
Saat di perjalanan mengikuti benang merah, Aeternitas membuka percakapan. "Hei, maafkan aku."
"Kamu berbicara padaku?"
"Tentu saja, bodoh. Di sini hanya ada aku dan kau memang dengan siapa lagi aku berbicara?!" ucapnya kesal.
Aku mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu minta maaf?"
"Karena telah mengacaukan banyak hal," jawabnya.
"Sadar juga kau rupanya," ejekku.
Aeternitas terdiam sejenak. "Kau benar, Diana. Aku sendiri yang akan terus menderita kalau terus memendam perasaan benci ini. Seharusnya aku mendengarkanmu lebih awal. Aku terlalu dibutakan oleh perasaan benci kepada Lucas."
"Sudah kubilang kalau ayahmu tidak akan senang mengetahui kau seperti itu," balasku.
Aeternitas mengangguk. "Iya. Aku tau kalau tindakanku salah. Aku sedikit menyesalinya."
"Sedikit?! Kau hampir membunuh banyak orang dan kau bilang hanya sedikit perasaan menyesalmu?!" tanyaku kesal.
"Kenapa kamu marah? Dengarkan perkataanku dulu. Orang yang aku bunuh rata-rata memang pengkhianat jadi aku tidak menyesal di bagian itu."
"Tapi tetap saja kau juga membunuh orang-orang tidak bersalah dan menyakiti keponakanku!"
"Aku tau. Itulah alasannya aku ikut denganmu mencari nona Zenith dan setelahnya aku akan pergi."
Aku menghela nafas dan hanya mengangguk. Marah-marah pun tidak bisa mengendalikan mereka yang telah mati dan Aeternitas juga sudah menyesali perbuatannya.
Kami masih terus mengikuti benang merah itu dan sampailah kami di ujungnya. Benang merah ini berhenti di sebuah pohon besar.
"Zenith!" ucapku terkejut saat melihat Zenith tergantung di atas pohon.
Aeternitas memotong talinya dan menangkap Zenith.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanyaku.
"Dia terlalu banyak menyerap sihir hitamku dan sekarang tubuhnya dipenuhi oleh sihir hitam," jawabnya.
"Ini semua gara-gara kamu!" kesalku.
"Aku tau. Itulah sebabnya aku ada di sini untuk menyelesaikan semuanya."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Kamu ingat cara menghilangkan sihir hitam, kan?"
"Dengan sihir pemurnian?"
"Benar."
"Itu mustahil. Kamu tau kalau manaku tidak sebesar itu. Aku tidak bisa memurnikan jiwa yang telah dipenuhi oleh sihir hitam."
"Bisa."
"Jangan bicara sembarangan. Kita memerlukan keturunan Obelia untuk bisa memurnikan seluruh jiwa Zenith."
"Kau lupa kalau aku juga keturunan Obelia? Bahkan aku raja terkuat beberapa abad yang lalu."
Ah iya aku lupa kalau Aeternitas memiliki darah keluarga Obelia. "Oh iya, habis kau tidak bersikap layaknya keluarga kerajaan jadi aku melupakan itu."
__ADS_1
"Sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu. Sekarang kau salurkan mana itu kepadaku dan aku akan memurnikannya!" perintahnya.
"Tapi kamu memiliki sihir hitam, bagaimana kalau manaku tercampur dengan sihir hitam milikmu?"
"Aku tidak sebodoh itu. Aku bisa membuat keduanya tidak bercampur satu sama lain."
"Oh Lucas pernah membicarakannya. Ternyata itu benar."
"Iya jadi cepatlah. Waktu kita tidak banyak." Aku mulai menyalurkan mana milikku ke Aeternitas dan dia mulai memurnikan jiwa Zenith. Proses ini sangat menguras manaku dan tenagaku. Aku merasa hampir mati karena ini.
"Bertahanlah, Diana!"
"Aku sudah tidak kuat lagi, Aeternitas."
"Sedikit lagi!"
Aku berusaha untuk tetap sadar dan terus menyalurkan manaku.
"Selesai." Aku langsung terkulai lemah.
"Kamu berhasil bertahan dengan baik, Diana," puji Aeternitas.
"Jadi jiwa Zenith sudah bersih dari sihir hitam?" tanyaku.
Aeternitas mengangguk. "Iya. Jiwanya telah bersih seutuhnya. Sekarang kita tinggal menunggu dia sadar."
"Setelah itu?"
"Kita harus membuatnya mengatakan jati dirinya agar dia bisa kembali ke tubuh aslinya."
Aku mengangguk paham. Aku dan Aeternitas duduk dengan tenang menunggu Zenith sadar.
"Dimana aku?"
"Bibi Diana? Dimana kita? Kenapa semuanya putih?" tanyanya sambil melihat sekelilingnya.
"Kita ada di alam bawah sadar," jawabku sambil membantu Zenith duduk.
"Benar. Zenith, kamu harus segera kembali ke tubuhmu. Ucapkan dengan lantang siapa dirimu," timpal Aeternitas.
Tapi Zenith malah diam dan tidak melakukan apa yang Aeternitas katakan.
"Ada apa Zenith? Cepatlah. Kamu tidak boleh berlama-lama di sini." ucapku.
"Zenith suka di sini," tuturnya
Aku terkejut dengan perkataannya. "Apa yang kamu katakan itu, Zenith?!"
"Di sini tenang, bibi. Tidak ada yang membuat Zenith marah dan sedih," jawabnya.
"Tapi kamu hanya akan sendirian di sini kalau tidak kembali sekarang."
"Tidak apa-apa, yang penting Zenith tidak sedih karena sikap orang-orang kepada Zenith."
Aku mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Orang-orang yang bekerja di istana memperlakukannya dengan beda. Tidak hanya di istana tapi di luar istana juga," jelas Aeternitas.
"Kenapa?" tanyaku yang masih belum mengerti.
__ADS_1
"Karena Zenith tidak pernah diperkenalkan secara resmi ke masyarakat jadi tidak ada yang tau kalau Zenith adalah keluarga kerajaan juga. Selama ini Zenith kesulitan karena hal itu. Dia dikucilkan dan diremehkan semua orang," lanjut Aeternitas.
Aku menutup mulut tak percaya.
Aku menatap Zenith yang ternyata sudah meneteskan air mata. Aku pun memeluknya. "Maafkan bibi, Zenith. Bibi tidak tau kalau kamu mengalami itu semua."
Zenith hanya menangis di pelukanku.
"Zenith, dengarkan bibi. Bibi berjanji setelah kita keluar dari sini, bibi akan mengumumkan secara resmi kalau kamu, kak Anas, dan Penelope adalah keluarga kerajaan. Aku juga akan mengatakan kalau kamulah putri mahkota yang seharusnya."
Zenith menggeleng. "Zenith tidak mau menjadi putri mahkota, bibi. Zenith hanya ingin orang-orang juga menghargai Zenith seperti mereka menghargai Athy."
Aku mengangguk. "Baiklah, sayang. Sesuai keinginanmu. Bibi akan membuat mereka semua tidak bisa meremehkanmu lagi."
Zenith memelukku. "Terima kasih, bibi."
"Sama-sama, sayang."
Zenith melepaskan pelukannya. "Jadi Zenith harus mengatakan jati diri Zenith supaya bisa terbangun?"
"Iya."
Zenith menghirup nafas dalam-dalam. "Aku adalah Zenith De Alger Obelia, putri dari Anastasius De Alger Obelia dan Penelope De Alger Obelia."
Cahaya putih memenuhi ruangan ini dan Zenith pun menghilang.
"Dia sudah kembali ke tubuhnya."
"Syukurlah. Kalau begitu sekarang giliranku untuk mengucapkannya dan pergi dari sini."
Aku bersiap-siap untuk mengucapkannya. "Aku adalah Diana De Alger Obelia, permaisuri Obelia."
Tidak terjadi apapun.
"Kenapa aku tidak pergi dari sini?" tanyaku bingung.
"Mungkinkah kamu salah mengucapkannya?"
"Tidak mungkin. Kau kira aku bodoh sampai salah mengucapkan nama sendiri hah?!"
"Lalu kenapa tidak terjadi apapun padamu? Nona Zenith berhasil dalam sekali percobaan."
"Aku juga tidak tau."
"Sepertinya kau akan tinggal di sini selamanya," ledek Aeternitas.
"Jangan bercanda, Aeternitas!" kesalku.
Aeternitas hanya tertawa. "Yah setidaknya aku tidak benar-benar sendirian di sini. Kamu juga ada di sini bersamaku tapi berbeda denganmu, aku tinggal menunggu ayah menjemputku dan kau akan di sini sendirian."
Aeternitas benar. Aku akan di sini sendirian setelah ayahnya menjemput dia dan mereka pergi dari sini. Bagaimana ini? Apa aku benar-benar akan sendirian di tempat ini? Tidak. Aku tidak mau! Tubuhku mulai bergetar. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku.
"Hei kamu kenapa?" tanya Aeternitas yang melihat diriku gemeteran.
"Aku takut, Aeternitas. Aku takut kalau aku akan benar-benar sendirian di sini."
"Tenanglah. Aku hanya bercanda tadi. Kau pasti akan keluar dari sini."
"Bagaimana caranya? Cara yang dilakukan Zenith tidak berhasil padaku."
__ADS_1
"Aku juga tidak tau tapi kita akan tanyakan setelah ayahku datang. Jadi tenanglah."
Aku mengangguk.