Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
1


__ADS_3

"Yang mulia permaisuri, apakah anda baik-baik saja?"


"Hah? Permaisuri?" tanyaku bingung.


Seseorang membuka pintu dengan kasar.


"Diana, kamu baik-baik saja?! Apakah ada yang sakit?" tanyanya khawatir.


Aku melihat orang itu dengan seksama. Tunggu, bukankah dia Claude De Alger Obelia? Seseorang yang akan membunuh putrinya di masa depan tapi tadi dia memanggilku apa? Diana? Bukankah Diana sudah mati? Atau sekarang adalah masa dimana Diana masih hidup?


"Diana, bicaralah. Bagian mana yang sakit? Katakan saja," tanyanya lagi.


"Tidak ada yang mulia," jawabku.


"Syukurlah. Tapi bukankah sudah kubilang jangan panggil aku dengan itu?"


"Lalu saya harus memanggil anda dengan apa?"


"Panggil aku dengan nama."


"Mana bisa saya bersikap tidak sopan seperti itu kepada kaisar kerajaan Obelia," tolakku.


"Kamu lupa? Kamu itu istriku, jadi kamu diperbolehkan memanggilku dengan nama."


"Tapi yang mu—"


"Tidak ada penolakan, Diana!" putusnya.


"Baiklah Claude. Tapi bisakah anda meminta para pelayan keluar dan bisakah anda juga keluar? Saya butuh waktu untuk sendiri," pintaku.


"Tentu, tapi beritahu aku jika kamu butuh sesuatu."


Aku mengangguk. Sebelum pergi, Claude mencium keningku. Kemudian Claude dan para pelayan pun keluar.


Di kamar sebesar ini hanya ada aku sendiri.


Jadi tahun berapa sekarang? Aku mencari sesuatu yang mungkin saja terdapat tanggal sekarang. Aku menemukan secarik kertas yang berisi surat lamaran kerja. "Jadi di masa ini surat lamaran kerja sudah ada?"


Aku melihat surat lamaran itu. "Lilian York? Bukankah itu pelayan pribadi Athanasia? Kalau dia belum bekerja di sini itu artinya Athanasia belum lahir."


Aku melihat pantulan diriku di cermin. "Aku bereinkarnasi jadi Diana? Seseorang yang akan mati saat melahirkan athanasia. Untuk apa aku diberikan kesempatan hidup kalau aku bereinkarnasi jadi Diana. Sama saja sebentar lagi aku juga akan mati."


Tiba-tiba cahaya muncul. "Halo Park Bomi."


Aku terkejut. "Siapa kamu?! Kenapa kamu tau nama asliku?"


"Aku adalah orang yang memberimu kesempatan hidup," jawabnya.


Aku mengernyitkan dahi. "Kesempatan hidup darimana? Karakter ini akan mati dalam satu tahun lagi."


Dia menggeleng. "Kamu salah. Kamu hanya memiliki kesempatan hidup kurang dari 9 bulan karena saat ini kamu sudah mengandung anak itu."


"Hah?! Itu artinya lebih parah!" ucapku terkejut.


"Tapi tenang saja, takdirmu bisa berubah asal kamu bisa menahan mana yang ada pada anakmu itu."


"Mana bisa begitu, di novel karakter Diana sudah ditakdirkan mati."


"Tapi ini bukan dunia novel, Park Bomi. Ini dunia nyata, aku memindahkanmu ke dimensi lain agar kamu memiliki kesempatan hidup. Tapi tentu saja dimensi ini tidak lebih baik dari dimensimu, akan lebih banyak penderitaan dan pengorbanan di sini."


"Apakah kamu yakin takdir bisa berubah? Apakah Diana ini tidak akan mati?" tanyaku memastikan.


"Tentu tidak asalkan kamu bisa bertahan," jawabnya.


"Baiklah, aku akan menjalankan kehidupan keduaku ini," putusku.


"Bagus. Aku harap kamu menjalankannya dengan benar. Karena kamu begitu berani aku akan memberitahumu satu hal. Akan ada masalah besar yang terjadi di masa depan dan hanya kamu yang bisa menghentikannya, bersiaplah untuk itu!" peringatnya.


"Masalah apa itu?" tanyaku penasaran.


"Aku tidak bisa memberitahumu," jawabnya.


"Kalau begitu bagaimana aku bisa menyelesaikan masalahnya nanti."


"Pikirkan sendiri caranya nanti."


"Lalu untuk apa kamu memberitahuku?"


"Agar kamu bisa mempersiapkan diri dari sekarang."


Aku memandanginya kesal. "Kamu saja tidak memberitahu masalah apa yang akan terjadi."


"Baiklah aku akan memberi sedikit clue, kumpulkan orang-orang yang memungkinkan akan berguna di masa depan dan kumpulkan orang-orang yang setia. Segitu saja yang bisa aku beritahu, waktu ku sudah habis, aku harus pergi sekarang."


"Tunggu, apakah orang-orang di dunia ini sama dengan yang di novel?"


"Iya." Cahayanya pun menghilang.


Beberapa bulan kemudian...


Aku mulai terbiasa dengan dunia ini. Lilian sudah bekerja sebagai pelayan pribadiku dan Felix menjadi ksatria pribadiku. Sebenarnya aku sudah menolak Felix menjadi ksatria pribadiku tapi Claude tetap memaksa karena dia sudah tau kalau aku sedang hamil. Saat itu ekspresi Claude sangat menggemaskan. Dia terdiam lalu menangis dan memelukku. Semenjak itu dia juga menjadi overprotektif padaku. Seperti sekarang ini, aku tidak diperbolehkan minum teh karena kata dokter istana teh tidak baik untuk ibu hamil.


"Claude, izinkan aku minum teh sedikit saja ya?" pintaku.


"Tidak Diana," tolaknya.


"Kumohon, ini keinginan anak kita. Kamu tidak mau mengabulkannya?" Aku masih berusaha untuk membujuknya.


Claude terdiam " Baiklah tapi hanya sedikit oke?"


Aku mengangguk cepat. "Iya. Terima kasih, Claude."


Felix terkekeh melihatnya.


"Felix Robane mundur 10 langkah!" perintah Claude.


Felix pun menurutinya tanpa membantah. Ya sudah makanan sehari-hari bagi Felix disuruh seperti itu oleh Claude. Padahal dia sendiri yang memerintahkan Felix menjagaku tapi dia juga yang tidak memperbolehkan Felix terlalu dekat denganku.


Tiba-tiba lily datang dan memberi salam. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


"Lily? Ada apa?" tanyaku.


"Maaf sebelumnya yang mulia, saya ingin mengingatkan bahwa yang mulia permaisuri tidak boleh terlalu lama berada di luar karena udara luar tidak baik untuk kesehatan janin."


Claude mengangguk."Kamu benar. Felix, antarkan yang mulia permaisuri ke kamarnya."


"Baik, yang mulia." Felix dan Lily mengantarku ke kamar. Sebenarnya aku bosan sekali karena setiap hari selalu di kamar. Diperbolehkan keluar juga hanya sebentar dan itu hanya untuk makan siang bersama Claude.


"Lily," panggilku.


"Ada apa, yang mulia permaisuri?" tanyanya.


"Aku bosan."


"Bagaimana kalau yang mulia permaisuri membaca buku?"


"Hmm boleh, tolong bawakan aku beberapa buku."


"Baik, apa buku yang anda inginkan?"

__ADS_1


Aku berpikir sejenak. "Buku tentang sihir."


"Baik, yang mulia permaisuri. Tolong tunggu sebentar." Lily pun pergi.


Tak lama kemudian Lily datang sambil membawa beberapa buku yang aku minta. "Ini bukunya yang mulia permaisuri."


"Hmm Lily kamu bisa memanggilku nyonya saja karena sebutan itu terlalu panjang."


"Maaf yang mulia permaisuri, saya tidak bisa karena hal tersebut tidak sopan," tolak Lily.


"Baiklah, panggil aku nyonya saat kita sedang berdua atau saat aku sedang bersama Claude saja."


"Baiklah, nyonya"


"Itu terdengar lebih baik." Setelah itu aku membaca buku-buku yang sudah dibawa oleh Lily.


9 bulan kemudian.


Aku dan Claude sedang bersantai di taman istana emerald.


"Claude, istana ini akan dipakai oleh tuan putri, kan?" tanyaku.


"Hmm aku berniat seperti itu," jawabnya.


Aku memandang Claude. "Claude."


"Iya?"


Aku ragu mengatakannya. Sulit sekali untukku bertanya hal ini.


"Ada apa Diana? Katakanlah."


Dengan ragu-ragu aku pun berbicara, "Bagaimana kalau seandainya aku tidak selamat saat melahirkan anak kita?"


Claude terkejut. "Apa yang kau bicarakan?! Kau pasti selamat!"


"Tidak ada yang tau dengan masa depan Claude. Aku merasa anak ini memiliki mana yang sangat besar. Rasanya seperti suatu saat mana anak ini akan meledak," jelasku.


Mendengar itu Claude langsung menarik aku dan membawaku ke suatu tempat.


Sesampainya di tempat yang dituju, Claude memanggil salah satu penyihir. "Hei kamu coba periksa kandungan permaisuri."


Penyihir itu mendekati kami dan memeriksa kandunganku. Tak lama penyihir itu terkejut. "Ba-bayi yang sedang dikandung yang mulia permaisuri memiliki banyak mana dan itu bisa bahaya bagi yang mulia permaisuri."


"BERANINYA KAMU BERBICARA SEPERTI ITU!" Claude menarik baju penyihir itu dan bersiap menghajarnya.


"Sa-saya tidak berbohong yang mulia. Permaisuri sudah bertahan sejauh ini saja sudah sangat hebat. Anda harus memilih salah satu, permaisuri atau anak anda," ucap penyihir itu ketakutan.


"Tentu saja anak!" jawabku.


Claude menoleh ke arahku dengan tatapan tajam. "Apa yang kamu katakan Diana? Tentu saja aku memilihmu."


"Tidak yang mulia, saya memilih anak ini" tolakku.


"Kau gila?! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!! Aku akan mempertahankanmu!" Setelah mengatakan itu Claude pergi begitu saja.


Penyihir itu mendekatiku dan berkata, "Anda harus memikirkan ini matang-matang yang mulia permaisuri. Melihat yang mulia sangat menyayangi anda, kalau anda memilih untuk menyerah sepertinya kerajaan ini tidak akan bertahan lama."


"Tentu tuan penyihir, saya juga menginginkan tetap hidup supaya bisa menjaga anak ini tapi seperti yang kau bilang mungkin saja saya tidak akan bertahan dengan luapan mana anak ini," jawabku.


"Maka dari itu anda harus menyerah atas anak anda dari sekarang," ujarnya.


Aku menggeleng. "Itu tidak bisa aku lakukan"


"Kenapa yang mulia permaisuri? Saya akan membantu anda menggugurkannya," tuturnya.


Aku tetap menolaknya. "Tidak tuan"


"Iya, saya yakin." Setelah itu aku pergi.


Aku berjalan-jalan sebentar untuk menenangkan pikiranku.


"Anak ini sudah hampir lahir tapi aku masih belum menemukan cara agar aku bisa tetap hidup," gumamku.


"Argghhh" teriak seseorang.


Aku terkejut mendengar teriakan seseorang. "Siapa itu?!"


"Sebelum bertanya lihatlah dulu apa yang kau injak, nona."


Aku melihat ke arah bawah. Ternyata aku menginjak rambut seseorang. Aku pun segera pindah. "Ah maafkan aku."


Orang itu bangun. Rambutnya hitamnya yang panjang tergerai begitu saja. Sungguh rambut yang sangat cantik.


Pria itu memandangiku. "Wow ada makhluk menarik di sini," katanya sambil menunjuk perutku.


"Di sini ada bayiku," jawabku sambil mengelus perut.


"Hmm sepertinya enak," ucapnya sambil memandang nafsu ke arah perutku.


Aku bergidik ngeri. "Enak? Dia bahkan belum lahir dan anda sudah mengatakan anak ini enak?"


Pria itu berdecak. "Bukan anak ini yang enak tapi mana yang dimiliki anak ini."


Seketika mataku membulat. "Anda bisa memakan mana?"


"Tentu. Dengan mana aku bisa meningkatkan kekuatanku," jawabnya.


Ketemu. Aku menemukan solusinya.


Aku menggenggam tangan pria itu. "Makanlah mana anak ini sebanyak-banyaknya, tuan,"


"Aku tidak bisa memakan mana seseorang yang belum lahir," jawabnya.


Aku menunduk kecewa. "Begitu."


"Ah aku tau permasalahan di sini. Mana anakmu sangat melimpah dan orang bodoh itu mengatakan kalau hal itu bisa membahayakan dirimu saat melahirkannya, kan?" tanyanya.


Dahiku mengkerut. "Orang bodoh? Apakah orang yang anda maksud itu penyihir menara?"


"Iya, siapa lagi?"


"Dia adalah penyihir hebat di kerajaan obelia, bagaimana bisa anda mengatakan kalau dia orang bodoh?"


"Dia tidak bisa memberikan solusi, padahal jelas-jelas ada solusi supaya kau bisa selamat. Kalau tidak bodoh lalu apa?"


"Benarkah ada solusi?!" tanyaku senang.


"Tentu," jawabnya singkat.


Aku memegang tangan pria itu dan memohon. "Tuan bisakah anda memberitahu saya solusinya apa?"


Dia menepis tanganku. "Untuk apa aku memberitahumu? Tidak ada untungnya bagiku."


"Ada! Saya akan memberikan apapun yang anda inginkan."


"Yang aku mau tidak bisa kau berikan dengan mudah," ujarnya.


"Katakanlah dulu apa yang anda inginkan."

__ADS_1


"Aku mau pohon dunia," jawabnya.


Aku mengangkat sebelah alisku. "Pohon dunia?"


"Lihat, kamu saja tidak tau apa itu pohon dunia. Sudahlah kamu hanya membuang waktuku." Pria itu pun menghilang.


"Yang mulia permaisuri, dimana anda?" teriak seseorang.


Aku menoleh ke arah sumber suara. "Lily?"


Lily segera menghampiriku dengan raut wajah khawatir. "Astaga yang mulia permaisuri, kenapa anda di luar sendirian tanpa pengawal? Dimana tuan Robane?"


"Ah Felix sedang menenangkan Claude" jawabku.


"Menenangkan yang mulia? Apa yang telah terjadi?"


"Ceritanya panjang."


"Baiklah, pertama-tama mari kita masuk dulu yang mulia karena tidak baik berada di luar terlalu lama." Lily pun membawaku masuk dan membuatkan susu untukku.


"Selamat istirahat yang mulia permaisuri, panggil saya jika anda membutuhkan sesuatu. Saya akan segera datang."


"Iya. Terima kasih, Lily." Lily pun keluar dari kamarku.


Aku merenungkan perkataan orang yang ditemui tadi. "Pohon dunia? Bukannya aku tidak tau tapi aku bingung dimana harus mencarinya, di novel hanya diceritakan bahwa Lucas pergi ke suatu tempat untuk mengambil buah pohon dunia tapi tempat itu tidak disebutkan jadi aku tidak tau."


Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Benar!Lucas! Aku tinggal mencarinya dan meminta tolong padanya."


Seseorang pun muncul. "Orang yang kau temui tadi adalah Lucas, bodoh!"


Aku menoleh ke orang itu. "Tuan?! Jadi anda adalah Lucas?"


Dia menyeringai. "Iya, aku adalah Lucas. Pemimpin menara penyihir."


"Bukankah pemimpin menara sudah mati beberapa tahun yang lalu?" tanyaku bingung.


Dia memutar bola matanya. "Kau benar-benar bodoh rupanya, aku harap kebodohanmu itu tidak menurun ke anakmu."


Aku bingung. Yang aku tau pemimpin menara memang sudah mati sejak lama. Tapi orang ini mengaku bahwa dia adalah pemimpin menara. Aku memang tidak tau bagaimana ciri-ciri pemimpin menara yang dulu.


Pria itu memberikan sebuah buku tebal. "Makanya jangan hanya membaca novel percintaan, bodoh! Gunakanlah fasilitas istana ini dengan baik."


Dia bahkan tau kalau aku suka membaca novel romance?


"Baca itu." Setelah itu dia menghilang.


"Aneh. Seperti hantu saja, datang tiba-tiba dan pergi tiba-tiba." Aku pun membaca buku yang diberikan oleh pria tadi.


Beberapa jam kemudian. Aku telah menyelesaikan buku itu. Jadi pria tadi benar-benar Lucas sang pemimpin menara. Tapi mengapa dia masih hidup? Kenapa di buku sejarah dikatakan bahwa pemimpin menara sudah mati? Banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku. Tanpa aku sadari ternyata matahari sudah terbit. Ah aku tidak sengaja begadang. Kalau Lily tau dia pasti akan marah.


Pintu terbuka. Aku langsung berpura-pura tidur. Lily membangunkan dengan perlahan. "Yang mulia permaisuri, sudah waktunya anda harus bangun."


Aku menggeliat. "Hmm Lily."


Lily terkejut melihat mataku yang bengkak. "Astaga yang mulia permaisuri! Anda tidak tidur semalaman?!"


Aku terlonjak kaget.


Bagaimana Lily bisa tau? Tanyaku dalam hati.


Aku pun beralasan. "Tidak kok, aku baru saja bangun. Kau lihat sendiri kalau aku baru bangun, kan?"


"Anda bohong! Mata anda bengkak sekali, kalau yang mulia tau dia akan marah," ucapnya tak percaya.


"Aku harus bagaimana Lily? Aku keasikan membaca buku dan tanpa sadar hari sudah mulai pagi."


"Saya akan mengompresnya. Semoga bisa mereda sedikit." Lily mengambil sekantung es batu dan membalutnya dengan kain. Lalu menempelkannya di mataku.


25 menit aku mengompresnya tapi bengkaknya hanya mereda sedikit. Habislah sudah, Claude pasti marah melihat ini.


"Sudah saya bilang jangan tidur larut malam yang mulia permaisuri."


"Maaf Lily,".sesalku.


"Semoga saja yang mulia tidak menyadarinya ini," ucap Lily.


Tok...tok...tok


"Yang mulia permaisuri, yang mulia sudah menunggu anda di ruang makan," ucap seseorang dari luar.


"Tunggu sebentar, tuan Robane," jawab Lily.


Lily segera merias wajahku supaya tidak terlalu pucat. Setelah selesai aku keluar dan Felix mengantarku ke ruang makan.


Di tengah perjalanan Felix bertanya, "Maaf yang mulia permaisuri, apakah anda habis menangis?"


"Ah mataku bengkak ya?"


Felix mengangguk. "Iya, saran saya kalau ada yang membuat anda sedih katakanlah pada yang mulia. Jangan disimpan sendiri karena itu akan berpengaruh pada kesehatan janin yang mulia permaisuri."


"Aku tidak habis menangis Felix, mataku bengkak karena tidur larut malam hehe," jawabku bohong.


"Astaga yang mulia permaisuri, yang mulia pasti marah kalau tau."


"Maka dari itu rahasiakan dari Claude ya?"


"Rahasiakan apa?"


Mendengar suara yang aku kenali, jantungku berdetak sangat cepat.


Felix menunduk dan memberi salam pada Claude. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia."


"Apa yang kalian rahasiakan dariku?".tanya Claude dengan wajah datarnya.


Tapi tak ada satupun dari kami yang menjawabnya.


"Jawab aku, Diana!" perintah Claude.


"Ti-tidak ada rahasia apa-apa," bohongku.


"Jadi kamu tidak mau memberitahuku? Baiklah, hmm hukuman apa yang harus kuberikan pada ksatria pribadimu?"


"CLAUDE, JANGAN SAKITI FELIX!" kataku dengan nada tinggi.


Claude menatap tajam ke arahku. "Sekarang kamu berani teriak padaku?"


"Ma-maaf, aku tidak sengaja," cicitku.


"Mohon maaf yang mulia ini sudah waktunya sarapan, jika tidak bergegas ke ruang makan maka jadwal makan yang mulia permaisuri akan berantakan dan itu tidak baik untuk kesehatan bayinya," lerai Felix.


"Siapa yang peduli dengan bayi itu?" tanya Claude acuh.


Aku sangat terkejut dengan ucapannya itu. "Claude?! Apa yang kau katakan? Bayi ini adalah anakmu, bagaimana bisa kau berkata seperti itu."


"Itu dulu, tapi sekarang bukan. Dia hanya parasit untukmu, Diana," jawabnya.


Aku menampar pipi Claude.


Felix yang melihatnya sangat terkejut. "Yang mulia!"

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa setega itu dengan anakmu sendiri yang mulia?! Dia bahkan belum lahir dan kau sudah mengatakan hal yang begitu kejam. Saya kecewa pada anda, yang mulia!" Setelah itu aku pergi meninggalkan Claude yang terdiam di sana.


__ADS_2