Reborn ( Open PO)

Reborn ( Open PO)
Violin


__ADS_3

“Huh!” Emely bangun serentak dari tempat tidurnya setelah berulang kali gagal melelapkan dirinya ke alam mimpi. Matanya menatap deretan botol minum yang kosong. Tenggorongkannya benar-benar kering, ia makin kesulitan untuk tidur. Ia benar-benar kelalahan setelah mengambang dengan gas helium dan juga kakinya kelelahan berdiri menggunakan sepatu roda.


Nyaris saja dia menendang semua botol kaca di hadapannya, tapi dia tidak akan melakukan itu mengingat dia meminjamnya dari dapur. Mengingat dapur, ingatannya akan langsung mengulang kejadian malam merah dulu, ada darah dimana-mana. Sudah semalam ini, ia tidak mau melihat tempat terkutuk itu, di sisi lain dia tidak akan bisa menolak panggilan alam.


Emely berjingkat-jingkat dengan kaus kaki belang-belang dan piama hijau jambrut bermotif Rosela di balut lagi dengan jaket abu-abu yang dia beli dari bazar murah minggu lalu. Ia menyatakan dirinya bebas dari piama unguu yang selama ini dia pakai.


Dapur tampak sepi malam ini, rasa takut tadinya membentuk tumpukkan berat pada bahunya kini terbang menjauh. Ia lebih betah dengan kesunyian malam ini.


Ia menikmati suara air berpindah dari dispenser perlahan mengisi botol. Ada suara lain menyusup. Emely menghentikan kegiatannya, tidak ada suara lain. Dia kemudian kembali mengisi botol minumannya. Air nyaris meluap dari botolnya ketika alunan suara itu kembali bergema. Dengan cepat dia menutup botol, bergegas kembali ke kamar.


Langkahnya kembali terhenti, suara itu datang dari rungan tamu. Nampaknya ada yang memainkan biola. Sekarang ia yakin percaya tentang hantu di dalam kastil ini. Orang gila mana yang suka memainkan biola dengan nada menyayat begitu semalam ini.


“Itu hanya hatu.” Emely mengangkat bahu. Semakin banyak hal menakutkan di sini dan dia tidak bisa lari sama sekali.


Gadis itu melangkah ke kamar, suara itu makin mengusiknya. Akhirnya dia mengalah pada rasa penasaran untuk mencari tahu siapa gerangan yang bermain biola.

__ADS_1


Lorong panjang diterangi satu-satunya lampu bercahaya redup. Emely menyeret kakinya hingga mencampai ruangan bercat biru.tidak ada lampu yang dinyalakan di sini, hanya deretan lilin di atas piano tertutup.


Emely berhenti di balik pohon pakis, mengintai. Mana mungkin dia terang-terangan menampakan diri. Semua jendela besar terbuka, angin masuk menggoyangkan cahaya lilin.


Emely mengeratkan peganganya pada botol air. Matanya terus menyorot tempat besar itu. suara biola berasal dari luar. Malam ini berangin kencang. Akhirnya dia melangkah perlahan. Hanya ada Calum dan Jason manusia gila penghuni kastil ini. tidak ada pelayan yang memainkan biola semalam ini, atau adakah penghuni lain dari kastil ini.


Jujur saja Emely belum mengetahui sama sekali siapa sebenranya Tuan di rumah ini, siapa Jason sebenaranya? Siapa juga Calum? Kenapa dia ada di perusahaan tempatnya bekerja di hari pertama.


Jason ada diluar, mengenakan baju tanpa lengan sembari memainkan biola. Emely terpaku sesaat, suara biola itu membuat matanya mengembun. Suasana ini berubah mencekam ketika Jason berheti memainkan biolanya dan berbalik. Emely berhasil mennyembuntikan diri di balik dinding.


Emely berjalan tanpa memperhatikan lantai, cairan lilin merembes ke lantai. Ia terpelset, jatuh dengan anggun . Botol di tanganya terlepas, memantul dengan lantai, mendentumkan suara berisik. Suara bila berheti, Emely bisa melihat bayangan mendekat. Dia berbalik perlahan. Menahan napas sekaligus mempersiapkan diri mendaatkan amarh Jason.


“Apa yang kamu lakukan di bawa sana?” Jason menyentuh pundak Emely.


“Au hanya kebetulan lewat,” jawab Emel. Jawaban itu sesungguhnya tidak perlu terucap, pada akhirnya Jason tetap tahu kenapa ia di sini.

__ADS_1


“Pembohong...”


Emely terdiam, dia berusaha berdiri dengan punggung digigit nyeri. Sebelum dia menghilang, dia kembali dan berbalik, membuka jaketnya.


“Ini!” katanya “aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di sini melawan dingin, mungkin kamu akan mebakarnya dengan lilin dan ini jaket murahan, hanya saja... aku tidak suka melihatmu memakai baju seperti ini.”


“Kenapa kamu peduli?”


“Kamu sudah menolongku,”


“Hanya itu?”


“Hatiku berkata, kamu tidak menbutuhkan alasan untuk menolong pria aneh seperti dirimu.”


Jason terdiam, dia sama sekali tidak menerima uluran tangan Emely. cukup lama mereka mematung. Emely menyadari usahanya sia-sia. Ia menggerakan kaki perlahan, hendak pergi. Jason dengan cepat menahan tubuh Emely lalu memeluknya.

__ADS_1


Emely terdiam, hal ini sama sekali tidak dia sangka, pelukan ini mendebarkan dadanya. Tangannya gemetar haruskah dia membalas pelukan ini?


__ADS_2