
Terdiam di blakon, Emely tak peduli jika dia tergelincir kemudian jatuh dari lantai dua menimpa kaktus di bawah sana. Sisa air mata masih terlihat jelas di pipinya. Tamparan Jason bukan hanya menoreh kesakitan di pipi tapi meresap hingga ke dalam hati. Perih masih bergelora.
Ia inggat kejadian di montel dulu, betapa nyamanya berada dalam pelukan pria berdada bidang itu. kedua warna mata yang menenngakan, tapi malam ini bukan kerinduan yang terbalas tapi luka.
“Kamu bisa jatuh,” Marvin muncul di belakangnya, menarik tangannya kemudian menurunkannya dari pembatas.
Emely terpaku, tidak dapat berbicara. Dia hanya menatap kedua bola mata Marvin.
“Apa yang kamu lakukan?” Marvin tampak tidak suka mendapatkan tatapan demikian dari sang pelayan.
“Ma...aa...ff T...Tu...an.” Emely berusaha menjaga penyamarannya. Dia tidak mungkin keluar dari rumah ini, apa yang dia butuhkan tidak akan pernah dia dapatkan.
“Kamu ingin mati?”
Emely menggeleng.
“Aku mau!” suara Marvin dingin.
Mata Emely terbelalak. Dia meraih tangan Marvin menggengam tangan Marvin dengan erat. Sama seperti ketika dia ketakutan, ketika dia tidak menginginkan pria itu pergi. Tangan kekar yang dia rindukan mendarat ke kepala, membelainya dengan lembut. Bersama dalam bayangan lampu taman.
“Jangan!” Kata Emely cepat. Dia tidak peduli jika ia harus peergi dari sini asalkan Marvi tidak melakukan tindakan yang melukai dirinya.
“Kamu tidak berhak atas diriku!” Cetus pria itu.
“Ta...ta...pi Tu...an, ba...ga...i ma...na de...ng...an an...ak dan...is...tri an...da?”
“Aku tidak peduli pada mereka...”
“An...da...su...dah... men...ca...m..pa...kan sss...att...u or...or...orang.”
Marvin terdiam dia menggepalkan kedua tanganya. “Aku sudah menganggap dia mati. Tidak ada kenangan yang tersisa tentang gadis yang menghianati aku. Biarkan saja dia pergi.”
Emly merasa terguncang. Jadi sekarang dia paham mengapa Marvin tidak ingin menemuinya malam itu. Jesika paasti menyebarkan kabar burung. Tapi apa kah harus sejahat itu?
__ADS_1
Tangan Emely terkepal menatap Marvin dengan tajam. “Kamu tidak penah mencintai Emely! Tidak pernah!”
“Kenapa kamu jadi peduli padanya?”
“Ak...u ju...ga wan...ita.”
Emely masuk ke kamar lalu membanting pintu. Kenyataan baru dia terima hari ini. Ada dua pria yang sudah meluluhkan hatinya, tapi mereka berdua juga yang menjatuhkanya kedalam lubang luka yang dalam satu hari yang sama.
***
“Kenapa kamu ngotot membuka kasus itu lagi Nona?” mata polisi yang berhadapan dengan Emely nampak kesal melihat wajah wanita berambut keriting mengembang dengan kaca mata bulat tidak simetris dengan bentuk wajah.
“Kenapa kasusnya di tutup?”
“Keluarga sudah mengiklaskan kejadian itu, semua orang sudah melupakan dia.”
“Bagaimana jika dia kembali?”
“Bagaimana hasil investigasi Polisi di lokasi kejadian?”
“Mereka menemukan sosok tubuh terbakar, yang diyakini sebagai Emely.”
“Sudah dilakukan visum?”
“Keluarga Emely menolak melakukan itu.”
“Anda yakin? Apa yang mereka tunjukkan sebagai bukti mereka adalah keluarga Emely.”
“Anda tidak mempercayai kepolisian?”
“Bukan seperti itu, aku hanya bertanya. Ada hal yang menurutku janggal.”
“Nona, aku harus mengurus orang lain. Bisakah anda berpindah?”
__ADS_1
Emely menghela napas memandang ke belakangnya, memang ada antean. Dia menyerah namun hatinya terus mencari cara agar bisa mengukap kebenaran.
Merida berdiri di depan mobil degan wajah polos hari ini. ia bersedia menjadi sopir Emely seharian.
“Bagaimana?” tanyanya antusias.
Emely menjawab dengan gelengan kepala.
“Apakah kita harus memakai cara kedua?”
“Tidak. Ku rasa kita tidak perlu menghack mereka. aku akan ke rumah sebagai asistenmu. Tapi bukan hari ini. kita harus menemui Morish hari ini juga.”
“Emely, mata-mata ada dimana-mana. Kamu tahu sedari tadi ada mobil yang mengawasi kita. Sekarang bagaimana?”
Emely menggerakan kepala menuju arah yang ditunjukkan oleh Merida.
“Minta bantuan Vira.”
Merida menelpon Virah. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kawalan dari geng motornya. Di tengah jalan, mereka keluar dari mobil kemudian menaiki motor. Kawalan ketat dari geng motor membuat pengendara mobil hitam kehilangan target. Dia mengikuti mobil, ternyata Merida dan Emely menggunakan motor.
“Kita tidak bisa meninggalan mobil hitam sialan itu...” Merida berkata geram.
“Aku tahu. Aku penasaran siapa dia?”
“Kamu belum sepenuhnya aman. Terkecuali kalau ilmu bela dirimu cukup baik.”
“Sedikit,” sela Emely.
“Sedikit bukan jaminan untuk utang yang banyak.”
Emely terdiam sejenak. Merida ada benarnya. Jadi apa ang bisa dia lakukan?
“Putar balik. Kita temui pengendara mobil itu!”
__ADS_1