
Jadi ini sebabnya aku tidak bisa merasakan mana Diana selama ini? Karena ada seseorang yang menyembunyikan keberadaannya. Pikir Lucas.
Dalam perjalanan kembali ke istana emerald, Athanasia bertemu dengan Zenith yang sedang duduk di taman sendirian. Athanasia pun menghampiri Zenith. "Halo Zenith."
Zenith langsung bangkit dan memberi salam, "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada tuan putri Athanasia."
"Zenith! Bukankah sudah aku bilang tidak perlu memberi salam? Kita sama-sama keluarga kerajaan."
"Aku memang keluarga kerajaan juga seperti mu tapi statusmu jelas tuan putri Obelia jadi sudah sewajarnya aku bersikap sopan kepadamu."
"Tapi aku melarangmu untuk melakukan itu."
Zenith menggeleng. "Tidak, tuan putri. Kalau saya tetap tidak sopan pada anda, banyak yang akan membicarakan saya."
"Siapa yang berani membicarakanmu?! Beritahu aku!" perintah Athanasia.
Zenith diam.
"Zenith, aku mohon ya? Jangan seperti itu, aku merasa jauh sekali darimu kalau kau bersikap seperti itu. Setidaknya saat kita berdua saja, panggil aku seperti biasa ya?" pinta Athanasia.
Zenith ragu dengan permintaan Athanasia tapi karena Athanasia terus bersikeras, akhirnya Zenith mengangguk setuju. "Baiklah."
"Sekarang panggil namaku."
"Athy?"
"Iya Zenith hehe." Zenith terkekeh. Mereka berdua pun tertawa bersama.
Di ruangan Claude.
Claude dan Anastasius sedang mengerjakan dokumen-dokumen istana.
"Claude," panggil Anastasius.
"Ada apa?" tanya Claude tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Claude tidak mengerti maksud dari pertanyaan Anastasius. Felix yang mendengarnya juga bingung dengan pertanyaan Anastasius.
"Kamu menyuruh aku, Penelope, dan Zenith tinggal di istana untuk membicarakan tentang sihir Zenith tapi sampai sekarang kamu belum membicarakannya," sambungnya.
Claude mulai mengerti. "Maaf, aku lupa karena banyak yang harus aku pikirkan."
"Tidak apa-apa, aku juga mengerti. Lalu apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Kita harus mengawasi Zenith."
"Kenapa?"
"Kita tidak tau kapan sihir itu muncul lagi dan menguasai tubuh Zenith. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi lagi, Anastasius."
"Baiklah. Tapi apa itu benar-benar sihir hitam? Kalau itu benar sihir hitam, bagaimana Zenith bisa mendapatkannya?" tanya Anastasius bingung.
"Aku masih menyelidikinya," jawab Claude.
"Sejak kapan kamu menyelidikinya?"
"Sejak aku mengetahuinya dan aku juga telah menyuruh beberapa ksatria untuk mengawasi Zenith. Untungnya tidak ada yang terjadi selama beberapa tahun belakangan ini."
"Oh iya kamu juga bilang kalau masalah ini akan dibicarakan dengan penyihir itu?"
"Entahlah, aku tidak punya waktu untuk menemuinya. Kau saja yang menemuinya."
"Aku?"
"Iya, lagi pula dia adalah anakmu."
"Tapi sepertinya penyihir itu bukanlah orang yang ramah, Claude."
"Memang, dia hanya bersikap baik pada Diana saja. Tapi karena dia cukup berguna jadi aku mengangkatnya menjadi penyihir kerajaan."
"Memang tidak ada yang tidak bersikap baik pada Diana."
"Yang mulia permaisuri sangat disukai oleh semua orang," ucap Felix menambahkan.
"Iya, dia adalah wanita yang baik jadi tidak heran kalau semuanya bersikap baik pada Diana," timpal Claude.
Saat membicarakan Diana, raut wajah Claude tampak sedih. Anastasius pun langsung mengalihkan pembicaraan. "Oh iya Claude."
Claude mulai jengah dengan pembicaraan yang tidak selesai-selesai ini. "Apa lagi Anastasius?"
"Bukankah sebentar lagi putri kita mencapai usia dewasanya? Mereka akan mengadakan debutantenya."
"Ah iya sebentar lagi tuan putri dan nona Zenith berulang tahun," ujar Felix.
"Benarkah? Aku kira mereka masih anak-anak."
"Bagaimana kalau kita memanggil mereka dan membicarakan ini?" usul Anastasius.
"Kau saja. Aku sibuk mengerjakan dokumen-dokumen ini."
"Tidak. Kau harus ikut mendiskusikan ini. Felix panggil Zenith dan Athanasia!" perintah Anastasius.
"Baik, yang mulia."
Di taman.
Athanasia dan Zenith sedang mengobrol.
"Oh iya apa yang kamu lakukan sendirian di sini?" tanya Athanasia.
"Tidak ada, aku hanya sedang bosan. Apakah kamu habis dari menara sihir?"
"Iya, aku baru saja selesai belajar sihir."
__ADS_1
"Athy?! Kenapa ada noda darah di gaunmu?" tanya Zenith terkejut.
Ah iya Athanasia melupakan noda darah di gaunnya ini. "Tidak apa-apa, ini bukan darahku."
"Lalu?"
Athanasia bingung mencari alasan untuk menjawabnya. "I-itu darah Lucas kok, tadi dia tidak sengaja terluka tapi dia baik-baik saja sekarang."
Zenith menghela nafasnya lega. "Syukurlah kalau seperti itu."
Athanasia tersenyum. Untungnya Zenith percaya.
"Oh iya Athy, jadi kapan kamu mau mengajariku sihir? Kau pasti sudah mahir sekarang."
"Nanti ya? Masih ada yang harus aku pelajari lagi."
Zenith cemberut. "Ajari saja aku sihir yang kamu ketahui sekarang."
Aduh bagaimana ini? Lucas bilang kalau sihir tidak boleh diajarkan ke sembarang orang, apalagi aku juga adalah seorang murid tapi apakah Zenith akan menerimanya kalau aku memberitahu yang sebenarnya? Pikir Athanasia.
"Athy, kenapa diam saja?"
"Itu Zenith..."
"Kenapa? Athy tidak mau mengajariku ya? Athy berbohong padaku! Athy bilang akan mengajariku sihir saat kamu sudah bisa nanti tapi sekarang kamu tidak mau mengajariku."
"Bu-bukan begitu Zenith."
Tiba-tiba Felix datang. "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Saya memberi salam pada tuan putri Athanasia."
Untunglah Felix datang. Tapi ada apa Felix datang?
"Ada apa, sir Robane?" tanya Zenith.
"Ah tuan putri dan nona Zenith dipanggil ke ruangan yang mulia sekarang," jawab Felix.
"Aku juga dipanggil?" tanya Zenith.
Felix mengangguk. "Iya, di ruangan yang mulia juga ada tuan Anastasius seperti ada hal penting yang ingin mereka bicarakan pada anda berdua."
"Baiklah kami akan ke sana sekarang. Ayo Zenith." Athanasia menggandeng tangan Zenith dan pergi ke ruangan Claude.
Saat sampai di depan ruangan Claude, para ksatria yang sedang berjaga langsung memberi salam, "Berkat dan kemuliaan di atas matahari empire obelia. Kami memberi salam pada tuan putri Athanasia."
"Aku dan Zenith ingin masuk untuk bertemu dengan ayah dan paman."
"Silakan masuk tuan putri, yang mulia sudah memberi tau kami."
"Ayo kita masuk Zenith." Athanasia dan Zenith masuk ke ruangan Claude.
Athanasia berlari dan memeluk Claude yang sedang bekerja. "Ayah."
"Jangan lari-lari, Athanasia!" peringat Claude.
"Maaf ayah hehe."
"Ada apa ayah memanggilku?" tanya Zenith.
"Aku dan Claude ingin membicarakan acara debutante kalian,".jawab Anastasius.
"Apa yang perlu dibicarakan?" tanya Zenith.
"Di acara debutante nanti, kalian berdua pasti harus datang bersama pasangan masing-masing, kan?"
"Iya, yang aku tau seperti itu dan kita juga akan berdansa bersama pasangan kita itu," jawab Athanasia.
"Jadi siapa pasangan yang akan kalian pilih untuk acara debutante nanti? Apakah kalian sudah memikirkannya?" tanya Anastasius.
Athanasia menggeleng.
"Bagaimana denganmu Zenith?"
"Aku mau tuan muda dari keluarga Alpheus yang menjadi pasanganku, ayah," jawab Zenith malu-malu.
"Tuan muda dari keluarga Alpheus? Maksudmu Ijekiel?" tanya Athanasia.
"Athy kenal dengan tuan muda dari keluarga Alpheus?"
Athanasia mengangguk. "Iya bisa dibilang seperti itu."
Zenith memegang tangan Athanasia. "Athy, tolong bantu aku ya?"
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Kamu adalah tuan putri Obelia, siapapun tidak akan berani menolak permintaanmu jadi tolong minta pada tuan muda Alpheus untuk menjadi pasanganku di acara debutante nanti ya?"
Athanasia ragu tapi Zenith terus memohon. "Aku mohon, Athy."
"Baiklah, tapi aku tidak janji kalau tuan Ijekiel akan menerimanya."
Zenith mengangguk senang. "Iya. Kau sudah membantuku saja itu lebih dari cukup. Terima kasih Athy, kau memang saudari terbaikku."
"Asal kau senang Zenith." Athanasia dan Zenith berpelukan.
"Lalu bagaimana dengan anda tuan putri? Siapa pasangan yang akan anda pilih?" tanya Felix.
"Entahlah," jawab Athanasia.
"Pasti akan sulit menentukan pasangan dansa anda, mengingat anda sangat populer sejak anda masih kecil."
"Ayah, kira-kira siapa yang cocok menjadi pasangan dansaku?"
"Terserah. Tidak akan ada yang berani menolak menjadi pasangan dansamu."
"Bagaimana dengan yang mulia?" usul Felix.
__ADS_1
Dahi Athanasia mengkerut. "Ayah? Tapi bukankah itu hal kekanak-kanakan? Dan ayah juga tidak suka berdansa."
"Kalau anda yang memintanya, yang mulia pasti tidak akan menolak dan itu bukanlah hal kekanak-kanakan, tidak sedikit tuan putri negara lain yang berdansa dengan ayahnya di pesta debutantenya," jelas Felix.
"Kalau begitu, ayah maukah anda menjadi pasangan dansaku nanti?"
Claude diam.
"Ayah jawab!" desak Athanasia.
"Baiklah," jawab Claude.
Mata Athanasia berbinar mendengarnya. "Benarkah?"
"Kalau kau sudah meminta seperti itu mana mungkin aku menolaknya."
Athanasia memeluk Claude. "Terima kasih, ayah."
"Aku harap kau tidak akan menginjak kakiku nanti."
"Tentu, ayah. Nyonya Wendy selalu memujiku. Dia berkata kalau aku sangat pandai dalam berdansa dan katanya aku sangat mirip dengan ibu. Hmm ayah apakah aku semirip itu dengan ibu?"
Claude tertegun. "Nyonya Wendy mengatakan hal omong kosong lagi."
"Ah iya apakah acara kita akan digabung?" tanya Zenith.
"Aku tidak tau," jawab Athanasia.
Felix membantu menjawab pertanyaan Zenith. "Tentu nona Zenith, karena kalian adalah keluarga kerajaan."
"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya. Athy ayo kita pergi keluar untuk mencari gaun," ajak Zenith.
"Baiklah, ayo kita keluar."
Felix langsung menahan kedua gadis itu. "Tunggu tuan putri, anda harus meminta izin kepada yang mulia terlebih dahulu."
"Tidak perlu, aku hanya akan keluar sebentar. Lagi pula ayah tidak akan mengizinkannya."
"Biarkan saya ikut."
"Tidak Felix. Aku ingin berjalan-jalan dengan Zenith saja," tolak Athanasia.
"Tapi berbahaya kalau anda pergi berduaan saja."
"Tidak apa-apa, ada aku yang akan menjaga Athy," ucap Zenith.
"Maaf nona Zenith, bukannya saya tidak mempercayai anda tapi keselamatan tuan putri sangat penting," balas Felix.
Mendengar itu, Zenith menjadi murung. Athanasia pun menyadarinya. "Tentu saja keselamatanmu juga penting Zenith. Paman Anas dan bibi Penelope akan memarahiku jika terjadi sesuatu padamu."
"Siapa yang berani memarahimu Athy? Tentu saja tidak ada. Bahkan ayahmu saja tidak berani memarahimu."
"Bu-bukan seperti itu Zenith. Ayah terlalu menyayangiku. Terkadang aku selalu kena tegur."
"Hanya teguran lembut, kan? Apa kau pernah dimarahi oleh sesuatu yang tidak sengaja kamu lakukan?"
Athanasia terdiam. Dia tau saat ini Zenith sedang marah.
"Sudahlah kalian berdua sama pentingnya dan kalian berdua juga sangat kami sayangi. Pergilah dengan Felix ya?" ucap Anastasius.
"Tidak paman. Aku ingin menghabiskan waktu dengan Zenith," tolak Athanasia.
"Berisik sekali!" gerutu Lucas.
"Tuan Lucas? Sejak kapan anda ada di sana? Saya terkejut melihat anda tiba-tiba ada di sana," ujar Felix.
"Aku sudah di sini dari tadi. Kalian yang tiba-tiba ribut dan mengganggu tidur siangku yang nyenyak," jawab Lucas dari atas pohon.
"Jadi anda mendengar pembicaraan saya dengan Claude tadi?" tanya Anastasius.
"Tidak, sudah dibilang kalau aku sedang tidur tadi dan kalian semua mengganggu tidur siangku," jawab Lucas.
"Bagaimana kalau anda berdua ditemani oleh tuan Lucas?"
Mata Lucas membelalak. "Hah? Apa-apaan ini?!"
"Tolong temani tuan putri dan nona Zenith keluar ya, tuan Lucas?" pinta Felix.
"Tidak tidak. Siapa kau berani menyuruh aku?!" tolak Lucas.
"Saya mohon, tuan Lucas," harap Felix.
"Tidak mau!"
Claude menjatuhkan Lucas dari atas pohon dengan sihirnya.
"Aduh," rintih Lucas.
"Temani Athanasia dan Zenith pergi. Ini perintah!"
"Dasar tukang memerintah orang!" kesal Lucas.
"Aku dengar itu, Lucas," ucap Claude.
"Cepatlah kalau kalian ingin keluar!" ketus Lucas.
Athanasia mengangkat sebelah alisnya. "Cepat apa? Kami sudah siap."
"Oh, kalian tidak berganti baju dulu?"
"Tidak."
"Baiklah. Kemana kalian akan pergi? Kita akan menggunakan sihir teleportasi."
"Ke butik terkenal di Obelia."
__ADS_1
"Baiklah."