan berting ...kah sep...erti ini!”
Marvin terdiam, Emely menyelami bola matanya, dia tidak pernah melihat Marvin semarah ini. Tatapan kemarahan itu mengingatkannya pada seseorang, satu bulan sudah mereka tidak beradu tatap setelah bersama berbulan-bulan. Bola mata Emely memanas, dia melepaskan tangan Marvin, menolong Tiffani berbaring di tempat tidur setelah membantunya meminum air terlebih dahulu.
Emely berjalan keluar, beberap hari sekali dia mengecek e-mail yang dia kirimkan pada Jason, tidak ada balasan mungkin sama sekali tidak di baca.
Saat mendapatkan informasi mengenai Calum, Emely tidak ingin lagi menghubunginya, sekalipun tidak bisa dia pungkiri hatinya merindukan sosok humoris itu, dia sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri.
“Kenapa kamu membela dia?” Marvin mencegat langkah Emely. sebelum dia benar-benar meninggalkan kamar.
Emely hanya mendunduk, kenapa dia menggenakan baju kaus putih bergambar burung merpati dengan sayap besi. Baju kaus itu mereka sablon bersama, desainya dibuat oleh Marvin, hanya ada miliknya dan pria itu.
“Ma...af, han....ya se...ba...ga...i se...sa...ma wani...ta Tu..uan.”
Marvin menyibak rambutnya ke belakang. “Andai pernikahan ini tidak pernah terjadi!”
__ADS_1