Reinkarnasi Diana

Reinkarnasi Diana
11


__ADS_3

Aku langsung mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Athanasia dan Zenith.


"Masuk saja. Pintunya tidak dikunci," ucap Zenith.


Aku masuk dan melihat kalau mereka berdua sedang asik bermain boneka.


"Apakah aku mengganggu kalian bermain?" tanyaku.


"Tidak, bibi tidak mengganggu kita. Benarkan Athy?"


Athanasia mengangguk. "Iya, ibu tidak mengganggu kami."


"Syukurlah kalau begitu."


"Tapi apa yang ibu lakukan ke kamar kami? Apakah ibu akan tidur di sini? Bukankah ayah tidak bisa tidur kalau tidak di samping ibu?"


"Ada yang ingin ibu bicarakan. Tidak akan lama dan setelah itu ibu akan kembali ke kamar."


"Apa yang ingin bibi bicarakan?" tanya Zenith.


"Bibi ingin membicarakan tentang kejadian tadi. Apa ada sesuatu yang tidak biasa terjadi saat kalian berenang tadi?"


Mereka menjawab bersamaan. "Tidak ada."


"Kalian yakin?"


"Iya. Tapi bibi, apakah kalian menyadarinya lama? Kenapa kalian baru sadar waktu kami udah hampir di tengah laut? Aku merasa belum terlalu lama berenangnya tapi kenapa udah sejauh itu ya."


"Tidak juga. Kami langsung menyadari saat tidak mendengar suara kalian," jawabku.


"Kalau begitu harusnya kalian menyadari saat kami belum terlalu jauh tapi kenapa waktu kalian mencari, kami udah hampir di tengah laut ya?"


Aku terkejut mendengar pemikiran Zenith. "Zenith, apakah kau yakin baru merasa sebentar berenangnya? Mungkin karena terlalu asik berenang jadi tidak sadar kalau ternyata berenangnya udah cukup lama."


Zenith mengangguk. "Aku yakin, bibi. Aku sambil menghitung tadi dalam hati karena aku mau tau berapa lama aku bisa menahan nafasku."


Deg...


"Zenith, sejak kapan teman-teman kamu bilang kalau ada bayangan hitam di belakangmu?" tanyaku.


"Sejak pertama kali aku bermain bersama mereka. Tapi mereka tetap mau bermain bersama dan setelah itu mengatakan hal yang sama lagi," jawabnya.


Apakah itu sihir hitam? Tapi tidak mungkin. Kehidupan ini berbeda dengan novelnya. Anastasius dan Claude tidak saling membunuh dan tidak ada kebencian dalam diri Claude ataupun Anastasius. Penelope memilih Anastasius sebagai pasangannya walaupun dia tidak menjadi penerus Obelia. Jadi seharusnya tidak ada dendam satu sama lain. Lalu siapa yang menggunakan sihir hitam? Pikirku dalam hati.


"Ada apa, bibi? Apakah bibi juga melihat bayangan hitam itu di belakangku?" tanya Zenith.


"Tidak, bibi hanya bertanya. Oh iya apa yang biasanya kamu lakukan saat sedang bosan?"


"Tidak ada. Aku hanya bermain sendirian," jawabnya.


"Kau yakin?"


"Iya, karena aku juga bisa menggunakan sihir jadi aku suka bermain sendiri."


"Kau bisa menggunakan sihir, Zenith?!" tanyaku terkejut.


Aku harap sihir yang dimaksud Zenith bukanlah sihir hitam. Ucapku dalam hati.


Apakah bibi mau melihatnya?" tanya Zenith.


"Kamu bisa menunjukkannya pada bibi?"


"Bisa tapi tidak sekarang."


"Kenapa?"


"Sihirnya tidak keluar semau aku."


"Lalu bagaimana kamu bisa mengendalikan sihirnya?"


"Sebenarnya aku juga tidak sepenuhnya mengendalikan sihir itu. Sihir itu seperti manusia yang juga mempunyai pikirannya sendiri," jelasnya.


Aku tak paham dengan apa yang diucapkan Zenith. "Apa maksudmu? Bibi tidak mengerti dengan ucapanmu."


Zenith mulai menjelaskan tentang cara kerja sihirnya. "Saat Zenith merasa kesepian atau sedih, sihir itu suka keluar dengan sendirinya. Sihir itu selalu menghibur Zenith dan terkadang mengikuti apa yang Zenith katakan. Tapi tidak selalu karena terkadang sihir itu melakukan hal yang lebih hebat. Zenith merasa seperti punya teman manusia saat bermain dengan sihir itu."


"Wah benarkah itu? Athy juga mau punya teman sihir," ucap Athy.


"Sihir itu hanya akan keluar saat Zenith merasa kesepian ataupun sedih?"


"Tidak. Dia juga keluar saat Zenith diganggu seseorang."


Jadi sihir itu keluar saat Zenith dalam keadaan yang tidak baik. Berarti aku harus membuat Zenith merasa tidak nyaman untuk melihat sihir itu. Pikirku dalam hati.


"Ibu, Athy juga ingin bisa sihir seperti Zenith," pinta Athanasia.


"Iya sayang. Sekarang kalian tidur ya. Ibu akan kembali ke kamar," ucapku.


Aku mencium kening Athanasia dan Zenith, setelah itu pergi.


Saat kembali ke kamar, ternyata Claude belum tidur.


"Apakah sudah selesai bermainnya?" tanya Claude.


"Iya sudah."


"Kalau begitu cepat kemarilah, aku sangat merindukanmu."


Aku terkekeh. "Astaga, baru sebentar aku meninggalkanmu tadi dan kau bilang sudah rindu padaku?"


"Iya. Bukankah sudah aku bilang kalau aku tidak bisa ditinggal olehmu terlalu lama?" ucap Claude sambil menarikku ke pelukannya.


"Bagaimana kalau aku pergi duluan nanti?"


"Maka aku akan menyusulmu."


"Jangan berbicara seperti itu! Setidaknya kamu harus tetap hidup untuk menjaga Athanasia."


"Athanasia punya Lily dan Felix untuk menjaganya tapi tidak ada satu orang pun yang bisa menjagaku."


"Lily dan Felix juga bisa menjagamu."


"Kau kira aku mau dijaga sama mereka?"


"Tidak haha. Kalau begitu ada kak Anas dan Penelope yang akan menjagamu."


"Tidak mau. Aku hanya ingin kamu yang menjagaku. Kenapa tiba-tiba kamu membicarakan hal ini? Apakah kamu sakit parah?"

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya penasaran apa yang akan kamu lakukan kalau suatu hari aku tidak ada lagi di dunia ini."


"Apakah kau tidak tau jawabannya makanya bertanya?"


Aku mengangguk.


"Dengar Diana. Di dunia ini hanya kamu yang aku cintai. Kamu adalah segalanya bagiku."


Aku memeluk Claude. "Iya Claude, aku tau."


"Jangan coba-coba memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku tau kamu sedang gelisah. Ceritakan padaku apa yang membuatmu gelisah."


Saat ini aku belum bisa menceritakannya pada Claude karena hal ini belum pasti. Aku tidak ingin menyebabkan keributan yang tidak penting jadi aku akan memberitahunya saat semuanya sudah pasti. "Tidak ada, aku hanya penasaran saja tadi. Sekarang ayo kita tidur, aku sudah sangat mengantuk." Claude mematikan lampu dan kami tidur.


Keesokan harinya. Aku menghampiri Athanasia dan Zenith yang sedang bermain di kamar.


"Ibu? Ibu mau bermain bersama kami?" tanya Athanasia.


"Tidak, ibu ke sini untuk memanggil kamu."


Athanasia menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"


"Iya, bisakah kamu ke sini sebentar? Ada yang ingin ibu bicarakan."


"Baik ibu. Zenith tunggu sebentar ya, Athy akan segera kembali."


"Zenith, bibi ingin mengobrol sebentar dengan Athy. Kamu main sendiri dulu gapapa, kan?"


"Umm tidak apa-apa kok."


Di luar rumah.


"Ada apa ibu? Apa yang ingin ibu bicarakan sampai membawaku keluar begini?" tanya Athanasia.


"Itu Athy, ibu ingin minta tolong padamu," ujarku.


Athanasia mengernyitkan dahinya. "Minta tolong? Minta tolong apa, ibu?"


"Bisakah kau berpura-pura marah pada Zenith dan berkata tidak mau bermain bersamanya lagi?"


Athanasia langsung menggeleng. "Athy tidak mau. Zenith bisa sedih kalau Athy melakukan itu."


"Tidak sayang, ini hanyalah pura-pura. Nanti kita akan meminta maaf pada Zenith ya?"


"Tapi bukankah ibu yang bilang sendiri jangan pernah menyakiti orang lain karena walaupun kita sudah minta maaf tapi rasa sakit hati itu pasti masih ada dan membekas. Athy tidak mau Zenith sakit hati."


Yang dikatakan Athanasia memang benar tapi ini satu-satunya cara untuk melihat kekuatan Zenith. Aku harus memastikan kalau kekuatan itu bukanlah berasal dari sihir hitam. Ucapku dalam hati.


"Ibu yang akan bertanggung jawab sayang. Karena ibu mempunyai alasan untuk melakukan ini. Tolong bantu ibu ya?" Aku memohon pada Athanasia.


"Baiklah ibu tapi sekali ini saja. Jangan pernah meminta Athy untuk melakukan hal seperti ini lagi." Aku mengangguk.


Kemudian, kita kembali ke kamar. Athy masuk dan aku menunggu di luar kamar.


"Athy kamu sudah kembali. Ayo sini main lagi sama aku." ucap Zenith sambil memegang tangan Athy.


Athy menepis tangan Zenith. "Tidak. Athy tidak mau main sama Zenith lagi."


Zenith nampak kebingungan dengan sikap Athanasia yang berubah. "Kenapa? Kenapa Athy tidak mau main sama Zenith lagi? Apakah Zenith melakukan kesalahan pada Athy?"


"Tidak. Tapi Athy memang tidak mau lagi bermain sama Zenith dan tidak akan pernah mau bermain lagi sama Zenith." Setelah mengatakan itu Athy keluar dari kamar dan meninggalkan Zenith sendirian.


Aku menenangkan Athanasia. "Tidak sayang. Kamu tidak jahat pada Zenith. Kamu hanya melakukan apa yang ibu minta. Setelah urusan ibu selesai, ibu yang akan berbicara pada Zenith. Ibu berjanji kalau Zenith akan tetap mau bermain bersama Athy lagi ya? Jadi berhentilah menangis."


Athanasia berhenti menangis. "Tapi urusan apa yang ibu maksud? Kenapa urusan ibu itu mengharuskan membuat Zenith sedih?"


"Ibu ingin melihat kekuatan sihir Zenith. Ibu ingin memastikan bahwa kekuatan Zenith bukanlah kekuatan yang berbahaya." Aku mengecek keadaan Zenith dari luar kamar. Terlihat kalau Zenith sedang menangis. Sejujurnya aku sangat sedih melihat Zenith menangis karena aku tau Zenith adalah anak yang manis dan baik. Tapi aku harus melakukan ini untuk melihat kekuatannya. Tak lama muncul bayangan hitam dari belakang tubuh Zenith. Bayangan hitam itu masuk ke boneka yang selalu dibawa oleh Zenith akhir-akhir ini dan bonekanya bertingkah layaknya makhluk hidup. Aku melihat boneka itu mendekati Zenith dan menghiburnya.


"Halo Zenith," sapa boneka itu.


"Sihir? Kamu datang."


"Tentu, Zenith sedang sedih jadi aku harus datang."


"Terima kasih sihir, kamu memang yang terbaik."


"Ada apa Zenith? Kenapa kamu menangis? Apakah teman-temanmu itu mengganggumu lagi?"


Zenith menggeleng. "Tidak, sepupuku sedang berkunjung dan menginap di sini. Selama dia di sini kita selalu bermain dan tidur bersama tapi entah mengapa tiba-tiba dia marah padaku dan berkata tidak mau bermain lagi sama aku. Aku sedih sekali karena aku suka bermain dengannya."


"Siapa nama sepupumu?" tanyanya.


"Athanasia, tapi aku memanggilnya Athy. Dia memiliki rambut pirang dan mata biru yang sangat cantik dan dia juga adalah anak baik pokoknya aku suka bermain bersamanya tapi sepertinya dia tidak suka bermain bersamaku. Buktinya saja dia tidak mau bermain lagi denganku. Apa yang harus aku lakukan sihir? Aku ingin terus bermain dengan Athy."


"Apakah dia keluarga Obelia? Dia keluarga kerajaan, kan?"


Zenith mengangguk.


"Jadi dia orang yang telah merebut tahta ayahmu?"


Aku terkejut mendengar percakapan mereka. "Merebut tahta? Apa maksudnya itu? Di dunia ini Anastasius menyerahkan tahtanya secara sukarela."


"Tidak. Aku memang keluarga kerajaan juga tapi ibu pernah bilang kalau ayah menyerahkan tahtanya secara sukarela jadi paman Claude tidak merebutnya," jelas Zenith.


Syukurlah Penelope sudah menjelaskan pada Zenith. Batinku.


"Tapi Zenith, apakah kamu tidak mau menjadi tuan putri Obelia? Akan ada banyak orang yang menyukaimu dan mau berteman denganmu."


"Mereka mau berteman denganku karena aku adalah tuan putri. Aku tidak mau seperti itu, aku ingin mereka berteman dengan tulus."


"Siapa peduli tentang itu? Yang penting kau memiliki banyak teman, kan? Bukankah kau sangat suka bermain dengan banyak orang? Ini adalah kesempatan untuk kau merebut tahta ayahmu. Aku akan membantumu."


"Bagaimana caranya?"


"Kau tinggal menyerahkan tubuhmu padaku dan aku akan mengurus semuanya. Saat kau terbangun, kau akan menjadi tuan putri.


Zenith nampak ragu tapi pada akhirnya dia menerima tawarannya. Sebelum Zenith meraih tangan boneka itu, aku langsung masuk untuk menghentikannya. "Jangan Zenith!"


Sihir itu keluar dari boneka dan langsung masuk tubuh Zenith. Aku menghampiri Zenith dan menggoyangkan tubuhnya. "Sadar Zenith! Kau harus bangun, jangan mau diambil alih oleh sihir hitam itu."


Terlambat. Tubuh Zenith sudah dikuasai oleh sihir hitam itu. Zenith mengangkat tubuhku ke udara dengan bantuan sihir hitam itu. Athanasia yang melihatnya menjadi takut dan khawatir. "Athanasia, cepat panggil ayah dan pamanmu!"


"Ti-tidak mau. Athy tidak mau meninggalkan ibu."


"Athanasia, kau harus memanggil mereka. Cepat! Sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi." Athanasia langsung berlari keluar dan memanggil semua orang.


***POV ATHANASIA***

__ADS_1


Aku berlari secepat mungkin ke ruang tengah. Aku takut, aku tidak tau apa yang baru saja terjadi. Kenapa Zenith menyerang ibu? Apakah Zenith marah pada ibu?


Di ruang tengah.


"Athanasia, kenapa kau lari-lari?" tanya ayah.


Lily segera menghampiriku dan mengelap keringatku. "Astaga tuan putri, apa yang telah terjadi? Kenapa ada keringetan seperti ini?"


"Hah hah hah a-ayah, i-ibu."


Claude yang mendengar Athanasia menyebut ibu langsung menghampirinya. "Ada apa dengan Diana?!"


"Ze-zenith menyerang ibu. Ce-cepat tolong ibu, ayah!"


Penelope terkejut. "Apa?! Tidak mungkin Zenith menyerang Diana. Dia masih kecil."


"Bibi, Zenith memiliki kekuatan sihir."


Semua orang terkejut mendengarnya.


"Dimana Diana?!" tanya ayah.


"Ibu ada di kamar aku dan Zenith," jawabku.


Ayah langsung berlari menuju kamar aku dan Zenith. Kami semua mengikuti ayah dari belakang.


***POV DIANA***


Kekuatannya sangat besar. Aku tidak bisa mengeluarkan sihir hitam itu dari tubuh Zenith kalau tanganku diikat oleh sihir ini. Aku juga tidak bisa menyerangnya karena dia ada di dalam tubuh Zenith. Batinku. Sekarang aku hanya bisa menunggu yang lain datang.


"DIANA?!"


"Yang mulia permaisuri?!"


Zenith langsung menyerang siapapun yang mendekat. Penelope menangis melihat putrinya seperti itu. "Zenith, sadar sayang. Kenapa kamu menyerang bibi Diana?"


Tapi Zenith tidak menjawabnya.


"Lepaskan bibi Diana, Zenith!" teriak Penelope.


"Percuma Penelope, Zenith tidak bisa mendengarmu sekarang," ucapku.


"Apa maksudnya itu?" tanya Penelope tidak mengerti.


"Tubuh Zenith diambil alih oleh sihir itu."


Penelope terkejut tak percaya. "Sihir apa sebenarnya itu? Mengapa dia bisa mengambil alih tubuh Zenith?"


"Ini adalah sihir hitam," jawabku.


"Sihir hitam? Bukankah tidak ada lagi sihir hitam di zaman ini?" tanya kak Anas.


"Aku juga tidak tau kenapa ada sihir hitam di sini . Yang penting kita harus mengeluarkan sihir hitam itu dari tubuh Zenith terlebih dahulu."


Athanasia memegang tangan Claude. "Apa yang harus kita lakukan ayah?"


"Tenang sayang. Ayah akan menyelamatkan ibu."


"Bagaimana cara mengeluarkan sihir hitam itu?" tanya kak Anas.


"Dengan cara memurnikannya," jawabku.


"Pemurnian? Itu mustahil, yang mulia permaisuri. Yang bisa melakukan sihir pemurnian hanyalah pemilik menara sihir yaitu tuan Lucas sedangkan tuan Lucas tidak ada di sini dan butuh waktu lama untuk memanggilnya," ucap Felix.


"Benar, Lucas bisa melakukan sihir pemurnian. Tapi apa kau lupa siapa aku? Aku adalah murid Lucas, jadi aku juga bisa melakukan sihir pemurnian."


Felix senang mendengarnya. "Itu bagus yang mulia permaisuri, maka lakukanlah."


"Felix bodoh! Aku sedang seperti ini, susah untukku memurnikan Zenith. Bantu aku terlepas dari ini dulu," kesalku.


Tiba-tiba sihir hitam itu mencekik leherku.


"DIANA."


"YANG MULIA PERMAISURI."


"Apa yang harus kita lakukan sayang? Putri kita semakin menyerang Diana," ucap Penelope.


Anastasius memeluk Penelope untuk menenangkannya. "Tenanglah."


Athanasia berteriak dan tanpa sadar dia menggunakan sihirnya. "LEPASKAN IBU!"


Sihir hitam itu menghilang dan aku terlepas. Claude langsung berlari ke arahku dan menangkapku.


"Diana, kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Aku baik-baik saja, Claude. Sekarang aku akan memurnikan Zenith."


"Kau yakin bisa?"


"Tentu. Percayalah padaku."


"Berhati-hatilah." Aku mengangguk. Aku berlari ke arah Zenith dan langsung memurnikannya sebelum sihir hitam itu berulah lagi.


Zenith pun pingsan. Kak Anas dan Penelope langsung menghampiri Zenith.


"Zenith hanya pingsan karena dia kelelahan. Tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja," ujarku.


"Terima kasih Diana dan maaf," ucap kak Anas.


"Tidak perlu meminta maaf kak, ini bukan salah Zenith."


Perlahan Zenith membuka matanya. "I-ibu."


"Iya sayang, ibu di sini."


Zenith terlihat kebingungan karena semua orang ada di sini dan memandangnya dengan khawatir. "Apa yang telah terjadi? Kenapa kalian semua ada di sini?"


Athanasia langsung memeluk Zenith dan menangis. " Zenith maafkan Athy. Athy tidak bermaksud membuat Zenith sedih tadi. Athy sangat suka bermain dengan Zenith."


"Benarkah?" tanya Zenith dengan mata berkaca-kaca.


Athanasia mengangguk. "Iya, Athy tadi bohong sama Zenith. Maafkan Athy."


Zenith membalas pelukan Athanasia dan ikut menangis. "Untunglah Athy masih mau bermain dengan Zenith. Zenith tidak mau dijauhi oleh Athy."


Athanasia menggeleng. "Tidak mungkin Athy menjauhi Zenith. Athy suka bersama Zenith."

__ADS_1


Athanasia dan Zenith melepaskan pelukannya dan tersenyum.


__ADS_2