Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
27


__ADS_3

Claude dan kak Anas berusaha menahan serangan dari Aeternitas.


"Diana?! Apa yang kamu lakukan di sini?!" tanya Claude yang terkejut dengan kedatanganku.


"Tentu saja untuk menangani kunci permasalahan ini."


"Pergilah! Aku dan Anastasius bisa menanganinya."


Aeternitas langsung melayangkan serangannya padaku, tapi dengan cepat Claude menghadangnya.


"Lawanlah aku bodoh!" ucap Claude.


"Hahaha bodoh? Hei kau adalah keturunanku, kalau kamu mengatakan aku bodoh berarti kamu juga bodoh?"


"Tidak sudi aku menjadi keturunanmu. Siapa yang menjadikan keturunannya sebagai wadah kekuatannya? Hanya kau yang melakukan hal sekeji itu!"


"Aeternitas, lawanmu adalah aku!" teriakku mengalihkan perhatian.


"Aku sudah tidak tertarik lagi denganmu, permaisuri. Melawan Claude lebih menyenangkan," balasnya.


Tapi saat dia sedang menyombongkan diri, kak Anas menahan tubuh Aeternitas. "Cepat serang dia, Claude!"


Claude yang ingin menyerang Aeternitas langsung aku tahan. "Tunggu, jangan bunuh dia. Lumpuhkan saja."


"Tapi Di—"


"Ikuti saja perkataanku." Claude mengikuti ucapanku, dia melumpuhkan Aeternitas dengan sihirnya.


Aeternitas pun tidak dapat bergerak, dia terus meronta-ronta dan berteriak. "Lepaskan aku dasar makhluk hina!"


Felix yang merasa marah dengan ucapan Aeternitas hendak menyerangnya.


"Tenanglah, Felix." ucapku menahan Felix.


"Tapi dia sudah berkata kurang ajar kepada yang mulia."


"Jangan dengarkan omongan dia. Sekarang kamu, Claude, dan kak Anas menjauhlah. Pasang sihir pelindung!" perintahku.


"Baik, yang mulia permaisuri." Felix memasang sihir pelindung di sekitar Claude dan kak Anas. Aku berjalan mendekati Aeternitas yang sedang meronta-ronta.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Diana?!" teriak Claude.


"Percayakan padaku. Aku akan menyelesaikan ini semua." Aku berlutut di hadapan Aeternitas dan menyentuh keningnya dengan keningku.


"Jangan sentuh aku, wanita j*****!" teriak Aeternitas tapi seketika muncul cahaya putih yang sangat terang sampai menyilaukan mata semua orang yang melihatnya.


***POV AUTHOR***


Saat cahaya putih itu menghilang, terlihatlah Diana dan Zenith yang telah pingsan. Claude, Anastasius, dan Felix segera menghampiri mereka. Felix terkejut saat memeriksa mereka berdua. Dia merasa dejavu dengan kejadian ini.


"Ada apa, Felix?! Mereka berdua kenapa?" tanya Anastasius panik.


"Yang mulia, jiwa nona Zenith dan yang mulia permaisuri tidak ada," jawab Felix.


Claude langsung menarik kerah kemeja Felix. "JANGAN BERCANDA!"


"Saya tidak bercanda, yang mulia. Ini seperti waktu itu, dimana hanya ada tubuh yang kosong tanpa isi."


Deg... perasaan Claude hancur seketika. Dia kembali merasakan kekosongan seperti saat itu dan entah berapa lama lagi Diana-nya akan kembali.


Dengan beramai-ramai, semua orang dari tempat evakuasi datang menghampiri mereka. Semua orang mulai berbisik-bisik melihat permaisuri Obelia dan keponakannya pingsan. Mereka juga berbisik tentang keadaan yang sangat mencekam ini.


Di tengah-tengah keributan, Athanasia, Lily, Lucas, dan Erez menerobos kerumunan itu.


Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat sekarang.


"Saya mohon tidak lagi," gumam Lily.


Semoga ini tidak seperti yang aku pikirkan. Ucap Lucas dalam hati.


Lucas dengan cepat mendekati Diana dan memeriksanya. Dia yang tidak percaya dengan ini semua pun memeriksa Zenith juga tapi hasilnya sama. Tubuh mereka kosong. Tidak ada jiwa di dalamnya.

__ADS_1


"Ini terjadi lagi," ucap Lucas lemah.


Athanasia menghampiri ayahnya dan bertanya, "Apa yang terjadi dengan ibu dan Zenith, ayah?"


Claude tidak menjawabnya.


"Ayah, jawab Athy!" teriak Athanasia.


Di antara kerumunan itu, ada tuan muda Alpheus yang menyaksikan kesedihan gadis yang dicintainya.


Tuan muda Alpheus berlari menghampiri Athanasia dan memeluknya. "Yang mulia permaisuri dan nona Zenith pasti baik-baik saja, tuan putri."


"Tidak. Aku harus mendengarkan langsung dari mulut ayah," ucap Athanasia sambil memberontak. "JAWAB AYAH!" bentak Athanasia.


"Kejadian itu terulang lagi, Athanasia!" jawab Claude dengan nada tinggi.


Athanasia terkejut mendengarnya. Bukan, bukan karena nada tinggi Claude melainkan karena jawaban yang diberikan oleh ayahnya. "A-ayah bohong, kan?"


"Ayah juga berharap kalau ini semua adalah kebohongan," jawab Claude frustasi.


Athanasia melepaskan dirinya dari Ijekiel dan berlari ke arah ibunya. Dia menanyakan hal yang sama ke Lucas. "Lucas, ibu baik-baik saja, kan? Yang dikatakan oleh ayah tadi pasti bohong."


"Maaf tuan putri tapi yang dikatakan oleh yang mulia adalah kebenarannya. Saat ini tubuh yang mulia permaisuri dan nona Zenith kosong. Saya tidak tau kemana jiwa mereka pergi. Yang pasti jiwa mereka hilang bersamaan dengan sihir hitam itu," jawab Lucas menjelaskan.


Hancur sudah pertahanan Athanasia. Dia langsung menangis sekeras-kerasnya di samping Diana sambil menggenggam tangan Diana. Tangisan Athanasia sampai membuat siapapun yang mendengarnya merasa ikut sakit.


"Ini pasti karena ibu menyembuhkan luka, Athy. Athy sudah bilang jangan lakukan itu, ibu!" ucapnya kesal. Tapi ibunya itu diam tak menjawab.


Felix memeluk Athanasia dan berharap kalau ini bisa menenangkan tuan putrinya itu. Lily juga ikut memeluk tuan putri kesayangannya itu. Sedangkan Erez juga hanya bisa diam. Dia tidak tau apa yang harus dilakukan sekarang. Karena ini di luar perkiraannya. Tubuh Diana masih ada walaupun jiwanya tidak ada.


Penelope yang baru saja datang terkejut melihat keadaan putrinya yang tergeletak lemah di samping Diana. Dia segera lari dan memeluk putrinya. "Zenith, bangunlah sayang. Ibu di sini."


Anastasius menghampiri istri dan putrinya itu.


"Zenith sedang tertidur, sayang." ucapnya bohong.


"Zenith benar-benar hanya tidur?" tanya Penelope.


Anastasius terpaksa membohongi istrinya itu. Dia tidak tega melihat istrinya menderita kalau tau yang sebenarnya. Lagi pula dia percaya kalau Zenith akan kembali seperti Diana yang kembali saat itu.


Aku yakin mereka berdua pasti akan kembali. Ucap Anastasius dalam hati.


Karena Erez sudah mengatakan kalau sihir hitam telah menghilang, semuanya kembali ke tempatnya masing-masing. Para bangsawan pulang ke kediamannya dan para pelayan kembali bekerja di istana.


Diana dan Zenith ditempatkan di kamar khusus agar mereka bisa beristirahat dengan tenang. Setiap hari selalu ada pelayan yang membersihkan kamar itu dan mengganti bunga di vas. Setiap hari juga ada orang yang bergantian menjenguk mereka berdua.


***POV DIANA***


Dimana aku? Kenapa semua tempatnya hanya berwarna putih? Aku mencoba berjalan dan mencari tau dimana aku berada sekarang.


Di depan sana aku melihat seseorang. Aku segera ke sana dan ternyata seseorang itu adalah Aeternitas dan seorang pria tua yang sepertinya adalah ayahnya. Aku mencoba mendengarkan percakapan mereka dari jauh.


"Maafkan ayah, Aeternitas," ucap seorang pria dengan nada menyesal.


"Kenapa ayah meminta maaf?"


"Karena ayah lemah, jadi ayah tidak bisa meyakinkan tuan Lucas untuk menerimamu menjadi muridnya."


"Ayah tidak salah. Itu semua karena Lucas adalah orang yang arogan. Maka dari itu Aeternitas akan membalaskan dendam padanya tapi entah kenapa Aeternitas terjebak di sini. Apakah ayah tau cara keluar dari sini?"


"Nak, tidak perlu balas dendam. Kamu sudah hebat dengan menjadi kaisar terkuat pada abad ke-25 tanpa bantuan siapapun."


"Aeternitas belum puas kalau si arogan itu belum merasakan rasa sakit yang Aeternitas rasakan," kata Aeternitas penuh dendam.


"Ayah tidak pernah mengajarkanmu dendam pada seseorang, nak."


"Tapi a—"


"Lepaskan semua kekotoran hatimu itu. Kamu tidak akan bisa lahir kembali kalau terus memiliki hati yang kotor."


Aeternitas terdiam mendengar ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Balas dendam terbaik adalah dengan menjadi lebih baik dari sebelumnya dan kamu berhasil melakukannya. Kamu menjadi jauh lebih baik."


"Aeternitas tidak lebih baik dari sebelumnya, ayah."


"Apa maksudmu, nak?"


"Banyak kekacauan yang terjadi karena Aeternitas."


"Itulah sebabnya ayah memanggilmu ke sini. Selesaikan kekacauan yang kamu buat dan pulanglah."


"Tapi terlalu banyak kekacauan yang Aeternitas buat."


"Seseorang akan siap membantumu."


"Siapa?"


"Keluarlah, yang mulia permaisuri."


Aku terkejut saat ayahnya Aeternitas memanggilku.


"Yang mulia permaisuri?" tanya Aeternitas terkejut. Dia menoleh ke belakang dan melihatku dengan terkejut.


"Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada permaisuri obelia," ucap pria itu memberi salam.


Aku segera membantunya bangun. "Jangan memberi salam. Anda bahkan berkedudukan lebih tinggi dari pada saya."


"Tapi itu di masa lalu."


"Jadi ada apa? Aku sedikit mendengar percakapan kalian."


"Sedikit? Anda yakin?" tanya Aeternitas tidak percaya.


Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. "Ya sebenarnya aku mendengar semua percakapan kalian."


"Sudah kuduga."


"Maafkan aku," ucapku menyesal.


"Tidak apa-apa, yang mulia permaisuri. Malah itu bagus karena saya tidak perlu menjelaskannya lebih detail lagi pada anda dan langsung pada intinya."


"Jadi kekacauan seperti apa yang Aeternitas telah lakukan?" tanyaku.


"Kekacauan yang sebenarnya paling sulit untuk diselesaikan adalah keponakan anda, yang mulia permaisuri."


"Zenith?"


"Iya."


"Kenapa dengan Zenith?"


"Nona Zenith saat ini tidak sadarkan diri karena jiwanya sedang berkelana. Anda dan Aeternitas harus mengembalikan jiwa nona Zenith ke tubuhnya secepatnya. Kalau jiwa itu semakin jauh maka akan semakin sulit untuk mengembalikannya," jelasnya.


"Tapi kemana jiwa Zenith berkelana? Di sini hanya ada ruangan putih."


"Ikutilah benang merah itu, yang mulia permaisuri."


"Benang merah? Tidak a—" Seketika muncul benang merah di dekatku.


"Benang merah itu akan membawa anda ke tempat jiwa nona Zenith berada."


"Bagaimana dengan anda?"


"Saya akan menunggu di sini sampai Aeternitas menyelesaikan semuanya."


"Tunggu aku, ayah."


"Selesaikan semuanya, Aeternitas."


"Pasti!" tegas Aeternitas.


Aku dan Aeternitas pergi mengikuti benang merah itu.

__ADS_1


__ADS_2